Mengancam Golput, Menebar Ketakutan

Maraknya caci maki dan ancaman terhadap golput belakangan ini menandakan satu hal: banyak yang panik atas merebaknya animo golput di tengah masyarakat.
(Liputan 6/Sorge Visual)

Mereka yang hari-hari ini #SmackQueenYaQueen untuk bergabung dalam barisan Golput seperti tak kunjung usai mendapat serangan bertubi. Varietas serangan ini macam-macam wujudnya. Setelah hoax jerat pidana dengan tegas dibantah disini dan disini, ada yang secara halus “mengingatkan” bahwa biarpun golput adalah hak politik, anda diharapkan untuk segera insaf bahwa demokrasi elektoral itu semata-mata diselenggarakan guna mencegah yang buruk berkuasa. Tapi ada pula yang terang-terangan pasang nada mengancam bahwa jika gerakan “progresif” saat ini tidak kompak atawa bersatu mendukung salah satu calon, maka sudah pasti rezim kejam Orde Baru akan kembali berkuasa.

Baik cara “sekadar mengingatkan” maupun cara yang menyajikan ancaman sebetulnya punya kemiripan pola pikir. Keduanya mengasumsikan bahwa di pemilihan umum 2019 ini, paling tidak kita harus memilih calon yang dianggap lebih sedikit memiliki keburukan. Dengan kata lain, sedari awal mereka sudah tanpa malu mengakui bahwa calon yang mereka dukung pada dasarnya buruk, namun mencoba menghibur diri sendiri dengan mengatakan bahwa ada yang jauh lebih parah. Semacam kelegaan murid SD yang dapat nilai ujian 4.5 lantaran mengetahui teman sebangkunya mendapat nilai 4.

Dengan kata lain, cara berpikir yang jamak disebut sebagai logika “lesser evil” ini adalah upaya untuk menutupi bahwa kedua calon tersebut sama-sama punya predikat buruk (dalam kasus anak SD tadi, tentu keduanya dianggap tidak lulus ujian). Terlebih, ada yang sangat bermasalah dalam sistem politik kita hingga menyebabkan hanya dua pilihan buruk itulah yang muncul. Banyak yang mengeluhkan hal ini namun enggan atau tak tahu cara untuk mengkoreksinya. Dan masalah mendasar tersebut tentu tak akan bisa dengan ajaib terselesaikan oleh mantra yang diulang-ulang saban pemilu: coblos aja dulu, nanti kalau gak puas ya tinggal pilih yang lain lima tahun lagi. Hidup jalan terus. Inilah realita. Telan saja. Pilih calon X. Jangan cengeng.

Dalam dua pola serangan terhadap golput tadi, secara langsung atau tidak, ada unsur menakut-nakuti dengan membawa kemunculan kembali Orde Baru beserta segenap horornya. Cara ini mungkin bisa disamakan dengan laku seorang pemeras atau tukang ancam, dengan tujuan agar para pemilih ragu dengan pilihan Golput-nya. Seorang tukang peras biasanya menyodorkan pilihan yang sama-sama sulit bagi korbannya. Contoh mudahnya adalah saat anda diperas di pinggir jalan oleh seseorang yang menghunus belati sambil melontarkan kalimat klise: harta atau nyawa? Anda tahu kedua pilihan tersebut buruk, karena anda tetap akan kehilangan sesuatu jika memilih salah satu. Namun kita seolah dipaksa oleh keadaan untuk memilih yang tidak terlalu buruk, yaitu kehilangan harta, demi nyawa tak melayang.

Tentu di satu sisi, memilih untuk memberikan harta merupakan pilihan paling bijak. Namun jika pemerasan itu terjadi terus menerus kepada banyak orang, kita patut, bahkan wajib untuk mempertanyakan dan menuntut sistem keamanan lingkungan yang lebih berkualitas. Atau lebih jauh lagi, dengan berusaha sekuat tenaga mengorganisir para korban dan masyarakat lain untuk mempertahankan diri dari si penodong – tentu dengan segala resikonya. Terutama jika anda tahu persis bahwa apapun pilihan anda – baik menyerahkan harta atau nyawa – sang penjahat tetap akan bebas berkeliaran di luar sana entah sampai kapan.

