banner ad
banner ad

Perempuan dalam Peradaban Laki-Laki

November 26, 2015
Keep Smile and Destroy Patriarchy - komunalstensil / @komunalstensil

Keep Smile and Destroy Patriarchy – komunalstensil / @komunalstensil

Oleh: Arman Dhani

Di New York sekelompok pemuda melakukan eksperimen tentang Catcalling. Catcalling adalah perilaku menggoda, melecehkan dan memanggil perempuan di pinggir jalan dengan tendensi seksual dan merendahkan mereka. Eksperimen ini dilakukan dengan membiarkan seorang perempuan seksi berjalan sendirian di jalan, lantas apabila ada lelaki, baik tua atau muda, melakukan Catcalling sekelompok pemuda ini akan bertanya kepada mereka mengapa melakukan itu.

Dalam eksperimen tersebut ditemukan bahwa ada lelaki yang mengatakan bahwa Catcalling adalah hak individu warga negara. Bahwa apa yang ia lakukan adalah kebebasan berekspresi. Tiga remaja lelaki berkata bahwa ia melakukan Catcalling karena ia merasa bahwa perempuan berpakaian seronok meminta untuk diperlakukan demikian. Mereka “Suka” jika dibilang seksi, cantik atau sejenisnya karena memang mempertunjukan bagain badan secara suka rela agar jadi perhatian.

Menarik kemudian ketika para pelaku Catcalling ini ditanya apakah mereka rela jika kakak, adik, saudara atau ibunya diperlkukan serupa? Dipanggil, dirayu dan dipanggil secara hina di tengah jalan seperti hewan. Kebanyakan dari mereka menolak. Bagi mereka ibu, adik, kakak atau saudara perempuannya tak boleh dilecehkan apapun pakaiannya. Namun ada pula lelaki yang tidak melakukan Catcalling, tapi dengan sopan menghentikan si perempuan, bertanya baik-baik dan meminta agar si perempuan mau sekedar minum kopi dengannya. Meski ditolak, si lelaki tetap sopan dan tidak melakukan tindakan kasar.

Di tanah air beberapa kelompok laki-laki, yang kita kenal sebagai selebtweet, aktif memprotes atau sekedar menyayangkan tes keperawanan untuk polisi wanita. Ini hal yang baik, bahwa pada satu titik kita bisa bersepakat bahwa moralitas seseorang tak bisa dan melulu diukur dari perawan atau tidak perawannya seseorang. Bagaimana jika si calon polwan adalah korban perkosaan, seorang penyintas yang hendak menjadi penegak hukum karena tak ingin ada korban perkosaan baru.

Bagaimana jika si calon polwan tidak perawan karena selama ini ia menjadi korban pelecehan seksual dan ingin menjadi polisi agar tak ada lagi korban sepertinya. bagaimana jika si calon polwan tidak perawan karena kecelakaan, janda dan sebagainya. Lagi pula jika hendak adil kita perlu bertanya bagaimana cara menguji keperjakaan seseorang?

Yang agak mengganggu adalah para selebtweet yang mengkritisi kebijakan tes keperawanan polwan adalah orang yang sama yang kerap mengunggah foto-foto seksi perempuan di twitter. Pada satu titik saya sulit membedakan antara praktik catcalling dengan mengunggah foto seksi lantas diberi caption seperti “Tumpah” untuk menunjukan bagian payudara yang besar, atau “Padat” untuk menunjukan bagian pantat yang besar.

Pada satu titik saya berpikir baik tes keperawanan ataupun menggunggah foto seronok perempuan di lini masa tak ada bedanya. Keduanya sama sama merendahkan. Oh iya, saya juga kerap mengunggah foto perempuan seksi kok. Dalam hal ini saya pikir saya juga sama brengseknya dengan lelaki misoginis tadi. Tapi kemudian pertanyaannya, sampai kapan kita akan tetap bersikap brengsek dengan merendahkan perempuan melalui foto-foto tadi?

25 Nopember dikenal sebagai hari penghapusan kekerasan terhadap perempuan internasional. Bagi saya adanya peringatan atau keberadaan ini adalah penghinaan terhadap peradaban. Bahwa dalam sekian ribu tahun peradaban manusia, laki-laki masih melakukan kekerasan terhadap perempuan. Bukan, bukan menempatkan perempuan sebagai objek yang lemah atau sosok nomor dua ketimbang jenis kelamin laki-laki, tapi fakta bahwa sekian tahun sekolah, sekian juta buku dan sekian ratus norma sosial rupanya masih gagal membuat laki-laki menjadi mahluk yang beradab, dalam hal ini dengan tidak menyakiti sesamanya.

Bahwa rupanya membaca sekian banyak buku, mendengarkan sekian banyak musik cult, menonton sekian banyak film anti mainstream, mengapresiasi sekian banyak karya seni atau bahkan menjadi penulis snobs tidak menyelamatkan kamu dari kekerdilan jiwa. Siapapun, termasuk saya, bisa saja jadi mahluk pra sejarah dengan kecerdasan lebih redah dari bekicot ketika berhadapan dengan ego syahwat.

