Membedah “Di Udara”

Bagi generasi masa kini (Abad 21), mendengarkan lagu "Di Udara" karya Efek Rumah Kaca, adalah awal untuk membayangkan sosok Munir Said Thalib.

Dalam buku “Semiotik & Dinamika Sosial Budaya”, Benny H. Hoed menulis “Mendengarkan sebuah lagu serupa juga dengan melihat sebuah “tonggak” yang berkaitan dengan suatu peristiwa atau seseorang (object)”. Bagi generasi masa kini (Abad 21), mendengarkan lagu “Di Udara” karya Efek Rumah Kaca, adalah awal untuk membayangkan sosok Munir Said Thalib.

Dalam diskusi “Bedah Lirik Di Udara #14TahunMunir” di Kios Ojo Keos, Jakarta (5/9). Cholil Mahmud, vokalis merangkap gitaris di Efek Rumah Kaca, menceritakan bagaimana latar belakang ia menulis lagu “Di Udara”. Cholil mengakui ia tidak terlalu mengenal sosok Munir pada awalnya. “Saya mengetahui sepak terjang Munir melalui surat kabar di era reformasi” ujarnya. Pasca Munir dibunuh pada 7 September 2004, ia datang ke pemutaran film “Garuda’s Deadly Upgrade“, film dokumenter yang menceritakan tentang kasus pembunuhan Munir. Setelah menonton film tersebut, timbul keinginan Cholil untuk menyebarkan semangat Munir melalui media pop.

Mengapa judulnya “Di Udara”? Bagaimana strategi penyebaran lagunya? simak penuturan Cholil Mahmud dalam video ‘Membedah “Di Udara”.