Dalam Naungan Leviathan

Anda mungkin tidak sendirian ketika akhir-akhir ini merasa kekuasaan negara begitu  memuakkan. Ketika menyampaikan pendapat atau informasi yang berselisih dengan klaim penguasa dan kelompok mayoritas di depan umum dapat serta-merta membuat seseorang berurusan dengan aparat. Ketika negara rasanya makin ‘tidak punya beban’ memakai kekuasaan untuk menjambret ruang hidup, melanggengkan bisnis orang kaya, dan mengkavling tiap jengkal barang publik lainnya. Satu per satu harapan akan pemerintahan yang demokratis dan bersih dipadamkan. Peraturan negara pun makin ditujukan untuk mengatur tubuh dan segenap kebebasan kita yang masih tersisa.

Situasi itu digambarkan dengan dramatis oleh Andrey Zvyagintsev dalam Leviathan (2014). Seperti suatu tempat yang sama-sama kita kenal, kekuasaan negara dalam Leviathan bertaut dengan kepentingan bisnis dan agama yang merampas dan menjalankan kekerasan. Perlawanan atas ketidakadilan bakal segera dilibas dengan palu godam hukum dan kekerasan aparat. Mereka yang kalah disisihkan dan dibiarkan lenyap dalam kesepian. Film ini memang berlatar di Rusia. Namun hari-hari ini, ia seperti tambah akrab dengan Republik yang sibuk mengaku sebagai negara demokratis dan menjunjung hak asasi manusia.

Pada separuh jalan Leviathan kita dapati sang protagonis, Kolya (Aleksei Serebryakov) dan kawan-kawannya tengah melancong sambil menyantap barbecue. Menggigil kedinginan, mereka menenggak bergelas-gelas vodka. Di momen rileks yang langka dalam film berdurasi 141 menit ini, Kolya cs bersiap melakukan ritual wajib acap kali berpelesir: latihan menembak. Seseorang mengeluarkan foto-foto para pemimpin Soviet – dari Lenin sampai Gorbachev – sebagai sasaran tembak. “Mengapa tidak ada yang lebih kekinian?” tukas Kolya mempertanyakan absennya Vladimir Putin di jajaran foto yang siap dihujani peluru. “Ah, masih terlalu dini. Biarkan dia matang dahulu di dinding-dinding”, tukas seorang kawannya.

Kita mungkin bertanya: apakah Zvyagintsev sungkan untuk “menembak” Putin? Rasanya justru sebaliknya. Walaupun absen dalam ritual di atas, wajah dingin Putin sedari mula telah hadir menghiasi “dinding-dinding” Leviathan. Seperti di dinding ruangan sang Walikota yang brutal (Roman Madyanov). Sorot matanya senantiasa diam mengawasi dari balik pigura kaca, merestui semua kelaliman yang berdiam di hadapannya. Kehadiran simboliknya adalah ujung tombak dari kritik Zvyagintsev atas kondisi Rusia hari ini – kondisi masyarakat dalam cengkraman total oligarki.

Leviathan adalah kisah naas Kolya, pemilik bengkel mobil di Pribrezhny, kota kecil nan muram di pesisir utara Rusia yang berhadapan dengan Samudera Arktik. Tanah milik keluarganya turun temurun sedang jadi incaran Walikota Vadim yang bersikeras ingin membangun menara telekomunikasi. Lewat sengketa di pengadilan, Vadim sukses mendapatkan tanah Kolya dengan uang kompensasi yang tidak seberapa. Setelah upaya banding menemui jalan buntu, Kolya dan Dmitriy (Vladimir Vdovichenkov), pengacara dari Moskow, menyusun perlawanan atas perampasan ini.

Sepintas memang tak ada yang baru. Hampir tak terhitung kisah perjuangan underdog menentang kesewenangan yang sudah diangkat ke layar lebar. Akan tetapi, sasaran Zvyagintsev jelas bukan ending bahagia. Tidak ada klimaks yang ditandai dengan pidato inspirasional dan parade patriotisme seperti halnya Mr. Smith Goes to Washington atau film-film Stanley Kramer macam Judgement at Nuremberg dan Inherit The Wind – saat yang cupet, korup dan lalim akhirnya terbukti bersalah, mendapatkan ganjarannya (atau insyaf), dan penonton dapat pulang dengan dada membuncah oleh harapan.

