banner ad
banner ad

Terbunuhnya Seorang Aktivis Perempuan

December 4, 2015

Oleh: Sebastian Partogi

1 Desember 2015

Pemandangan itu begitu sureal. Pada malam pembacaan puisi dalam rangka menggalang dana untuk perempuan penyintas kekerasan seksual tersebut, Maya, seorang aktivis perempuan yang terkenal, perlahan memasuki panggung, diikuti oleh suaminya Budi dan putri mereka Natasha. Masing-masing dari mereka menggenggam secarik kertas putih.

Maya dan Natasha menunjukkan mimik wajah yang datar, sementara Budi menunjukkan tampang muram dengan dua sudut bibir yang tertarik ke bawah. Bagaikan seekor kucing yang sedang memohon belas kasihan.

Setelah mereka bertiga tampil di pusat panggung, lampu di bangku penonton mulai temaram dan lampu sorot diarahkan kepada mereka bertiga, sang penampil. Maya mendekatkan mikrofon ke mulutnya seraya mulai membacakan puisi karyanya yang berjudul Air Mata Darah, masih dengan raut wajah yang datar. Bait berikutnya dilanjutkan oleh Budi, lalu oleh Natasha. Seperti itu, pembacaan puisi pertama malam itu terus bergulir.

Setelah pembacaan puisi pertama tersebut berakhir, mereka pun saling mendekati satu sama lain dan saling mendekap, bentuk janji mereka bahwa mereka akan saling menyayangi dan tidak akan menyemai hubungan keluarga yang saling membentak serta memukul, sebagaimana yang digambarkan dalam puisi Maya serta pemberitaan media massa sehari-hari. Penonton terharu.

Lagipula, siapa yang tak mengenal keluarga tersebut? Keluarga yang rajin tampil di berbagai acara elit ibukota tersebut memang senantiasa tampil akrab satu sama lain, dengan percakapan yang senantiasa dibumbui gelak tawa terpingkal-pingkal. Foto-foto mereka bersama para seniman, akademisi serta wartawan tenar ibukota juga tak jarang menghiasi layar kaca atau halaman majalah. Dalam foto-foto yang telah membeku tersebut, mereka senantiasa menyeringai dari kuping ke kuping, menunjukkan gigi-gigi mereka yang putih bersih.

“Kata siapa feminis membenci laki-laki? Buktinya saya bisa menikah dan membina rumah tangga bahagia,” ujar Maya pada stasiun tivi entah-yang-mana-lagi pada suatu hari.

Mereka adalah pasangan yang bahagia. Mungkin para hadirin malam pembacaan puisi itu menduga bahwa muramnya wajah mereka disebabkan oleh kekhidmatan mereka dalam menghayati puisi gubahan Maya tersebut. Kemuraman tersebut hanya sementara. Setelah ini, mereka akan kembali menjadi pasangan yang bahagia. Beruntungnya Maya, sebagai aktivis feminis tentu ia kebal terhadap kekerasan rumah tangga (?!).

Tak seperti hadirin lain yang terharu, Sahat malah menaikkan sudut kanan atas bibirnya dengan sinis ketika melihat tiga manusia di panggung itu saling berpelukan. Sahat tahu kebenarannya.

***

Suatu hari, di bulan Mei 2015

Sahat membuka pintu rumah Maya dan Budi. Maya segera menyambut dirinya dengan hangat dengan suara cerewetnya yang khas.

“Haloooo, Haaaat!!!!” ujar Maya.

“Halo, Maya…” jawab Sahat lalu terdiam sesaat, bingung karena menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Mata kiri Maya diperban. “Eh, ya ampun, mata kiri elu kenapa diperban? Habis operasi katarak ya?”

“Hehehe… Iya, Hat,” ujar Maya dengan nada suara yang kurang meyakinkan di telinga Sahat.

“Oh, kasihan ya, sekarang orang usia 40-an juga bisa terkena katarak, ayah ibu gue baru kena katarak setelah mereka berusia lebih dari 70-an lho…” kata Sahat.

