Its not work, its pleasure!

Istimewa

 

diambil dari: thesartorialist.com

Sutradara: Richard Press

Genre: Documentary

Durasi: 84 menit

Zeitgeist Films

 

Perkenalkan Bill Cunningham. Sekilas melihat dia dan sepeda gaeknya di jalanan New York, kita boleh mengira ia adalah sejenis loper koran veteran. Sampai Bill memarkir sepedanya di perempatan padat. Dan mulai memotret candid orang-orang yang lalu-lalang. Pakaian yang ia anggap unik, elegan. Sepatu yang tidak biasa. Padu-padan yang berani. Fotografer fashion gerilya? Sekarang, setiap orang dengan pocket camera dan akun tumblr mestinya sudah bisa melakukan itu. Bill Cunningham New York adalah film dokumenter yang bergerak dari pesan yang jauh lebih sederhana: seseorang yang hidup sambil mengerjakan apa yang disukainya.

Saat film dimulai, Bill Cunningham – kini menjelang usia 80 tahun – sibuk menjalani rutinitasnya: mengambil foto untuk kolom lifestylenya di New York Times, dan bersiap-siap pindah dari kediamannya berpuluh tahun di Carnegie Hall. Gedung tua itu praktis kini hanya ditempati 2 orang termasuk Bill, dan berniat untuk dialihfungsikan menjadi gedung perkantoran. Kamarnya – selain dipan sederhana – hanya berisikan lemari-lemari besi, tempat semua negatif foto yang pernah dia ambil selama kariernya.

Benar kata kritikus Roger Ebert, menonton Bill Cunningham New York, seakan menyaksikan gaya hidup yang biasanya Cuma dijumpai dalam karya Thoreau seperti Walden – saya baca itu, malah lapar dan terus makan besar – yang menolak kemewahan, konsumsi secukupnya (agak mirip pertapa) dan melakukan yang dicintai.

“Siapa yang butuh dapur?” ujar Bill saat melihat-lihat calon apartemen barunya. Ia menolak dibayar untuk sejumlah kontribusi foto-fotonya di Women’s Wear Daily, Vogue, dan Details. Cek yang ia dapat seringkali secara demonstratif ia robek didepan editornya. “Uang itu murah, kebebasan yang paling mahal” ujarnya sambil nyengir. Bagi yang kost, jangan nonton ini dikala paceklik. Niscaya akan kesal dengar statement-statement begini tersebar dipenjuru film.

Jika ia rasa sudah beres dengan aksi candidnya di jalanan, di malam hari Bill yang berjaket lusuh dan bersepeda adalah salah satu yang paling dinanti di tiap perhelatan sosialita New York. Kode etik Bill tegas di tiap pesta: tidak akan mencicipi sedikitpun makanan dan minuman yang disuguhkan. Ia merasa itu akan mengganggu independensinya sebagai fotografer.

Dan Bill, dengan gayanya sendiri, sungguh terkenal, di pesta-pesta orang membuka jalan untuknya. Mampet di antrian, pemilik gedungnya datang langsung jemput dia. “Kita semua berpakaian untuk Bill” Ujar Anna Wintour dari Vogue. Satu jepretan foto, dan anda akan terpampang di kolom New York Times. Standar Bill cukup tinggi, “Penampilan yang individual, berani berbeda yang menarik saya”. Terkadang ia enggan memotret sekalipun di satu fashion show Christian Dior (karena desainnya ia anggap tidak orisinil) dan malah asyik memotret seorang wanita tua berpakaian “mencolok mata”.

Kita lalu bertanya, mengapa fashion? Ada kontradiksi antara kesederhanaan radikal Bill dan dunia fashion, yang kerap identik dengan kemewahan. Dan kita tahu konteksnya saat itu, krisis finansial Amerika Serikat tak kunjung usai. Di film ini krisis secara halus disinggung. Bill menjelaskan bahwa pada dasarnya dia bukan fotografer fashion konvensional. Ia adalah fotografer “orang” dan “pakaian”nya. Dan orang-orang, menurut Bill, selalu butuh “pakaian”, “fashion”  sebagai “perisai untuk bertahan hidup dalam situasi sulit di keseharian”.

Saya tidak akan lebih lanjut menjelaskan, karena sejumlah jawaban cemerlang Bill lebih baik disaksikan langsung. Wawancara  yang kuat memang keunggulan film ini. Banyak momen-momen brilian hadir disini. Tengok saja wawancara soal keyakinan agamanya. Sungguh tak terduga. Dan Bill memang subjek yang nampaknya amat menyenangkan untuk diwawancarai. Ketika ia juga ditanya mengenai hidupnya yang rada “seret” wanita. “Apa kamu mau nanya kalau saya ini gay?” Katanya sambil terbahak.

Perayaan ulang tahunnya ke 80, bisa ditebak, berlangsung sederhana. Hanya surprise party yang agak kurang niat, bedanya ia dihadiri langsung oleh bos-bos New York Times. Saya mulai sadar sejak bagian ini, bahwa Bill Cunningham senang sekali tertawa. Tiap beres bicara, tertawa, tiap memotret, tertawa. Saya sih tertawa saat di pemberian penghargaan atas dedikasinya di Paris, ia – dengan jaket biru khas – malah memotret para tamu undangan. Seakan masih dikejar deadline. Disini ada yang sependapat dengan saya:  “Saya rasa lucu” cetus seorang tamu “kok, kamu kerja di pestamu sendiri?”.“My dear, its not work, its pleasure” kata Bill enteng. “kamu kira saya mau ketinggalan foto-foto bagus?” dan dia tertawa lagi.