Film Review: This Changes Everything

This Changes Everything
2015
Sutradara: Avi Lewis
Screenplay: Naomi Klein
Produser: Avi Lewis, Joslyn Barnes

Terkenal dengan bukunya yang mengkritisi tata kapitalisme global seperti The Shock Doctrine dan No Logo, Naomi Klein pada 2014 lalu mengeluarkan buku This Changes Everything, yang lebih fokus membahas tentang perubahan iklim akibat sistem ekonomi dunia sekarang. Pada tahun 2015, ia yang lebih dikenal sebagai aktivis sosial dan jurnalis itu mengadaptasi bukunya ke dalam bentuk film yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan bumi sejak dahulu hingga sekarang. Dalam film itu ia juga menarasikan beberapa pendapat para ilmuwan tentang hubungan manusia sebagai ahli waris bumi, dan bumi adalah alat/mesin untuk kehidupan kita semua.

Disutradarai oleh suami Klein sendiri, Avi Lewis, film ini membawa kita berkeliling dunia melihat lokasi-lokasi pertambangan minyak dan gas bumi di berbagai negara, seperti Kanada, Amerika, Yunani, India, China, dan seterusnya. Hal utama yang diangkat adalah kaitan antara lingkungan dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi tersebut, yang sering disebut sebagai musuh dari perusahaan yang beroperasi di sana. Masyarakat yang merecoki operasi perusahaan terdiri dari berbagai macam ras, namun mempunyai kesamaan bahwa mereka adalah penduduk asli tanah-tanah mereka sendiri. Sebagai contoh, masyarakat asli (First Nations) dari Alberta, Kanada; dan masyarakat indian di Amerika.

Kasus-kasus yang sayangnya sudah menjadi hal yang terdengar klise bagi kita, seperti sungai yang tercemar oleh minyak, masyarakat yang diusir dari tanahnya, kekerasan yang menimpa mereka yang melawan; selama ini seolah dianggap sebagai hal-hal yang wajar, yang harus dihadapi dan dilalui. Kasus-kasus tersebut adalah penghambat jalannya ekonomi yang akan menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dengan kata lain, kasus-kasus tersebut merugikan perusahaan dan negara. Apakah ini berarti masyarakat (yang sudah dirugikan itu) adalah penyebabnya?

Sistem ekonomi kapitalis yang menjunjung tinggi akumulasi kapital memang telah menimbulkan persaingan yang ketat antara perusahaan yang berasal dari berbagai negara. Pertumbuhan ekonomi yang harus selalu meningkat dijadikan alasan untuk membenarkan hubungan kita dengan bumi, bahwa bumi adalah alat. Namun, apa yang bisa kita lakukan ketika bencana alam muncul? Apakah selama ini kita mampu menghindarinya? Naomi menceritakan tentang bencana badai yang kerap terjadi di Amerika, dimana peran pemerintah sangat minim dalam membantu korban. Tindakan yang diambil untuk mencemari bumi lebih banyak dibandingkan tindakan yang diambil untuk menjadi bagian dari kehidupan alam di bumi.

Sejak tahun 1970-an para aktivis lingkungan sudah menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap persoalan ini. Tekanan dari kelompok tersebut mendorong adanya negosiasi-negosiasi pemerintah. Di Cina, gerakan kelas menengah terbukti berpengaruh terhadap kebijakan yang diambil oleh Pemerintahnya. Ketika kabut asap melanda Cina, masyarakat menuntut Pemerintah untuk memperhatikan persoalan lingkungan dengan melakukan unjuk rasa secara besar-besaran. Hal tersebut merubah kebijakan energi Pemerintahan Cina, mereka menghancurkan pabrik-pabrik batu bara dan membangun infrastruktur energi solar. Hingga saat ini, 70 % produksi infrastruktur energi solar dilakukan di Cina. Selain itu, berdasarkan survey yang dilakukan oleh Greenpeace, tingkat emisi karbon di Cina menurun dalam beberapa tahun terakhir. Naomi berpendapat bahwa kondisi di Cina adalah peperangan melawan dampak buruk lingkungan yang sudah terlanjur terjadi, mereka tidak ada pilihan lain selain melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

Jerman adalah negara yang maju dalam energi terbarukan. Lagi-lagi, tuntutan masyarakat Jerman yang memaksa pemerintah untuk mengambil kebijakan-kebijakan yang ramah lingkungan. Jerman fokus terhadap pengembangan energi terbarukan dan energi alternatif. Peran masyarakat yang mengarahkan pemerintah Jerman ke arah tersebut. Unjuk rasa yang dilakukan oleh masyarakat terkait protes terhadap perusahaan-perusahaan yang merugikan lingkungan dilakukan dan membuahkan hasil. Meskipun masih terdapat beberapa kebijakan yang tidak memperhatikan lingkungan, Jerman termasuk yang terdepan, dan hal tersebut terjadi karena tuntutan masyarakat.
India, yang merupakan negara dengan ekonomi yang berkembang pesat, membuka besar-besaran peluang investasi asing untuk bertambang di negaranya. Hal tersebut menimbulkan konflik dengan skala besar, dan masyarakat melakukan protes yang berujung pada kekerasan. Begitu juga dengan Yunani, yang baru saja dilanda krisis ekonomi, seakan krisis tersebut membenarkan Pemerintah untuk membuka peluang pertambangan besar-besaran demi mengatasi krisis. Masyarakat yang terancam diusir dari tanahnya sendiri, juga melakukan unjuk rasa dan protes. Bahkan ada yang sampai dipidana karena melawan.

Hal-hal yang tergambar di beberapa Negara hanya merupakan sedikit contoh dari banyak persoalan yang terjadi di berbagai negara lainnya. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan, yang mampu merubah keadaan ini hanyalah peran serta dari masyarakat itu sendiri. Negosiasi antar negara yang sudah berlangsung lama, baru menemukan kesepakatan bersama pada pertemuan di Paris tahun 2015. Pada pertemuan tersebut, akhirnya terdapat kesepakatan yang disetujui oleh 195 negara untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celcius, atau setidaknya 2 derajat celcius. Bagaimana dengan komitmen masyarakat global terhadap kesepakatan ini?

Yang pasti, gerakan masyarakat mampu merubah persoalan ini. Gerakan masyarakatlah yang mendorong adanya negosiasi-negosiasi antar negara hingga akhirnya timbul kesadaran bahwa terdapat persoalan mengenai hubungan kita dengan bumi. Bahwa pihak perusahaan juga menyadari persoalan ini seperti beberapa karyawan yang diwawancarai di dalam film. Mereka bercerita bahwa apa yang mereka lakukan sekarang itu harus diubah, bahwa bahan bakar fosil harus diganti dengan energi terbarukan. Namun, kesadaran dan kesepakatan hanyalah awal dari perubahan. Tindakan-tindakan dari setiap aktorlah yang akan menentukkan perubahan. Hingga saat ini, hal yang pasti bisa dilakukan adalah berpartisipasi dan menjalankan peran masing-masing dalam proses perubahan hubungan kita dengan bumi. “Persoalan ini bukan hanya persoalan suku Indian. Jika anda menghirup udara dan meminum air, ini juga persoalan anda,” begitu jawaban salah satu suku Indian di Amerika. Jika setiap aktor Negara, Perusahaan, dan Masyarakat berperan, segalanya akan berubah.