Review Album Morfem – Sneakerfuzz

Istimewa

Morfem review

Ketika mendengar kata Morfem mungkin untuk mahasiswa jurusan bahasa atau linguistik sudah tidak asing lagi. Morfem adalah suatu bentuk bahasa yang tidak mengandung bagian-bagian yang mirip dengan bentuk lain, baik bunyi maupun maknanya. Namun Morfem yang satu ini adalah sebuah grup band yang digawangi oleh Jimi Multhazam, Pandu Fuzztoni, Freddie Warnerin, dan Yusak Anugrah dengan mengusung aliran Fuzz Rock. Band-band seperti Nirvana, Mudhoney, The Velvet Underground, Weezer, Sonic Youth, The Stone Roses menjadi influences dalam bermusik mereka.

Morfem sudah merilis dua full album (Indonesia & Hey Makan Tuh Gitar) dan satu mini album EP (Sneakerfuzz).  Pada kesempatan kali ini saya akan mereview tentang mini album Sneakerfuzz yang baru saja dirilis pada tahun lalu. Pada album ini Morfem berkolaborasi dengan Converse yang di produseri oleh Joseph Saryuf dari label Sinjitos Records.

Terdapat 6 lagu yaitu Kubikal Rock, Planet Berbeda, Tak Punya Ketakutan, Tiba-Tiba Terjadi, Jam 3 Di Bundaran, dan Rayakan Pemenang.

Single pertama yang dijagokan pada album ini adalah Rayakan Pemenang, lagu ini bertemakan tentang sebuah pertemanan yang mungkin pada setiap harinya dihabiskan bersama teman-teman terdekat tanpa kenal waktu, sampai suatu saat salah satu teman dari mereka harus pergi untuk ke negara lain entah perihal prestasi atau pekerjaan, dan ketika suatu saat kembali pulang, sang teman tersebut akan dirayakan layaknya sebagai seorang pemenang.  Namun menurut situs https://morfemband.wordpress.com/ pada awalnya lagu ini kurang dijagokan oleh Pandu Fuzztoni untuk menjadi single pertama. Menurut saya lagu ini adalah lagu yang paling paling juara pada album ini. Lagu yang simpel dipadukan dengan lirik penuh makna membuat saya jatuh hati pada lagu ini, keterampilan Jimi Multhazam dalam membuat sebuah lirik sudah tidak diragukan lagi.

Lalu pada lagu Planet Berbeda bercerita tentang kisah cinta sepasang kekasih yang berbeda umur. Dalam lagu ini pasangan kekasih tersebut mempunyai perbedaan selera dalam beberapa hal misalnya pada bagian lirik “aku memilih Bob Dylan sedang dia Mumford and Sons” lalu pada bagian “dia pembaca karya Hirata sedangkan ku penggila teguh esa”. Namun  perbedaan tersebut tidak menjadi halangan mereka dalam menjalin dalam sebuah hubungan.

Selain itu ada juga lagu yang bernuansa Harcore pada lagu Jam 3 Pagi Di Bundaran, Tak Punya Ketakutan dan Kubikal Rock, tempo yang up beat, perpindahahan chord yang cepat dan ketukan drum yang begitu enerjik tersaji pada lagu-lagu tersebut. Pada lagu Kubikal Rock mendeskripsikan tentang kejenuhan sehari-hari yang itu-itu saja, dan ketika berada di akhir pekan menjadi yang ditunggu-tunggu untuk meluapkan penat yang ada. Lalu pada solo gitar pada lagu Tak Punya Ketakutan menurut saya solo gitar yang paling ciamik di antara lagu lain pada album ini, sound Fuzz dengan gain yang overdosis dipadukan dengan whammy bar yang membuat bergoyang-goyang di gendang telinga anda. Lalu yang terakhir adalah lagu Tiba-Tiba Terjadi, bercerita tentang bagaimana realita dan ekspetasi kadang-kadang berbeda jauh contohnya pada bagian lirik “harapan dan selera selisih jalan”.

Yang “mini” terkadang tak selalu memuakan tapi “mini” album yang satu ini dapat memberikan sebuah sajian rock yang langka bagi para penikmat musik rock. Dari segi musik, sound, dan lirik ditampik secara apik didalam album ini, semoga dapat menjadi referensi / influence dalam bermusik anda.

 

*Penulis adalah mahasiswa sastra Prancis UPI. Karya tulisnya bisa dilihat di blog pribadinya ruangbising1.blogspot.com. Beliau bisa digapai melalui alamat email berikut ini normanramadhan3@gmail.com