Efek samping dari praktek memilih lesser evil atau pragmatic voting – itupun kalau siapa yang jadi lesser evil dapat dibuktikan dengan meyakinkan – ini kian nampak semenjak pemerintahan Donald Trump, tokoh yang sekarang jadi contoh andalan para penyerang golput dalam menakut-nakuti calon pemilih. Baru-baru ini, Lou Dobbs, host Fox Business News dan seorang konservatif garis keras, menyebut George W. Bush sebagai seorang liberal. Betul, anda tidak salah baca; liberal. Hal ini sebetulnya tidak mengherankan. Mengacu pada popularitas baru dirinya sejak Trump memerintah, jika pemilu dadakan hari ini digelar di Amerika Serikat dan Bush didaulat menghadapi Trump, tentu banyak jajaran elit, akademisi dan media yang bakal menyematkan titel “the lesser evil” padanya. Kelanjutannya bisa ditebak, mereka akan memaksa pemilih yang “waras” untuk mencoblos Bush – penjahat perang yang bertanggung jawab atas kematian ratusan ribu orang – demi mengalahkan Trump.

Apa yang bisa kita simpulkan? Pragmatic voting terus menerus pada akhirnya hanya mengantar kita pada degradasi kualitas calon. Kita terus digiring untuk memilih opsi lesser evil, padahal “lesser evil” itu sendiri adalah label yang tidak pernah dan tidak mungkin ajeg. Dalam kondisi dimana iklim perpolitikan terus terperosok ke kanan, maka bukan tidak mungkin tahun depan lesser evil-nya adalah orang yang justru kita anggap sebagai perwujudan setan hari ini. Walhasil, efek mencoblos lesser evil adalah sensasi partisipasi semu yang adiktif – kita merasa sudah berbuat sesuatu yang signifikan, sementara pembusukan politik itu sendiri tidak pernah kita konfrontir.

Lagi-lagi Oligarki

Dalam demokrasi representasi di Indonesia, penyebab utama pembusukan politik adalah bercokolnya kuasa kaum oligark: para elit bermodal besar yang menguasai partai politik, media dan berbagai bisnis serta giat menunggangi politik demi menambah pundi-pundi harta. Merekalah yang paling bertanggungjawab saat Pemilu 2019 akhirnya kembali menyediakan pasangan calon Presiden yang itu-itu lagi, seraya menjauhkan politik dari marwah utamanya – kepentingan publik. Lima tahun sekali, rakyat ditugaskan – dan diancam – agar patuh berbaris masuk ke kotak suara untuk memilih calon pasangan yang sudah ditentukan sebelumnya.  Di mata para oligark, publik luas tak lebih dari konsumen politik musiman, kantong suara sekali pakai yang dibutuhkan cuma saat jelang Pemilu.

Pemilu 2019 juga memperlihatkan gagalnya partai politik dalam menyediakan kandidat mumpuni untuk dipilih. Parpol hanya bertujuan memilih kandidat yang kelihatannya bakal paling banyak dipilih khalayak, mahir mengoperasikan media sosial dan sanggup berbaur dengan “milenial”. Perihal apakah kandidat tersebut berintegritas, punya komitmen HAM, pro-lingkungan hidup, mengutamakan kepentingan orang banyak, atau memiliki nilai-nilai keutamaan lainnya, tidak dipedulikan. Namun rakyat terus belajar dan lambat laun memahami; bahwa tanpa keadilan, negara dapat sewenang-wenang menghilangkan nyawa dan merampas tanah. Bahwa tanpa kejujuran, penguasa-pengusaha dapat kongkalikong mengeruk harta negara yang dikumpulkan dari hasil keringat rakyat banyak. Disinilah demokrasi tumbuh; saat warga makin kencang menuntut agar calon pemimpin terbaik dihadirkan.

Karena itu, memakai cara tukang peras dan memaksa pemilih mencoblos salah satu pasangan calon yang juga punya track record buruk tidak bakal mempan dipakai terus menerus. Jika betul kepentingan yang dibawanya adalah kepentingan orang banyak, cara tukang peras seharusnya tidak dipakai. Tim pendukung Joko Widodo – Ma’ruf Amin yang paling getol menyerang golput ini mestinya lebih militan dalam mendorong tercapainya janji-janji Presiden selama hampir lima tahun berkuasa daripada sibuk menyalahkan dan memeras kiri-kanan. Terlebih mereka harusnya paham kalau yang hari-hari ini lantang teriak golput adalah para pemilih Jokowi di Pilpres 2014 yang kecewa dengan rupa-rupa kebijakan petahana. Bukannya merangkul para eks-pendukung yang berjasa mengantarkan junjungannya naik tahta lima tahun lalu, malah caci-maki dan ancaman yang dikemukakan. Selain karena keangkuhan yang luar biasa, nampaknya cara tukang peras sengaja dipilih karena tim kampanye sadar tak ada hal baik yang dapat dibanggakan dari calonnya untuk menarik pemilih baru. Sebab di balik segala ancaman, ada jejak kegagalan – di diri penguasa dan diri mereka – yang sukar dibantah.

