Album Review: Collapse – Grief EP

Collapse - Grief EP. Foto dari @sayasiapa
@sayasiapa
Collapse - Grief EP. Foto dari @sayasiapa
Collapse – Grief EP. Foto dari @sayasiapa

Kehadiran Collapse di skena indie lokal dapat dikatakan mengagetkan, mengingat Andika Surya, pemilik tunggal moniker tersebut, lebih banyak berkecimpung di ranah hardcore/metal. Selain itu, tidak banyak aktivitas promosi yang disebarkan – diluar sejumlah materi yang dirilis oleh label rekaman mereka, Royal Yawns. Singkatnya, kemunculan Collapse tidak terbilang gimmicky seperti nama-nama pelaku skena lainnya dan jauh dari kesan riuh.

Hal tersebut membawa kita ke Grief, mini-album yang dirilis bertepatan dengan perayaan Hari Toko Kaset Sedunia (Cassette Store Day) 2016. Secara keseluruhan, materi yang disuguhkan dalam EP tersebut terbilang tight: rapat dan padat. Warna musik yang disajikan lebih dominan bernuansa indie-rock/alternative rock dengan irisan terbesar datang dari Nu-gaze (mungkin hadirnya nama Alyuadi Febriansyah – terutama di lagu ‘Given’ – dapat menjadi alasan penyebutan genre tersebut).

Namun diluar analisa diatas, keputusan Collapse untuk membuat karyanya lebih padat patut diapresiasi lebih. Konsentrasi penuh pada bebunyian gitar yang tebal namun melodik membuat album ini menjadi begitu bulat namun cukup untuk mengenyangkan pendengarnya, ketimbang melakukan eksperimen-eksperimen pretensius seperti yang banyak dilakukan musisi lainnya. Adanya gambaran kasar mengenai sebuah konsep besar yang dibangun dalam pengemasan album ‘Grief’ serta kesinambungan yang ditemukan dalam setiap lagu – baik disengaja maupun tidak – mampu memberikan nilai plus lebih dalam album ini (lagipula, kapan lagi ada album yang mampu memasukkan intro Playstation 1 tanpa harus merusak suasana yang dibangun?). Kritik bahwa album ‘Grief’ dianggap “nanggung” dengan total durasi yang terbilang sangat singkat ( 10 menit) justru dapat dipandang sebagai “blessing in disguise“: akan sangat menarik untuk ditunggu bagaimana Dika membawa Collapse ke materi rilisan selanjutnya.

Selebihnya, album ‘Grief’ bagi saya setidaknya mampu membangkitkan kembali aura Shoegaze atau Nu-gaze yang sempat marak di Bandung pertengahan 2000-an, sekaligus mengganjal kelaparan akibat menunggu album penuh HEALS yang masih belum kunjung tiba. Patut ditunggu bilamana Dika dan Aldi bisa menduetkan Collapse dan HEALS kedalam satu split album. (dan, hey! Keduanya juga sesama hardcore-kid. Coincidence? ;))

 

8,3/10

 

Bajik Assora adalah mahasiswa yang sedang pontang-panting menyelesaikan skripsi. Sehari-hari aktif sebagai kurir di Sorge Records.