banner ad
banner ad

Kalian Semua Suci, Internet Penuh Dosa: Kekerasan Terselubung di Dunia Maya

December 12, 2016

Oleh: Bajik Assora*

 

“Jangan pernah ngeremehin emak-emak berdaster, karena kalo mereka udah dandan, kelar idup lo!”

 

“Selabil-labilnya ABG naik motor, masih labilan emak-emak”

 

Kalimat bertipe font ‘bold Impact’ berwarna putih itu ditempel di foto-foto digital bergambar sosok perempuan paruh baya. Entah menampilkan wajah berlapiskan bedak dan gincu, ataupun tengah mengendarai motor matik. Netizen biasa menyebutnya sebagai meme: sebuah istilah untuk jukstaposisi bernuansa komedik yang tersebar secara viral di internet. Dalam konteks gambar diatas, perempuan (dalam hal ini ibu-ibu paruh baya alias ‘emak-emak’) diobjektifikasi seolah tidak dapat secara mahir mengendarai sepeda motor ataupun kendaraan bermesin lainnya, serta hanya terlihat cantik ketika wajahnya penuh dengan tata rias.

Bagi saya, seorang generasi millenial kelas menengah yang secara 24/7 terpapar oleh derasnya arus informasi berbasis internet, joke yang ditawarkan dalam meme tersebut terasa begitu banal. Ketimbang melepas tawa, lelucon itu tidak ada satupun yang tertangkap di otak; yang ada malah mengernyitkan dahi saya. Lawakan ‘emak-emak dandan’ misalnya; saya tidak mengerti apakah standardisasi kecantikan perempuan melalui berapa banyak kosmetik yang ditimpa ke muka patut untuk ditertawakan. Dan jangan tanyakan lagi soal lelucon ‘emak-emak naik motor’ yang dengan gamblangnya menggunting rata stereotip tentang perempuan dibalik setir kemudi, hanya untuk kemudian ditertawakan begitu saja didepan khalayak maya. Ah, memang segitu sajakah selera humor netizen di Indonesia?

Namun demikian, diluar diskursus selera humor yang jawaban akhirnya tak lebih dari ‘kembali ke diri kita masing-masing’ itu, tersimpan realita gelap tentang dunia maya bernama internet: ia tak ayalnya gang remang-remang sempit penuh berisikan lelaki hidung belang nan mysoginis bagi perempuan. Saya teringat dengan sebuah artikel kesaksian yang dipaparkan oleh Mara Wilson, mantan aktris cilik yang terkenal di dekade akhir 90-an sebagai pemeran karakter titular di film ‘Matilda’. Disitu, Mara menceritakan bagaimana ia di usia 12 tahun mendapati foto-foto pribadinya tersebar di situs pornografi anak (child porn) khusus penggemar foot fetish. Pengalaman tersebut, meski bukan menjadi sorotan utama dalam artikel, menjadi salah satu alasan bagi Mara untuk tidak melanjutkan karier aktingnya. Pikiran saya pun terlintas kembali pada peristiwa di media sosial baru-baru ini, ketika sebuah cuitan protes Janitra Ayu-seorang perempuan yang mengalami catcalling dalam perjalanan ke kantor, dibalas rentetan hinaan yang bernada menyalahkan sang perempuan, hanya karena ia memakai rok mini!

Ya, pada akhirnya internet tetaplah internet: ia masih menjadi hutan rimba raksasa dimana penghuninya merasa menjadi pejantan alpha. Persetan dengan segala common sense dan nalar. Karena di internet, norma yang berlaku hanyalah political correctness yang bisa dengan mudah disetir oleh berbagai kepentingan. Dan di hutan rimba ini, perempuan tidaklah lebih dari objek pemuas nafsu. Sebutkan apapun jenisnya; mau itu amarah, seksual, hingga obsesi kronis macam fetishisme. Tak ayal, berbagai bentuk kekerasan yang telah dijabarkan disini (terutama secara psikis dan verbal) bisa dengan mudah kita temukan di sudut-sudut laman di internet.

Sila cap saya sebagaipolisi moral’ wanna-be, atau caci saya dengan ‘ah, kayak lu gak napsu aja kalo ngeliat cewek!’ Namun tak bisakah kita menghilangkan rabun jauh kita terhadap kekerasan terhadap perempuan di internet? Mengingat untuk setiap anggapan enteng netizen tentang berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan (“ah namanya juga internet, gak usah dibawa ke ati”), ada jalan mulus berkilo-kilo meter bagi kaum mysoginis untuk melanggengkan segala tindak objektifikasi dan penindasan terhadap perempuan. Sedangkan bagi saya, selama masih ada pembenaran kekerasan terselubung itu, rasanya tidak akan ada tempat bagi perempuan untuk melawan kekerasan yang dihadapinya.

*) Penulis menghabiskan hari-harinya menjadi observer dan komentator setia segala tautan youtube dan Kaskus. Hadir di tiap postingan sosial mediamu.

Bookmark and Share

Tags: , , , , ,

Category: 16HAKTP, Artikel, Kolom

Leave a Reply