banner ad
banner ad

Perempuan dan Transportasi Publik

December 1, 2015

Oleh: Anastasia Satriyo

Saya adalah perempuan berusia 25 tahun yang sehari-hari biasa menggunakan kendaraan umum untuk mencapai tempat tujuan saya beraktivitas. Mulai dari ojek, angkot berwarna biru sampai kereta komuter.

Sebelum naik kendaraan umum, beberapa perilaku antisipatif saya lakukan. Antara lain, menggunakan pakaian longgar dan tidak menggunakan make up saat naik kendaraan umum. Bahkan kalau perlu menutup wajah dengan masker penutup hidung dan mulut. Memang, pelecehan dalam bentuk komentar atau siulan yang tidak menyenangkan berkurang kepada saya. Tapi jika dipikir ulang, mengapa semua hal tersebut dibebankan kepada saya? Bukannya orang yang melakukan itu yang harus paham bahwa tindakan mereka mengganggu?

Saya merasa lebih nyaman ketika tidak dikomentari saat lewat di area umum. Banyak manusia yang berlalu lalang jadi biasa aja dong ya mestinya kalau ada orang yang lewat.

Saya juga memperhatikan di kendaraan umum yang saya gunakan, baik itu angkot maupun kereta komuter saya temui banyak perempuan yang mengakses kendaraan umum. Sekitar 70 sampai 80 % dari total penumpang menurut hitungan kasar saya. Maka menjaga keamanan dan kenyamanan perempuan di kendaraan umum adalah hal wajar dan sudah seharusnya dilakukan, karena perempuan termasuk pengguna kendaraan umum. Pemerintah sebagai pemegang mandat dari masyarakat, seharusnya bisa menyadari hal tersebut dan mengambil langkah-langkah untuk menjamin keamanan bagi para pengguna transportasi publik, khususnya perempuan

Di angkutan umum, usaha saling menjaga keamanan dilakukan oleh sesama pengguna kendaraan umum. Menjaga dalam hal ini bisa dalam berbagai bentuk, misalnya tidak diam saat melihat tindakan-tindakan yang dilakukan oleh penumpang lain yang membuat perempuan (atau penumpang lainnya) merasa tidak aman atau nyaman.

Di kereta komuter, usaha saling menjaga keamanan secara simbolik diperkuat dengan kehadiran petugas keamanan berpakaian seragam lengkap di setiap gerbong. Minimal ada satu sampai dua penjaga di setiap gerbong. Termasuk gerbong khusus perempuan yang dijaga oleh petugas keamanan laki-laki.

Saat harus menggunakan kereta komuter di malam hari, adanya petugas keamanan memberikan rasa aman kepada orangtua saya yang akhirnya mengizinkan saya menggunakan kereta komuter di malam hari karena mengetahui ada petugas keamanan yang bertugas di setiap gerbong. Namun bagi saya pribadi, sebenarnya efeknya tidak terlalu signifikan. Paling petugas keamanan akan membantu mengatur tempat duduk jika terlalu berdesakkan dan memberikan prioritas pada lansia, ibu hamil maupun ibu dengan anak balita untuk dapat memperoleh tempat duduk.

Terkait kesetaraan gender dan usaha untuk melakukan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan, saya merasa proses latihan di kehidupan sehari-hari untuk dapat saling menghormati dan menjaga kesetaraan dapat dimulai dari aktivitas menggunakan kendaraan umum bersama.

Selama 2,5 tahun ini saya menggunakan kereta komuter secara intens saya lebih sering menjumpai perilaku toleransi antar manusia justru pada gerbong kereta campuran. Manusia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan ada di satu gerbong yang sama. Laki-laki muda dan tegap memberikan tempat duduknya untuk perempuan tua, perempuan muda bisa memberikan tempat duduknya untuk bapak-bapak tua renta. Memberikan prioritas pada yang lemah dan membutuhkan, apapun jenis kelaminnya.

Sementara di gerbong perempuan, saya beberapa kali mengalami kejadian langsung adanya pertengkaran antara ibu-ibu yang membawa banyak barang dagangan dengan penumpang perempuan lainnya, dan pertengkaran antara ibu-ibu setengah baya dengan remaja perempuan. Perilaku agresif dan melukai orang lain, bukan hanya stereotipe atau hanya dimiliki laki-laki saja. Perempuan juga bisa berlaku agresif dan melukai secara verbal maupun fisik kepada perempuan lain. Maka yang diperlukan adalah kemampuan untuk mengelola emosi yang dilatih lewat kehidupan sehari-hari. Salah satunya mengelola emosi dalam hidup bersama dengan manusia lain di transportasi publik. Menjaga keamanan dan kenyamanan perempuan di transportasi publik adalah bagian dari menghargai dan menjaga kemanusiaan. Tugas dan peran yang perlu dilakukan oleh semua orang, semua manusia apapun jenis kelaminnnya.

Pengalaman saya tidak bisa menjadi landasan untuk mengeneralisir pengalaman perempuan-perempuan lain. Membaca data dari Komnas Perempuan, tercatat pada tahun 2014 terdapat 293.220 kasus kekerasan terhadap perempuan, baik di ranah privat maupun publik. Meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual dan kekerasan ekonomi. Di tahun 2014, kita dihebohkan dengan berita karyawati yang diperkosa petugas Transjakarta serta minggu lalu dengan berita karyawati yang diperkosa di jembatan Lebak Bulus.

Keamanan dan kenyamanan perempuan dalam menggunakan transportasi publik perlu menjadi perhatian bersama. Berhenti mengomentari dan mengambil kesimpulan pendek yang memojokkan korban, seperti “Pakai baju apa korban pada saat kejadian?”, “Kenapa malam hari masih ada di luar rumah” dan sebagainya.

Tubuh perempuan selalu menjadi arena pertarungan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan yang timpang. Kesadaran sebagai sama-sama manusia yang bermartabat, kiranya dapat membuat manusia apapun jenis kelamin dan pilihan orientasi seksualnya bisa sama-sama saling menghargai dan menjaga.

Kota yang beradab adalah kota yang memberikan perlindungan, keamanan dan kenyamanan yang sama bagi seluruh warga kota, baik laki-laki maupun perempuan. Masyarakat yang bermartabat pun dilihat dari bagaimana menjaga sesama manusia dan menyadari hak dari manusia lain.Kita baru bisa dibilang sebagai manusia dan masyarakat yang terdidik dan beradab, jika bisa memanusiakan manusia lain. Termasuk memanusiakan perempuan dalam ranah publik maupun privat.

If you want to know how civilized a culture is, look at how they treat it’s women”-Bacha Khan.  Mengutip perkataan Pak Rocky Gerung, dosen Filsafat Universitas Indonesia di zaman modern ini pertanyaan yang akan diajukan kepada kita adalah “Do you speak gender equality?”

Do you speak gender equality in public transportation?

Do you?

 

Anastasia Satriyo adalah mahasiswa psikologi yang sedang menyelesaikan S2 di bidang Psikologi Klinis Anak. Memiliki minat terhadap isu gender dan pernah menerbitkan buku self-publishing “Woman:Human, Refleksi 23 Tahun Perempuan Setengah Tionghoa”. Follow di @anasbubu dan blog pribadinya ningsplace.com

Bookmark and Share

Tags: , ,

Category: 16HAKTP, Kampanye

Leave a Reply