Pada ulasan di New York Times, Zvyagintsev mengungkap bahwa Leviathan sedikit banyak diangkat dari kisah Marvin Heemeyer, seorang pemilik bengkel di Colorado yang lahannya digusur untuk pembangunan pabrik semen. Tidak terima, Heemeyer nekat membawa buldozer, menabrakannya ke Balai Kota, lantas bunuh diri dengan sepucuk pistol.

Tapi setiap tragedi selalu melahirkan kesaksian. Dan dalam Leviathan, alih-alih kejayaan heroisme, kita diminta (atau dibikin) menyaksikan bagaimana kekuasaan mencekik perlahan-lahan.

Perlu dicatat bahwa Kolya bukan jagoan idealis tempat kita bisa sepenuhnya menghaturkan simpati. Ia seorang pemabuk paruh baya yang temperamental dan ringan tangan. Sempoyongan hingga larut malam, Kolya bisa terbahak-bahak lalu mendadak mencaci maki semua orang yang ada di hadapannya. Bahasa yang paling ia pahami adalah bahasa kekerasan, baik fisik maupun verbal. Tak terkecuali untuk istri dan anaknya. Ia memiliki beberapa kawan dekat, namun mereka pun memandang Kolya dengan rasa iba sekaligus ngeri.

Harapan terakhir Kolya jatuh pada Dmitriy, yang berbekal koneksi dengan elit politik Moskow berusaha mengancam Vadim untuk membatalkan proyek pembangunan, atau setidaknya memberikan kompensasi yang layak bagi Kolya. Vadim yang murka oleh pembangkangan ini segera mengerahkan semua jejaring kekuasaan yang ia miliki untuk membalas “kelancangan” Kolya dan Dmitriy.

Lewat Vadim kita bisa melihat betapa Pribrezhny sesungguhnya adalah miniatur oligarki Rusia. Tanpa harus menjadi ‘film pamflet’ yang menggurui, Zvyagintsev mengupas anyaman sosial-politik Pribrezhny dengan seksama. Seperti halnya Putin, Vadim berhasil mengkonsolidasikan ragam elemen kekuasaan – kepolisian, pengadilan, tokoh masyarakat – ke dalam kendalinya, meski dalam lingkup kota kecil. Sebagai oligark yang ingin mempertahankan konsentrasi kekayaan dan kekuatan, ia berharap terpilih kembali dalam pemilihan Walikota berikutnya. Untuk ini, ia bersekutu dengan Uskup Gereja Ortodoks setempat. Lagi-lagi dapat kita lihat kemiripan manuvernya dengan Putin yang merangkul Patriarch Kirill, pimpinan tertinggi Gereja Ortodoks Rusia. Persekutuan inilah antara lain yang membuat Putin percaya diri untuk melancarkan ekspansi ke wilayah Krimea, dan membungkam suara-suara sumbang di dalam negeri: dari Pussy Riot, jurnalis, NGO yang kritis, sampai gerakan LGBT.

Akibat persekongkolan ini, tidak heran kemudian apabila Zvyagintsev menyorot kehadiran agama dalam lanskap politik dengan tatapan muak. Seperti saat Vadim dan sang Uskup mengatur rencana sambil menyantap hidangan di restoran mewah, sementara di latar belakang terlihat mencolok sebuah lukisan Perjamuan Terakhir Kristus. Sang Uskup mengutip rangkaian ayat suci, namun di saat yang sama meminta Vadim membereskan masalah Kolya dengan segera, kalau perlu dengan kekerasan. Puncak dari persekutuan mereka dapat kita lihat di adegan akhir film, dimana ketamakan dipertontonkan dalam wujudnya yang paling mengerikan.

Meski demikian, agama tak sepenuhnya cemar di mata Zvyagintsev. Karya-karya terdahulunya malahan memiliki ketertarikan akan kisah-kisah Injil seperti The Return (2003). Dalam film itu, referensi keagamaan membantu menerjemahkan konflik pelik yang dialami para karakternya. Demikian pula halnya dengan Leviathan.

Saat seluruh upayanya mempertahankan tanah, nama baik, dan keutuhan keluarganya terasa menemui jalan buntu, Kolya menemui seorang pendeta. “Dimana Tuhanmu yang maha kasih itu?” gugatnya. Pendeta dengan raut muka yang lelah itu, Vasily, tak menawarkan penghiburan. Dengan lembut ia berkisah tentang Leviathan, sosok monster kejam yang berdiam di lautan. Seperti memberi ilustrasi atas kemustahilan perjuangan Kolya.

