Volume 3: Mirza Fahmi (Sorge Magazine) dalam Diskusi “Bagaimana Kita Menyikapi Golput?”

Pembahasan Mirza Fahmi (Sorge Magazine) dimulai dari kilas balik fenomena Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Mirza menilai, saat itu ada kekeliruan fundamental dalam melihat dua calon, yaitu Jokowi dan Prabowo.

Pertama adalah personalisasi capres, Prabowo yang dianggap wabah, dan Jokowi yang dianggap menjadi obatnya. Cara melihat ini bermasalah karena dalam sistem politik Indonesia saat ini, tidak bisa melihat capres sebagai figur atau “person”, tapi harus dilihat sebagai kubu/gerbong. Konsekuensi melihat capres sebagai gerbong adalah kedua capres memiliki corak oligarkis. Masalah selanjutnya, yang dominan di 2014 adalah cara memandang capres sebagai figur, sehingga wacana corak oligarkis dalam kedua calon tenggelam. Fenomena Pilpres 2014 juga mengakibatkan kelompok masyarakat sipil terfragmentasi, karena ramai-ramai memberikan dukungan kepada kedua belah calon, ditambah lagi mereka seakan menjadi timses di akar rumput. Dukungan ini berlanjut dengan beberapa tokoh dari kelompok masyarakat sipil mencoba masuk ke dalam sistem, mencoba bertarung dalam sistem. Mereka yang di dalam sistem, dalam perkembangannya, justru bukannya mempertajam antagonisme antara masyarakat sipil dengan kekuasaan, tapi justru memoderasi, bahkan memoderasi kritik. Menurut Mirza, jelas cara itu (masuk dalam sistem) telah gagal.

Bagaimana dengan ide Golput? Jika Golput diusahakan sebagai ekspresi individual atas kekecewaan terhadap sistem, maka golput hanya menjadi teriakan di ruang hampa. Menurutnya, golput harus menjadi pijakan/tolakan bagi sebuah ekspresi politik alternatif. Golput juga sebagai sarana koreksi terhadap sistem politik saat ini, yang hanya mampu menghasilkan dua calon dengan corak oligarkis.