Berkaca Lewat Jagal

Salah satu poster publikasi acara yang kami buat.
Istimewa

Sebuah Laporan dari Pemutaran Film dan Diskusi “Jagal”, 8 Desember 2012

Salah satu poster publikasi acara yang kami buat.

Jagal itu bernama Anwar Congo. Kurus, berkulit legam dibalut kemeja santai, tengah memberi makan sekawanan itik bersama kedua cucunya. Tak sengaja ia dapati seekor itik yang luka di kakinya. Rupa-rupanya karena bekas dijahili si cucu. Dengan lembut ia nasihati cucunya, menyuruh mereka mengelus-elus kepala si unggas malang “Ayo bilang “maaf ya itik aku ga sengaja” “. Si cucu menurut – mengulang perkataannya. “Maaf ya itik, aku ga sengaja, aku takut, makanya aku pukul”. Lalu cut. Gambar berpindah ke Anwar bersama 2 kawannya sedang berkeliling Medan. Dengan nostalgik mereka tunjukkan lokasi-lokasi pembunuhan massal rasial pasca G30S di penjuru kota. Kawan lama Anwar, Adi, bercerita saat ia membantai calon mertua yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan.  “Kebetulan Cina juga! kutikam saja..masuk ke parit, kasih batu bata, tenggelem”. Anwar berseri-seri.

 Siapa orang-orang ini? Sekedar psikopat? Preman kelas teri yang kebetulan dilibatkan dalam situasi terkelam Indonesia?

Pertanyaan-pertanyaan ini menggelayut di benak penonton pada “Pemutaran Film dan Diskusi: Jagal (The Act Of Killing)”, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Sabtu, 8 Desember kemarin. Sebuah acara pemutaran film dokumenter yang berkisah mengenai para algojo pembantaian PKI pasca G-30-S di Medan karya Joshua Oppenheimer.

Bahkan sebelum film dimulai, mereka yang hadir (atau yang baru tahu usai acara) mungkin segera bertanya-tanya. Mana publikasinya? Copy film yang Sorge Magazine dapat dari Final Cut For Real memang mengimbau cukup jelas: Mohon berhati-hati dalam publikasi. Siapa yang telah mengikuti “perjalanan” film ini mungkin tahu muatan kontroversial didalamnya. Selain isu pembantaian massal PKI, Pemuda Pancasila, Ormas paramiliter loreng-loreng yang suka masuk berita (sebagian besar bukan berita bagus), turut ditelanjangi habis di “Jagal”. Kemungkinan masalah selalu ada. Terlebih saat memantau linimasa twitter, saat itu (awal Desember) baru Fisip UGM yang memutar film ini secara terbuka. Sisanya pemutaran tertutup yang tidak diwartakan di media sosial.

Setelah berdiskusi dan menimbang berbagai hal, akhirnya kami putuskan acara diadakan terbuka. Meski publikasi tidak akan jor-joran, dan penonton mesti daftar via email. Alhasil, selain mengontak kawan-kawan dekat, 3 poster di media sosial dan web kami rasa sudah cukup, itupun sengaja baru rilis pada H-3 penyelenggaraan.

Sebelum pemutaran dimulai

Publikasi acara yang mepet dan terbatas membuat kami cukup kaget ketika penonton yang datang mencapai 50 orang lebih. Mungkin hype “Jagal/The Act Of Killing” yang menjadi pendorong utama,. Selain pemutaran di Toronto International Film Festival dan liputannya di berbagai media nasional, banyak review yang memuji pendekatan film, dan tentu kengerian kisah para algojo yang disorot. Guardian, harian Inggris, sedikit bercanda dalam resensi 5 bintang-nya dengan mengutip komentar Werner Herzog, filmmaker veteran Jerman sekaligus produser “Jagal”: “Kalau Werner Herzog sudah bilang kalau film ini adalah salah satu yang paling mengerikan di dekade ini, maka anda mesti bersiap-siap”.

Film dimulai. Pertama-tama, “Jagal” bukanlah film yang “mudah disimak”. Selama 159 menit durasinya, meski menyangkut sejarah, ia bukan kompilasi footages hitam-putih dan wawancara beralur lempeng ala dokumenter TV. Untuk memperkuat fokus kepada profil pelaku pembantaian, Joshua Oppenheimer menempuh jalan memutar dengan mengajak para “aktor” merekonstruksi sendiri aksi pembantaian mereka. Anwar, tokoh Pemuda Pancasila, bekas preman bioskop dan pecinta film, menerimanya dengan antusias. Terciptalah setting film-dalam-film yang tak mudah ditebak. Dalam film berjudul “Arsan & Aminah” tersebut, satu saat bisa muncul adegan interogasi ala gangster yang berakhir dengan pemeran “korban” yang dicekik kawat. Lain waktu hadir adegan ala sinetron Indosiar berkostum ngejreng di air terjun. Sureal.