Ego syahwat adalah eko pra sejarah laki-laki yang gagal memahami bahwa manusia, baik lelaki dan perempuan adalah setara, bahwa dominasi seksual dan kultural yang dilegitimasi dengan kekerasan hanya cocok untuk kera kera yang gagal mengalami evolusi biologis. Kelemahan yang disubstitusi dengan perilaku agresi adalah sebuah kedunguan, lebih dungu lagi apabila ia dilakukan atas nama cinta. Semua orang waras pasti paham bahwa tidak ada cinta yang ditunjukan dengan kekerasan.

Salah satu survey yang dilakukan oleh Partner For Prevention (P4P) yang berjudul  “Why Do Some Men Use Violence Against Women and How Can We Prevent It?” kita bisa melihat alasan-alasan mengapa kekerasan tetap dilakukan oleh laki-laki. Salah satu negara yang menjadi lokasi survey ini adalah Indonesia, bersama dengan Bangladesh, Kamboja, Cina, Sri Lanka dan Papua New Guniea. Situs lakilakibaru.or.id merilis bahwa di Indonesia, Rifka Annisa menjadi salah satu mitra dalam melakukan survey tersebut di tiga wilayah di Indonesia; Jakarta, Purwerejo dan Papua.

Hasil temuan di Indonesia cukup mengejutkan meskipun sudah dapat diduga. Prevalensi angka kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki, baik terhadap pasangan maupun non pasangan cukup tinggi. Sebagai contoh, dalam ranah kekerasan emosi, 46,8 % – 64,5% sementara ranah kekerasan seksual, 22,3% – 49,2% laki-laki mengaku pernah melakukannya. Angka ini berbanding lurus dengan meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dalam catatan Tahunan Komnas Perempuan 2013 terdapat lebih 279.760 kasus yang terlaporkan, baik di ranah publik maupun domestik.

Dalam peradaban yang sempurna seorang perempuan tidak boleh dibiarkan sendiri menghadapi kekerasan. Bukan karena perempuan adalah mahluk inferior, namun atas nama kemanusiaan dan hati nurani, kekerasan mesti dilawan. Kita mesti memahami bahwa untuk memutus mata rantai kekerasan domestik terhadap perempuan laki-laki mesti ambil bagian. Salah satu terobosan penting dengan menjalankan program konseling untuk laki-laki pelaku kekerasan dalam rumah tangga.

Alasannya sederhana, meski sangat menyakitkan, dalam artikel berjudul Laki-laki di Indonesia: Kondisi Terkini, Tantangan dan Harapan, disebutkan bila mayoritas perempuan korban KDRT yang didampingi memilih kembali kepada pasangannya yang notabene adalah pelaku kekerasan. Kondisi ini kemudian menempatkan kembali korban dalam posisi yang rentan dan kembali ke dalam lingkaran kekerasan.

Penting bagi laki laki untuk terlibat dan ambil bagian dalam usaha melawan kekerasan terhadap perempuan dan memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender. Bukan demi alasan maskulin seperti perempuan harus dilindungi atau sejenisnya, tapi lebih pada upaya sadar bahwa sebagai mahluk beradab dan berpendidikan kekerasan, apapun itu mesti dihapuskan. Mustahil untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan tanpa melibatkan laki-laki karena faktanya bahwa mayoritas pelaku kekerasan adalah laki-laki.

Isu maskulin bahwa lelaki yang hebat adalah lelaki yang dominan dan menggunakan kekerasan terlalu dalam merasuk ke dalam banyak orang. Padahal ide ini bermata ganda, ia bisa jadi legitimasi kekerasan dan juga bisa jadi penyebab ketidaktahuan seorang lelaki bahwa kekerasan bukan satu-satunya jalan penyelesaian masalah. Sebenarnya ada banyak  laki-laki yang tidak setuju dengan kekerasan terhadap perempuan namun mereka diam karena tak tahu harus bersikap apa.

Melalui kepedulian bahwa laki-laki dapat terlibat dalam usaha menghentikan kekerasan pada perempuan, kita bisa menjadikan laki-laki tadi sadar tentang banyak hal. Seperti bahwa kekerasan semestinya tidk pernah dan tidak perlu terjadi apabila ada komunikasi yang setara, kesadaran bahwa sebuah hubungan yang dilandasi cinta seharusnya tidak dilakukan dengan tindakan agresif. Perlahan namun pasti ada usaha untuk menjadikan pelaku kekerasan menjadi orang yang sadar akan perbuatannya.

Klise memang, tapi usaha ini penting. Bahwa dalam peradaban yang kepalang misoginis dan menjadikan perempuan sebagai sansak, laki-laki yang menolak kekerasan dianggap alien. Namun hal ini bukan tidak mungkin terjadi. Peradaban yang menolak kekerasan bisa dicapai dengan usaha keras berpikir, kemauan untuk membuka pikiran dan kerendahan hati. Sesederhana itu.

 

Arman Dhani adalah editor The GeoTimes yang juga aktif menulis di berbagai media. Follow kicauannya di @arman_dhani dan simak blognya di www.kandhani.net 

Bookmark and Share

Tags: , , ,

Category: 16HAKTP, Kampanye

Leave a Reply