Gampangnya begini: andaikata anda memiliki pasangan yang sudah berjanji bakal segera menikahi anda. Sayang seribu sayang, suatu hari anda mendapati pasangan anda tak kunjung memenuhi janjinya dan malah main serong dengan orang lain. Tambah lagi saat anda mengutarakan kekecewaan dan hendak mengakhiri hubungan, pasangan anda tak kunjung melakukan perbaikan. Parahnya, ia dan teman-temannya malah mengancam bahwa jika anda pisah darinya, sudah pasti diri anda akan mendapatkan pasangan yang jauh lebih buruk. Dalam hal ini, memakai cara tukang peras dalam pemilu membuktikan bahwa hubungan antara elit dan pemilih layaknya hubungan yang penuh perundungan (abusive­).

Justru karena kondisi demikianlah animo warga untuk bergabung dalam barisan Golput makin tinggi. Bagus. Tentunya ini menggusarkan, baik bagi mereka yang berkuasa maupun mereka yang menggantungkan pundi-pundinya pada skema politik oligarkis. Bagi para penguasa, golput menjelma ketakutan terbesar mereka: kehilangan kekuasaan.

Dampak ketakutan ini beraneka ragam. Mulanya hanya beberapa pihak yang melontarkan kritik dan kecaman di media sosial dengan segala predikat tersebut: Pengecut, Haram, Putus Asa, Naif. Lantas ada Budiman Sudjatmiko yang histeris berbusa-busa mengajak pemilih untuk berada di sisi pemimpin “progresif” dan ramai-ramai menghalau fasisme, seolah beliau tiba-tiba terjangkit amnesia ala sinetron dan lupa kalau dirinya sendiri pernah jadi anggota tim sukses si fasis saat ia maju sebagai Cawapres 10 tahun silam. Selain fenomena hilang ingatan, ada juga yang tiba-tiba ‘menyadari’ tugasnya, seperti seorang anggota DPR yang sudah dilantik sejak sepuluh bulan lalu tiba-tiba mengajukan surat agar DPR mendesak presiden mengurus kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Kemanapun arah serangan kepada golput bergulir, para pemilih dan pendukung golput baiknya selalu waspada. Sebab jika inisiatif ini dianggap makin mengancam, layaknya seekor binatang buas yang terpojok, bakal macam-macam cara yang akan dipakai penguasa untuk menghentikan momentumnya. Pelabelan Golput sebagai “ancaman faktual” di bidang politik dalam Inpres No. 7/2018 tentang Rencana Aksi Nasional Bela Negara 2018-2019 sedikit banyak sudah dapat menggambarkan ketakutan (dan paranoia) penguasa terhadap potensi merebaknya golput di tengah masyarakat.

Namun toh julukan pengecut dan putus asa yang disematkan fans penguasa/oposisi pada mereka yang golput sesungguhnya menunjukkan betapa gagalnya sebagian orang dalam memahami kenapa gerakan ini perlu untuk dimunculkan kembali. Ketika tujuan golput adalah untuk mengoreksi sistem politik yang dikangkangi para oligark yang tutup mata atas masalah HAM, yang ciut dalam memberantas korupsi, yang mengorbankan rakyat banyak, maka golput justru merupakan laku keberanian. Baik keberanian untuk memotong lingkaran setan politik oligarkis, maupun keberanian untuk bermimpi bahwa kondisi politik yang menjemukan dan merendahkan akal budi ini bisa diganti, selama kita menghendakinya. Singkat kata, keberanian untuk berkata: cukup sudah!

Justru sebaliknya, mereka yang terus menerus bersandar pada sistem politik busuk, mencium kaki para elit anti-demokrasi, menghamba pada partai korup dan rela bersanding dengan penjahat HAM adalah sekerdil-kerdilnya orang-orang pengecut dan putus asa. Mereka tidak berani berharap banyak untuk masa depan, karena itu lagi-lagi mereka akan mengikhlaskan diri untuk dirampok di pinggir jalan. Oligarki mungkin akan terus memelihara mereka selama mereka masih berguna, tapi masa depan dan seluruh kemungkinannya akan melaju terus, menjauh dari sempitnya pandangan mata dan gersangnya imajinasi mereka.