Bertarung untuk Hidup di Hongkong

Gejolak demonstrasi Hongkong selama beberapa minggu terakhir bukan hanya dipicu oleh penolakan atas Undang-undang Ekstradisi Tiongkok. Lebih dari itu, ia juga merupakan konfrontasi terhadap penguasaan Hongkong oleh segelintir orang.

“be formless, shapeless – like water. Now you put water into a cup, it becomes the cup, you put water into a bottle, it becomes the bottle, you put it in a teapot, it becomes the teapot. Now water can flow or it can crash. Be water, my friend.” – Bruce Lee

11 Agustus 2019. Senin malam sekitar pukul setengah delapan waktu Hongkong; gas air mata dan peluru tumpul (bean bag rounds) ditembakkan polisi di Tsim Sha Shui, distrik perbelanjaan terkenal di Kowloon. Satu peluru menembus kacamata pelindung seorang perempuan. Kelopak matanya sobek, tulang wajah retak dan bola mata sebelah kanannya terluka parah. Penglihatannya terancam hilang separuh….

Seruan solidaritas tak berhenti setelah malam itu; para demonstran justru makin bersemangat mendesak semua warga untuk turun ke jalan. Pergi ke kantor polisi jika temanmu ditangkap, ajaklah siapapun untuk berhenti bekerja, ‘jadilah air‘ jika polisi mulai berbuat semena-mena; terapkan nasihat Bruce Lee tersebut dengan terus berpindah-pindah dari satu tempat aksi ke tempat yang lain; demonstrasi ini tak punya bentuk pasti, sebab itu ia akan sulit dihabisi.

Gunakan masker dan pelindung kepala; karena gas air mata tak akan berhenti dilontarkan, dan jangan lupa waspada kalau bertemu triad (sebutan untuk gangster pada wilayah China) di pinggir jalan. Kamu bisa saja jadi target pentungan atau bogem mentah mereka.

****

Sudah 10 pekan, #antiELAB (Anti – Extradition Bill)[1][2] protest pecah sejak Juni 2019; sebagai sekuel yang kesekian kalinya dari sejarah pembangkangan sipil para Hongkongers – sebutan untuk warga Hongkong – terhadap pemerintahan eksekutif mereka yang dinilai terlalu pro–Beijing. Diperkirakan sudah 2 juta orang berhasil dihimpun #antiELAB untuk menarik garis batas tegas; bahwa Tiongkok adalah musuh bersama yang terus menghambat tumbuh kembangnya kehidupan sipil yang demokratis.

Parade protes dari berbagai profesi bermunculan; dari pelajar, ibu rumah tangga, advokat, tenaga medis, pegawai di bandara hingga petugas air traffic controller memutuskan untuk turun ke jalan; memadati stasiun kereta, bandara dan ruang – ruang publik lainnya, guna menyampaikan satu pesan kepada dunia internasional: Hongkong tidak sedang baik–baik saja.

Masalahnya, Hongkong adalah salah satu pasar finansial tersibuk di dunia dan salah satu destinasi terbaik untuk berwisata. Karenanya, ratusan penerbangan menuju dan keluar dari Hongkong ditangguhkan; hotel – hotel mulai sepi dan angka penjualan di toko – toko terkemuka jatuh hingga 6,7% – defisit perdagangan barang tertinggi semenjak 2018. Indeks perdagangan saham yang sedang dihantam perang dagang pun makin terpuruk akibat banyak investor luar negeri memilih tempat yang lebih aman.

Bak lumbung padi yang sedang membara, tak hanya petani yang berlarian mencari pemadam api. Ada ‘tikus–tikus besar’ yang selama ini luput dalam kacamata kita juga ikut belingsatan.

****

7 Agustus 2019. Rabu di Shenzen – Tiongkok, sebuah pertemuan digelar. Hampir semua tokoh senior di pucuk otoritas Hongkong hadir dalam pertemuan bersama dengan utusan Beijing. Mereka membahas strategi meredam perlawanan yang terjadi di Hongkong selama hampir dua bulan. Petinggi partai Democratic Alliance for the Betterment and Progress of Hong Kong (DAB) – partai konservatif Hongkong– juga hadir dalam pertemuan tersebut.

Tidak ada langkah – langkah spesifik yang diputuskan dalam pertemuan itu. Hanya sebuah penegasan bahwa pemerintah eksekutif Hongkong tetap mendapat dukungan dari Beijing untuk segera mencari ‘jalan keluar’ dari ancaman resesi ekonomi yang mengintai jika aksi ini terus dilanjutkan.

Namun ada satu hal yang mencuri perhatian. Sejumlah pembesar properti Hongkong juga turut hadir.  Adam Kwok Kai-fai (direktur Sun Hung Kai Properties), Peter Woo Kwong-ching (pemilik Wharf Holdings) bersama 500 orang perwakilan Hongkong lainnya. Hanya berselang empat hari dari pertemuan itu Peter Woo mencak – mencak. Pemilik bisnis properti rumah, perkantoran, dan hotel (serta anggota partai komunis Hongkong) tersebut mengaku telah kehilangan satu milyar dollar selama protes berlangsung.