Leviathan bisa jadi adalah kekuasaan itu sendiri. Thomas Hobbes, dalam buku tersohor yang berjudul sama, mengangkat kenyataan hidup manusia yang “sendirian, kejam, dan teramat singkat”. Demi memperebutkan sumber penghidupan yang kian langka, kodrat manusia adalah untuk menjalani perang tak berkesudahan untuk mengganyang sesamanya. Leviathan, bagi Hobbes, adalah jawaban keluar dari nasib ini. Satu-satunya cara menghindari perang semua-lawan-semua adalah apabila muncul otoritas tunggal yang sanggup berdiri di atas dan melampaui setiap silang sengketa. Monster yang tunggal, absolut dan berdaulat sepenuhnya.

Konflik dan laku Hobbesian dapat kita simak di sepanjang riwayat manusia. Dari puing kekacauan, muncul rombongan Leviathan yang mengaku sanggup membereskan semuanya. Ia menjanjikan kepastian, keteraturan, keamanan, dan pada akhirnya, peradaban. Hobbes menunjukkan bahwa “wajah asli” dari Leviathan tak lain adalah kumpulan rakyat sendiri yang kemudian menyerahkan nasibnya kepada negara. Namun, dapatkah kita sepakat dengan Hobbes apabila kemudian Leviathan yang digadang-gadang sebagai juru selamat justru berbalik memangsa kita? Terutama ketika hak kita untuk hidup merdeka dapat sewaktu-waktu dicabut olehnya?

Sang monster tak mesti bekerja dalam gaduh. Dalam Leviathan, orang-orang Pribrezhny tetap menjalani hidupnya seperti biasa, seakan tidak terjadi apa-apa pada Kolya. Tak ada demonstrasi di jalan-jalan, kritik di surat kabar, atau bahkan sekadar ucapan solidaritas sambil lalu. Bagi mereka tidak ada yang salah saat Kolya diperintahkan untuk angkat kaki dari tanahnya sendiri. Mereka cukup puas mengetahui bahwa Vadim menang lewat keputusan pengadilan yang sah, bukan melalui todongan bedil atau pengusiran paksa.

Sebab itulah bagi mereka pembangkangan Kolya bukan cuma sia-sia, tapi juga hingar-bingar yang tak perlu. “Sudahlah”, demikian bunyi tatapan mereka, “mulailah menatap masa depan”. Dari sejumlah babakan intens di Leviathan, tidak ada yang lebih intimidatif dari ‘kesunyian’ ini, karena kita tahu persis – hal serupa sering terjadi di depan batang hidung kita sendiri.

Hingga akhirnya Kolya kalah. Dmitriy tak berdaya menghadapi teror Vadim dan preman-premannya. Ia memutuskan pulang ke Moskow. Lilya, istri Kolya yang hampir tidak pernah dilibatkan dalam pertempurannya melawan Walikota, ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Hal terakhir yang kita saksikan menggelayuti wajah Kolya adalah keruntuhan segenap semangatnya.

Sebelum berpisah jalan dengan Kolya, Vasily bercerita tentang Ayub, abi yang bertubi-tubi dirundung kemalangan. Tuhan mempersilakan iblis untuk merampas harta, keluarga, dan kesehatannya sekaligus. Tak henti-henti Ayub bertanya, “Mengapa hanya aku yang kau berikan cobaan ini?” Leviathan, pada akhirnya, berusaha mengabarkan bahwa Ayub bukan satu-satunya. Bukan hanya Vadim dan Putin. Bukan hanya Rusia. Bukan hanya Pribrezhny. Bukan hanya Kolya.

Langit Pribrezhny senantiasa dijauhi matahari. Di sekujur pesisir pantai berserakan bangkai-bangkai kapal dan kerangka paus yang terdampar. Para pemuda menghangatkan diri di api unggun dalam reruntuhan gereja tua. Film ditutup dengan khotbah Uskup yang dihadiri Vadim, warga Pribrezhny, dan jajaran elit kota yang lain. Vasily pun hadir. Tapi tidak ada Kolya. Ia telah habis dilumat sang Leviathan.