“Iya, Hat, gue juga bingung kenapa gue bisa kena, padahal umur gue baru 43,” ujar Maya.

“Waduh, umur gue kan sekarang udah 35, berarti aku harus lebih waspada nih… Memang ciri-ciri kalau kita kena katarak itu bagaimana ya?”

Maya terdiam sebentar. “Eh, gimana ya… Pokoknya penglihatan elu jadi burem gitu deh,” ujarnya terbata-bata dengan suara yang makin tak meyakinkan.

“Buremnya kayak apa?” selidik Sahat.

“Hmmm…. Ya, pokoknya burem, kabur gitu deh…”

Ucapan Maya terputus oleh teriakan Budi.

“Mayyyy!!! Lu bawa bujangan tua itu ke rumah lagi ya??? Siapa yang mengizinkan dia main ke siniiii!!!!” teriak Budi mencak-mencak dari kamar tidurnya.

“Ya ampun Bud, elu jangan norak gitu lah, si Sahat ini kan gay, enggak mungkin lah aku ada affair sama dia,” teriak Maya dari ruang tamu. Sontak Maya berbicara pada Sahat, “Santai, Hat, lu udah tahu kan suami gue tuh Cuma banyak cingcong, tapi hatinya baik kok… Hehehe… Eh, ya ampun sampai lupa mempersilakan elu duduk, duduk dulu ya, gue bikinin kopi kesukaan elu…”

***

(Percakapan via telepon genggam)

Malam harinya, saat Sahat sudah sampai di rumah

M: “Hat… Huhuhu… Tadi itu sebetulnya mata gue diperban bukan karena habis operasi katarak… Gue… sebetulnya gue…”

S: “Iya, May, kalau mau nangis, puas-puasin ada dulu deh nangisnya, entar baru ngomong lancar ya”

Narator: Kemudian Maya menangis tersedu sedan, nafasnya tersengal-sengal sambil diiringi berisiknya suara pancuran air kamar mandi. Kata Maya, ia sengaja menyalakan pancuran tersebut agar Budi tak dapat mendengarkan tangisan serta percakapan telepon Maya dalam kamar mandi tersebut. Sahat berpikir, emangnya ngepek?

M: “Se… se… sebenernya… mata gue bengkak gara-gara habis ditonjok sama mas Budi, Hat… Waktu kami lagi bertengkar di meja makan….”

S: “Tuh, kan! Gue emang udah menduga! Mas Budi itu kan mulutnya kasar. Biasanya orang itu sifatnya sepaket, May. Kalau udah kasar mulut begitu, biasanya, meskipun enggak selalu, juga kasar secara fisik! Gue dari dulu udah menduga kuat elu pasti sering dipukulin lelaki berangasan itu! Kenapa gak cerai aja sih?”

M: “Iih gue kan gengsi, Hat, takutnya jadi skandal… Masak aktivis perempuan yang tenar sering berkoar-koar soal kekerasan terhadap perempuan jadi korban suaminya sendiri? Tengsin kan…”

S: “Ya ampun May, May. Lagian kalau cerai kan elu gak harus ceritain duduk perkara sebenarnya sama publik. Bilang aja udah gak saling cocok. Gampang kan? Toh juga, selama ini elu udah sering ngebohongin publik dengan berlagak bahagia sama suami dan anak elu, dan semua orang, termasuk juga gue dulu, berhasil elu tipu. Come on, May. Elu kan jadi selebritis enggak setahun dua tahun. Berpura-pura demi pencitraan udah jadi keahlian elu lah.”

M: (terdiam)

S: “Mas Budi sering ngancem elu, dia bakal ngapa-ngapain elu kalau elu berani nuntut cerai ya? Makanya lu jadi takut?”

Tut… tut… tut…

***

3 Desember 2015

(Percakapan melalui telepon genggam)

M: “Hat, gue mau curhat…”

S: “Gak bakal gue ladenin lagi curhatan elu May. Udah berkali-kali gue bilangin ya, cerai aja ama tuh lelaki, elu ga mau. Demi reputasi lah, gengsi lah… Hidup gue udah ribet, gak rela gue ditambah-tambahin ribet sama masalah elu. Bye.”

