banner ad
banner ad

Tentang Kampanye #16HAKTP 2015

November 24, 2015

1151125-16HAKTP-Banner600-01

Berdasarkan Catatan Tahunan  2014 yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan, jumlah Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) di Indonesia tercatat sebanyak 293.220 kasus. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 279.688 kasus. Dalam laporan tersebut, kasus kekerasan fisik  masih  menempati  urutan  tertinggi  pada tahun 2014,  yaitu  mencapai 3.410 (40%), diikuti posisi  kedua  kekerasan  psikis  sebesar  2.444  (28%), kekerasan  seksual  2.274  kasus  (26%)  dan  kekerasan ekonomi 496 kasus (6%). Urutan di atas sama dengan data tahun 2013 yaitu kekerasan fisik  tercatat sebesar 4.631  kasus (39%), pada urutan  kedua  adalah  kekerasan  psikis  sebanyak 3.344 kasus  (29%), lalu  kekerasan  seksual  2.995 kasus  (26%)  dan  kekerasan  ekonomi  mencapai 749 kasus (6 %).

Harus diakui bahwa mayoritas pelaku kekerasan terhadap perempuan adalah laki-laki. Setidaknya, jika melihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Partner for Prevention (P4P) menjawab bagaimana perilaku laki-laki terkait dengan kekerasan. Hasil temuan di Indonesia cukup mengejutkan meskipun sudah dapat diduga. Prevalensi angka kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki, baik terhadap pasangan maupun non – pasangan cukup tinggi. Sebagai contoh, dalam ranah kekerasan emosi, 46,8 % – 64,5% sementara ranah kekerasan seksual, 22,3% – 49,2% laki-laki mengaku pernah melakukannya.

Data yang tersaji di atas sepertinya hanyalah statistik belaka namun berbagai kasus yang muncul di permukaan dan diliput oleh media seolah memberikan gambaran betapa kompleksnya persoalan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Berita mengenai kekerasan seksual hampir setiap hari muncul di berbagai media namun sekali lagi victim blaming kerap kali dilakukan oleh media.

Respon dari pemerintah pun tidak jauh berbeda, tidak ada upaya konkret dalam memberikan perlindungan terhadap anak dan perempuan. Meskipun mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menetapkan Gerakan Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Kejahatan Seksual terhadap Anak. dan Joko Widodo, melalui Nawacita berjanji untuk memberikan perlindungan pada anak dan perempuan serta kelompok marginal lainnya, tidak ada langkah yang cukup signifikan.

Kampanye #16HAKTP

HAKTP atau Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) adalah sebuah kampanye Internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Gerakan ini dimulai sejak tahun 1991, digagas oleh Women’s Global Leadership Institute dan didukung oleh Center for Women’s Global Leadership.

Kampanye dilakukan secara serentak di seluruh dunia selama 16 hari dimulai pada tanggal 25 November hingga 10 Desember setiap tahunnya. Tanggal 25 November dipilih sebagai awal dari kampanye 16 HAKTP merupakan peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Pemilihan tanggal 25 November berawal dari peristiwa pembunuhan tiga bersaudari Mirabal, penggiat perempuan yang aktif melawan rejim Rafael Trujillo di Dominika pada tahun 1960. Sejak tahun 1981, para penggiat perempuan di seluruh dunia memperingati hari kematian mereka yang kemudian ditetapkan oleh Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai Hari Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan Sedunia pada tahun 1999.

Kampanye ini berakhir pada tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Hari merupakan peringatan dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 yang saat itu beranggotakan 58 Negara. Pemilihan rentang waktu tersebut merupakan upaya simbolik untuk menghubungkan antara perempuan dan HAM serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah salah satu bentuk pelanggaran HAM.

Berawal dari obrolan beberapa individu yang peduli pada persoalan kekerasan terhadap perempuan, muncullah ide untuk membuat kampanye 16 HAKTP melalui media sosial. Mengapa media sosial? Setidaknya ada dua alasan utama. Pertama, kampanye melalui media sosial tidak membutuhkan biaya yang cukup besar seperti model kampanye konvensional lainnya. Kedua, dengan banyaknya pengguna media sosial, kampanye ini akan menjangkau lebih banyak orang untuk edukasi mengenai persoalan kekerasan terhadap perempuan.

Oleh karena itu, untuk memperingati 16 HAKTP 2015 dibuatlah kampanye “16 HAKTP; 16 Tulisan, 16 Desain Visual, 16 Video dan 16 Foto” dengan melibatkan para individu yang berkomitmen untuk berkontribusi. Mulai tanggal 25 November hingga 10 Desember, kampanye dilaksanakan dengan mempublikasikan 1 tulisan, 1 desain visual, 1 video dan 1 foto setiap harinya.

Bookmark and Share

Category: 16HAKTP, Kampanye

Leave a Reply