Adegan di film Jagal

Namun dibalik itu semua, kita harus berhadapan dengan kesadisan verbal yang terjadi di sepanjang film. Semua testimoni pembunuhan “Jagal” disampaikan tanpa beban layaknya obrolan di warung rokok. Disini Joshua berhasil masuk ke ruang privat para pembantai lalu menggali tiap detail mengerikan dari mereka. Pengakuan demi pengakuan mencengangkan mengalir deras.  Kita kaget, muak, dan tak percaya sekaligus. Adegan yang sulit dilupakan mungkin saat Anwar memeragakan cara membunuh dengan kawat didepan kamera. Beres peragaan, masih di lokasi yang sama, ia gambarkan “pemanasan” sebelum pembantaian, “Sedikit mariyuana..ekstasi, kita pun happy”. Ia berdansa cha-cha. Kawat untuk peragaan sebelumnya terlihat masih nyantol di lehernya…

 Impunitas Sang “Free-man” dan Pelestarian Kekerasan

“Joshua tidak membuat biografi Anwar Congo, ia menempatkan dia sebagai sebuah produk dari sistem” kata Dan Satriana, pembicara diskusi usai pemutaran film.  Jelas kurang tepat jika menempatkan “Jagal” dalam analisa individual Anwar Cs belaka. Pertama, ia didukung oleh lingkungan sosial politik dimana ia beraksi. Ketua Umum Pemuda Pancasila, Yapto Soerjosoemarno (yang berkomentar, “lebih baik orde baru” sambil bercanda cabul dengan caddy golf) menyebut mereka pahlawan dalam pidatonya didepan ribuan massa PP. Gubernur Sumatera Utara saat itu, Syamsul Arifin menyambut Anwar sebagai “teman sepermainan lama”. Jusuf Kalla, saat itu masih Wapres, mendukung “preman” sebagai bentuk kontribusi “orang diluar pemerintah”. Hampir semua tokoh politik nasional dalam “Jagal” merestui keberadaan “preman” melalui jargon “free-man” yang diulang-ulang di tiap kesempatan, mensterilkannya dari laku pembunuhan masa lalu dan kekerasan hari ini.

Budi Rajab dan Dan Satriana

Pembicara lain, Budi Rajab, membahas satu pertanyaan penting hadirin:  Mengapa di Indonesia tiap pergantian kekuasaan selalu meminta korban? “Pembunuhan itu bukan insting, tapi dikonstruksi, dipelajari” jelasnya. Implikasinya bisa mengkhawatirkan. Anwar dan ribuan jagal lain memang hanya perkakas politik pada saat-saat chaos itu. Yang mengerikan adalah potensi kebrutalan yang selalu dirawat dalam bawah sadar masyarakat. Indonesia bagai bom waktu yang menunggu situasi politik tertentu. Sepintas tentram, namun saat “tombol” itu ditekan, tunjuk satu “sasaran”, dan ribuan Anwar baru bisa muncul di jalan-jalan. Membantai mereka yang dicap “pemecah kesatuan bangsa”, “neo-komunis”, atau langganan hari-hari ini: “kafir”. “Penguasa malu-malu kucing dengan demokrasi” kata Budi Rajab diakhir diskusi.

Ending film Anwar Cs bersetting air terjun, berlatar musik lawas “Born Free”, dikisahkan para korban pembantaian secara dramatis berterimakasih kepada Anwar: berkat eksekusinya mereka bisa masuk surga. Sebuah pembenaran pamungkas terhadap pembantaian. Anwar dan kawan-kawannya sendiri digambarkan “Jagal” menempuh perjalanan yang berbeda-beda. Adi tetap santai. Ia mengakui kekejamannya, namun tak merasakan takut, apalagi sesal. “Saya pemenang, saya yang akan bikin definisi kejahatan perang”. Tuturnya mantap. Saat “rekaan” dan nyata mulai baur, Anwar jelas makin goyah dari kenyamanannya selama ini, bayang-bayang kekejaman datang menghantui tiap kali rekonstruksi. Pada satu momen kunci ia menangis. Kita melihatnya berusaha untuk muntah – mungkin untuk melegakan perasaannya. Ia gagal. Yang keluar malah suara tercekik. Suara yang membuat ngilu.

Dokumenter kompleks Joshua Oppenheimer dengan terampil berusaha menunjukkan bahwa kekejaman bisa muncul tiba-tiba, amat dekat dengan kita. Mungkin ia berakhir tanpa memberikan kenyamanan jawaban. Lebih berupa serangkaian pertanyaan mengganggu tapi teramat penting. Tentang politik negara yang merangkul para pembunuh sebagai pahlawan dan menjadikannya instrumen kekuasaan. Tentang organisasi paramiliter yang sampai hari ini masih nyaman merayakan premanisme. Tentang masyarakat kita yang melestarikan kekerasan. Pertanyaan yang mendesak untuk kita jawab segera.

Video diskusi 1-2-3 dapat dilihat di:

Video diskusi 1 (Budi Rajab)

Video diskusi 2 (Dan Satriana)

Video diskusi 3 (Sesi tanya jawab)