Tut… tut… tut…

***

6 Desember 2015

Dini hari. Sahat sedang melesat bersama taksi yang melintasi kawasan Sudirman yang kosong melompong, menghantarkannya pulang ke indekosnya di daerah Slipi, setelah menunaikan hobinya, yaitu membacakan puisi di panggung bersama rekan-rekannya.

Sahat yang sudah hampir pulas ditelan kantuk itu berusaha untuk tetap awas dengan  mendengarkan musik yang didendangkan keras dari radio taksi. Matanya yang sudah mulai minta ditidurkan itu menerawang ke gedung-gedung perkantoran di daerah Sudirman melalui jendela taksi.

Enak ya, Jakarta dini hari. Jalanannya sepi… Ah, seandainya ketika siang pun keadaannya seperti ini…

Lamunan Sahat terinterupsi oleh sebuah jeritan. Jeritannya sendiri.

“Astaga, jangan kejutkan saya seperti itu. Ada apa, pak?” tanya supir taksi, berjenis kelamin lelaki, dengan nada suara yang datar.

“T… tttt…. ttttidak ada apa apa, pak, maaf, saya tadi ketiduran dan kaget terbangun. Biasa, tidur ayam…”

“Oh begitu. Baiklah,” ujar supir taksi.

Sahat terpaksa berbohong karena ia tidak mau membuat supir taksi itu panik. Sekarang ia tidak berani menoleh ke arah jendela yang ada di sisi kanannya.

Ada siluet wajah perempuan dengan wajah ketakutan dan mulut yang berteriak menempel di jendela tersebut.

Sahat hanya berdoa semoga ia bisa segera pulang. Bulu romanya merinding. Taksi masih melesat, kini sudah memasuki gang-gang kecil di daerah Slipi, menuju indekosnya.

Eh, tunggu dulu. Kemana taksi ini melaju? Mengapa tiba-tiba ia berada di jalanan yang gelap gulita, yang sama sekali tidak ia kenal?

Sahat makin merinding. Ia menoleh ke sebelah kanan. Siluet itu masih melekat di jendela taksi.

“P… ppp…. pak, maaf, ini taksinya mau menuju kemana ya? Apa bapak tersesat?” tanya Sahat gugup.

Supir taksi mengerem mendadak. Sahat terhempas ke jok belakang kursi supir taksi. Sang supir mengeluarkan suara geram. Suaranya berubah menjadi suara seorang perempuan. Suara seorang perempuan yang familiar…

“Kita tidak sedang tersesat, Sahat. Aku akan membawamu. Pergi ke neraka. Bersamaku!”

Lalu perempuan yang suaranya begitu familiar tersebut menancap gas dengan membabi buta. Taksi melesat semakin jauh ke dalam kegelapan malam dengan Sahat yang hanya bisa meronta-ronta ketakutan di dalamnya… Telepon genggamnya pun sudah tak ada sinyal. Tak ada seorangpun yang bisa ia hubungi untuk memohon pertolongan.

***

7 Desember 2015

Ironis, aktivis perempuan dibunuh suaminya sendiri

Beritasensasional.com – Kalau dengar nama Maya Pambudi, Anda akan ingat seorang aktivis perempuan tenar yang getol menyuarakan ketidaksetujuannya atas kekerasan terhadap perempuan. Setiap kali ada berita perempuan yang terbunuh oleh suaminya, ia tak pernah luput diwawancarai media sebagai pengamat yang dengan berapi-api mengutuk kekejian kaum lelaki terhadap perempuan. Tidakkah ironis bahwa pagi ini, akhirnya ia muncul di berita bukan sebagai pengamat tetapi korban pembunuhan yang dilakukan oleh suaminya sendiri?

Klik untuk membaca berita lebih lanjut.

SELESAI.

1 DESEMBER 2015 PUKUL 12:56 SIANG.

 

 

 

Sebastian Partogi adalah wartawan harian The Jakarta Post

 

Bookmark and Share

Tags: , ,

Category: 16HAKTP, Kampanye

Leave a Reply