banner ad
banner ad

Politik Generasi Y

August 17, 2016

Oleh: Kris Herwandi

Setiap zaman ada anaknya. Setiap anak memiliki zamannya. Tesis ini mungkin berlaku untuk saat ini. Saat sebuah “generasi baru”  diharapkan mampu memegang kendali dalam setiap aspek, baik sosial, ekonomi sampai dengan politik.

Merujuk dalam buku Generations: The History of America’s Future (1991), William Strauss dan Neil Howe merumuskan sebuah teori yang mengemukakan bahwa “Generasi Y” merupakan generasi yang lahir di antara tahun 1980-an hingga 1990-an. Dengan kata lain, saat ini “Generasi Y”  tengah berusia 20-an hingga 30-an tahun.

Generasi Y ada pada era di mana teknologi sedang ada pada masa kejayaannya. Mampu menembus batas dan ruang dalam interaksi antar negara. Negara maju seperti Amerika dan Cina bahkan sedang merencanakan bagaimana menjalin interaksi antar planet dan galaksi, dengan tujuan untuk bisa menciptakan kehidupan baru di luar sana. Hal itu dimungkinkan apabila bumi tidak lagi memiliki kemampuan untuk menampung jumlah manusia atau karena bumi sudah  kehabisan sumber dayanya karena dieksploitasi oleh kepentingan ekonomi dan politik.

Tapi di sini kita tak ingin terlampau jauh untuk menancapkan sebuah mimpi dan harapan dalam melihat peran sebuah generasi. Seperti menciptakan kehidupan masa depan di Planet lain, misalnya. Akan tetapi berupaya melihat sebuah “peluang” Generasi Y di Indonesia di dalam pentas nasional maupun global secara politik.

Mengapa memilih secara politik? Karena  dunia sedang tumbuh dalam nuansa itu. Dimana kepemimpinan politik dibutuhkan untuk dapat menghubungkan satu sama lain. Antar negara di belahan dunia. Termasuk Indonesia. Kepemimpinan politik dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan bersama, seperti HAM, imigran, krisis ekologis, terorisme, korupsi, dan juga kemiskinan. Persoalan yang menjadi efek domino bagi keberlanjutan peradaban dunia di masa depan.

Berangkat dari peristiwa nasional, terbukti bahwa keputusan secara politik dapat mempengaruhi iklim ekonomi secara nasional. Hal demikian terlihat dari respon saat secara mengejutkan Presiden Jokowi mengangkat Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan, tokoh yang kualitasnya sudah diakui oleh dunia.

Sri Mulyani sendiri mengatakan dalam World Islamic Economy Forum bahwa salah satu yang “menguntungkan bagi Indonesia adalah bonus demografi”. Hampir 50 persen dari populasi penduduk kini berada dalam usia produktif di bawah 30 tahun. Menurutnya hal tersebut akan mempu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan. Tentu, pernyataan ini tidak bisa kita tangkap secara parsial.

Karena jika ada “peluang” di situ, pasti juga ada kemungkinan-kemungkinan lain. Seperti bonus demografi bisa saja membawa bencana. Karena cara berpikir dan sikapnya, misalnya, “Generasi Y” tidak mampu menunjung nilai-nilai global; seperti HAM,  imigran, demokrasi, ekologi, dan etika politik.

Indikator itu dapat diprediksi salah satunya dengan melihat kecenderungan berpikir atau posisi “Generasi Y” dalam menyikapi persoalan publik hari ini. Khususnya terkait persoalan dan tumbuh-kembangnya politik di Indonesia. Misalnya bagaimana sikap “Generasi Y” terkait persoalan di dalam negeri, baik di masa lalu ataupun saat ini, seperti kasus HAM, kerusakan ekologi, disparitas ekonomi, menyusutnya nilai-nilai demokrasi, dan politik yang semakin membusuk. Juga, kesanggupan  “Generasi Y” dalam bergaul secara global dalam hal politik.

Karena politik selalu memiliki peran penting dalam setiap aspek kehidupan sebuah bangsa. Ibarat kata, politik adalah hulu dari berbagai persoalan sekaligus jalan keluar bagi persoalan-persoalan di Indonesia bahkan dunia. Apabila hampir 50 persen penduduk Indonesia ada di usia produktif, tentu dinamika politik pun sangat dimungkinkan banyak dipengaruhi oleh peran “Generasi Y”. Di sinilah harapan itu muncul. Bahwa pentas politik dapat didominasi “Generasi Y” untuk arah yang lebih baik.

Klaim partai politik “Generasi Y” bahkan sudah ada yang memiliki, yaitu PSI (Partai Solideritas Indonesia), yang mengatakan bahwa partainya adalah partai anak muda. Walaupun demikian, kerja politiknya sampai saat ini masih bisa diperdebatkan lebih lanjut. Karena meski baru seumur jagung, PSI secara mengejutkan sudah menunjukan sikap politiknya secara jelas terhadap kekuasaan, yaitu mendukung Ahok bersama partai yang digawangi Generasi X seperti Golkar dan Nasdem, generasi yang di tangannya terdapat banyak noda dan dosa masa lalu.

Mungkin dapat dikatakan bahwa ini merupakan bagian kecil dari kegugupan “Generasi Y” dalam menghadapi kontestasi politik di Indonesia. Bahwa paradigma kerja politik “Generasi Y” belum pada tahap mengembalikan nilai-nilai politik pada yang virtue. Tetapi sebaliknya, masih ikut serta menceburkan diri pada arus politik yang didominasi oleh generasi sebelumnya.

Hal demikian tentu menjadi salah satu indikator bahwa bonus demografi atau lahirnya “Generasi Y” semestinya tidak ujug-ujug menjadi semacam kelatahan atau jargon untuk mengaduk-ngaduk sentimen emosional pembangunan sebuah bangsa. Melainkan sebagai bahan refleksi untuk mempersiapkan bagaimana semestinya peran “Generasi Y” dapat dioptimalkan dalam membangun politik yang etis.

Karena tanpa dipikirkan dan dipersiapkan, “Generasi Y” hanya akan menjadi sebuah tapak sejarah bernama “peluang” yang tidak akan membawa pesan apa-apa terhadap perubahan politik di masa depan. Malah sebaliknya, “Generasi Y” terperosok kembali pada cara berpikir masa lalu karena ketidakmampuannya dalam melihat persoalan politik hari ini secara jernih. Keletihannya melawan oportunisme politik yang sudah mengakar menjadikannya kian putus asa karena kehadirannya seperti tanpa pilihan. Asal berpolitik dan asal berpartisipasi. Tanpa ada nilai lebih di dalamnya.

Tentu ini bukan sesuatu yang diharapkan. Tapi bukan mustahil terjadi. Bahwa kemampuan “Generasi Y” hanya jadi kurir estafet politik generasi sebelumnya karena cara berpikir dan sikap politiknya yang terus menerus “membebek”.

Lantas, pertanyaannya, bagaimana persoalan masa lalu seperti HAM, persoalan saat ini — seperti  kerusakan ekologi, dan visi serta antisipasinya terhadap masa depan dapat dihadapi? Semoga ini dapat dijawab “Generasi Y”.

Bookmark and Share

Tags: , , , ,

Category: Kolom

Leave a Reply