Seturut dengan Woo, sejumlah taipan menyerukan hal yang sama: Li Ka-Shing (CK Hutchinson Holding), Kwok Brothers (Sun Hung Kai Properties), Henry Cheng (New Development Group), Hui Ka Yan (Evergrande Group), Lee Shau Kee (Henderson Land Development). Pada  8 Agustus 2019,  dibawah bendera The Real Estate Developers Association of Hong Kong (REDA) para taipan properti tadi menyatakan telah menderita kerugian besar atas aksi yang berlangsung terlalu lama. Seperti dilansir Bloomberg, 10 orang terkaya Hongkong yang namanya disebut di atas, telah kehilangan USD 19 miliar atau setara 269 triliun rupiah hanya dalam dua minggu.

Namun semua masih tetap menyatakan diri ‘setia’ untuk mendukung Carrie Lam – pimpinan eksekutif Hongkong – untuk terus memimpin wilayah yang luasnya hanya seperseratus pulau Jawa tersebut.

Meski tanpa hasil, pertemuan 7 Agustus dan respon – respon setelahnya menyiratkan bahwa perjuangan Hongkongers sepertinya bukan hanya sekedar upaya menjegal aturan ekstradisi. Lebih dari itu, pertarungan Hongkongers kali ini punya musuh lain yang tidak kalah berbahaya: oligarki bisnis properti di Hongkong.

****

Here is your typical day in Hong Kong: after buying your groceries from Li Ka-shing, you hop on to one of Cheng Yu-tung’s buses to take you back to your Kwok brothers apartment to cook your food with, you guessed it, gas supplied by Lee Shau-kee [3]

Anekdot diatas kiranya cukup memberi gambaran; bagaimana cengkraman oligarki di Hongkong begitu kentara. Dari mulai pasar swalayan, transportasi publik, perumahan dan kebutuhan air bersih, gas serta energi listrik; kesemuanya dimiliki oleh orang – orang yang itu-itu saja. Para taipan bisnis properti Hongkong ini dikabarkan telah menggasak habis lahan – lahan datar yang luasannya tidak lebih dari 25% total luas Hongkong (270 km2). Per tahun 2012, para taipan ini dikabarkan telah memperoleh izin pembangunan gedung di 45% dari total lahan yang bisa dibangun.  Boleh jadi persoalan kehabisan lahan (land shortage) jadi masalah besar bagi Hongkong, seperti data yang dilansir dari Gugus Tugas Persediaan Lahan Pemerintah Hongkong (Task Force on Land Supply)[4]

Dengan jumlah lahan yang terbatas, dan predikat sebagai pasar finansial terkemuka di dunia; Hong Kong menjadi area dengan harga properti paling tinggi sedunia selama lima tahun (2014 – 2019) dengan kisaran harga rumah sekitar IDR 29 juta per meter persegi [5]. Sebagai perhitungan, rumah tipe 36 saja bisa dibandrol seharga IDR 1 miliar.

Seperti inilah potret apartemen yang masih terjangkau oleh kocek sebagian warga Hongkong

Dengan harga yang begitu tinggi; bisnis properti di Hong Kong adalah sumber daya terbesar bagi para oligarki properti untuk terus menumpuk pundi – pundinya. Bahkan salah satu pebisnis Indonesia, Mochtar Riady (Lippo Group) juga tercatat memiliki gedung perkantoran di Admiralty Business District.

Sayap bisnis para oligark politik ini juga melebar ke mana – mana. Dari mulai bisnis perhotelan, pusat perbelanjaan, telekomunikasi, transportasi publik, farmasi, pasar swalayan hingga toko permata. Sementara itu, hampir separuh Hongkongers (dari total sekitar 7 juta penduduk) malah tidak bisa memiliki rumah[6].

Walhasil, Hongkongers yang tak mampu harus menghuni sebuah flat atau apartemen yang dibagi jadi 9-10 unit ruangan sehingga luasnya tak lebih dari 3 meter². Satu orang atau satu keluarga biasanya tinggal dalam ruang sempit itu dengan harga sewa rata–rata pada tahun 2016 sebesar USD 575 atau setara IDR 8 juta per bulan.[7] Dengan pendapatan rata–rata rumah tangga per bulan sebesar USD 3,500 dan pendapatan rata–rata per individu USD 2,000 di tahun 2018 [8], boleh jadi memiliki tempat tinggal yang layak hanyalah jadi mimpi bagi para Hongkongers.

Isu ketimpangan ekonomi di Hongkong sebenarnya sudah jadi sorotan. Dalam laporan Hong Kong Inequality Report 2018 Oxfam, Hongkong memiliki tingkat ketimpangan sebesar 0.473 (GINI Ratio) di tahun 2016 [9]. Rasio itu tertinggi diantara negara – negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Singapura, dan Australia. Hongkong juga tercatat dalam liga negara – negara kaya itu sebagai pemerintahan administratif yang paling sedikit mengalokasikan anggaran nasional untuk jaminan sosial dan kesehatan.

Rendahnya rata-rata pendapatan warga yang berbanding terbalik dengan peningkatan harga properti, rendahnya alokasi anggaran jaminan sosial, serta kepemilikan lahan oleh segelintir orang seakan merakit bom waktu yang siap meledak kapan saja.

****

September 2014. lima tahun sebelum #antiELAB bergulir, sebenarnya Hong Kong telah memulai perlawanan terhadap koalisi oligarki properti dan Tiongkok. Lewat Umbrella Movement, Hongkongers menagih janji Tiongkok untuk memberikan hak pilih seratus persen (universal suffrage) bagi warga Hongkong untuk memilih pemimpin dan anggota parlemennya sendiri pada 2017.

Namun janji itu kembali dijegal Beijing. Pimpinan eksekutif Hongkong tetap dipilih oleh Komite Pemilihan Umum Hong Kong secara terbatas untuk menyingkirkan calon – calon yang tidak disukai Beijing. Dari 70 kursi yang diperebutkan di Legsco (legislative council) alias parlemen; warga Hongkong hanya bisa memilih 35 anggota parlemen berdasarkan teritori (geographical constituencies).  Sedang sisanya sudah dikavling oleh perwakilan dari profesional, pelaku pasar, perwakilan pekerja, dan industri; alias functional constituencies.

Dari sini #antiELAB tak lagi nampak sebagai sebuah konsolidasi besar untuk menentang kebijakan anti – ekstradisi semata. #antiELAB lebih nampak sebagai bentuk perlawanan warga untuk memperjuangkan hidupnya: saat keseharian sangat bergantung pada konglomerat, ruang tinggal sempit atau tak terbeli, dan suara demokratis dibatasi. #antiELAB  tengah membangun sebuah dalil bahwa prinsip one country, two systems adalah omong kosong belaka, saat sistem pembagian kekuasaan dan sumber daya di Hongkong hanya menambah pundi-pundi para taipan properti dan petinggi di Beijing.

Pemerintah Hongkong hari ini seolah-olah sudah kehilangan kendali atas kotanya sendiri. Ancaman peluru tumpul dan gas air mata serta tambahan pasukan dari Tiongkok yang bersiaga di sekitar 25 km dari jantung kota Hongkong seperti tidak digubris para demonstran. Aksi terakhir di Chater Garden (16/08) malam yang diorganisir oleh Civil Human Rights Front tetap dihadiri ribuan orang, kabarnya para aparatur sipil negara juga turut turun ke jalan.

Nampak seperti tidak ada jalan lain, pesan para Hongkongers malam itu semakin tegas: Reclaim Hongkong! Revolution of Our Time!

 

[1]  Rencana Pemerintah Hongkong untuk melakukan amandemen atas Fugitive Offenders and Mutual Legal Assistance in Criminal Matters Legislation (Amendment) Bill 2019; yang memungkinkan ekstradisi pelaku tindak kriminal di antara wilayah Hongkong, Taiwan dan Tiongkok (Mainland China).

[2] Untuk lebih lengkapnya, silahkan akses https://www.scmp.com/news/hong-kong/politics/article/3010273/hong-kong-extradition-bill-chaos-and-confusion-reigns-how

[3] Terj: “Beginilah keseharian di Hong Kong: setelah membeli belanjaan dari toko milik Li Ka-shing, anda naik ke salah satu bus milik  Cheng Yu-tung yang membawa anda ke apartemen milik Kwok brothers untuk memasak makanan anda dengan gas, yang sudah bisa anda tebak, milik Lee Shau-kee   https://www.timeout.com/hong-kong/blog/tycoons-the-men-who-rule-hong-kong-100416

[4] Task Force for Land Supply (Hongkong). Insufficient Land Supply leading to Imbalance in Supply-Demand.

[4] CBRE (2019). Global Living Report.

[6] https://www.aljazeera.com/ajimpact/lack-affordable-housing-feeds-hong-kong-discontent-190801151538867.html

[7] https://www.scmp.com/news/hong-kong/community/article/2129583/10000-more-hongkongers-call-subdivided-units-home-study

[8] https://www.scmp.com/business/article/2160554/nearly-half-hk-flats-rent-us2550-month-70-cent-median-household-income

[9] Koefisien Gini berkisar antara 0 sampai dengan 1. Apabila koefisien Gini bernilai 0 berarti pemerataan sempurna,  bernilai 1 berarti ketimpangan sempurna.