banner ad
banner ad

Perempuan dalam Kekerasan Kultural

November 25, 2015
The Birth of Venus: Your Body is a Battlefield (Gery Paulandhika / @dysimaginarium)

The Birth of Venus: Your Body is a Battlefield (Gery Paulandhika / @dysimaginarium)

Oleh: Arman Dhani

Bagaimana semestinya sebuah hubungan antar dua manusia dijalani? Apakah kekerasan bisa digunakan pembenaran ketika ada masalah? Sejauh mana kekerasan bisa ditolerir dan diterima? Pertanyaan-pertanyaan ini mengganggu saya ketika belajar tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam sebuah hubungan entah pacaran atau pernikahan. Selama ini, saya menganggap, penggunaan kekerasan adalah hal yang wajar, tentu ia tergantung pada niatnya.

Belakangan saya sadar ini adalah hal yang salah. Akar dari banyak kekerasan adalah ketidaktahuan pemahaman akan relasi kuasa. Perempuan dan laki-laki dalam hubungan apapun semestinya sejajar dan penggunaan kekerasan atau hukuman menunjukan ada ketimpangan relasi kuasa di antaranya. Seseorang merasa lebih tinggi dan punya kuasa untuk menghukum, sementara yang lain dipaksa untuk tunduk dan menerima hukuman. Relasi ini banyak terjadi dan kerap kali kekerasan dalam hubungan dibenarkan atas nama cinta.

Beberapa kali saya menemukan curhat atau cerita dari kawan yang mengalami kekerasan dalam pacaran. Mereka, kebanyakan perempuan, mengaku mengalami kekerasan dalam bentuk tamparan, tendangan, makian dan paksaan melakukan hubungan seks dalam kesehariannya. Ketika saya meminta mereka untuk berpisah dan melakukan perbaikan diri selalu saja ada alasan, “Biasanya dia ga gitu kok. Biasanya dia manis dan penyayang,” masalah ini terus menerus terjadi dan kekerasan dibenarkan atas nama sayang.

Tidak ada cinta yang ditunjukan dengan penggunaan kekerasan. Memukul, apalagi melakukan pemaksaan hubungan badan, bukanlah satu bentuk kasih sayang. Ia hanya dan hanya bentuk dominasi kuasa. Siapapun yang ingin mengakhiri kekerasan terhadap perempuan semestinya melihat variabel kesetaraan dalam hubungan sebagai akar masalah. Selama perempuan dianggap sebagai bawahan atau rekan yang tidak setara, selama itu pula mereka akan rentang mengalami eksploitasi dan mengalami kekerasan.

Komnas Perempuan mencatat pada 2014, jumlah Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) di Indonesia tercatat sebanyak 293.220 kasus. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 279.688 kasus. Dalam laporan tersebut, kasus kekerasan fisik  masih  menempati  urutan  tertinggi  pada tahun 2014,  yaitu  mencapai 3.410 (40%), diikuti posisi  kedua  kekerasan  psikis  sebesar  2.444  (28%), kekerasan  seksual  2.274  kasus  (26%)  dan  kekerasan ekonomi 496 kasus (6%). Urutan di atas sama dengan data tahun 2013 yaitu kekerasan fisik  tercatat sebesar 4.631  kasus (39%), pada urutan  kedua  adalah  kekerasan  psikis  sebanyak 3.344 kasus  (29%), lalu  kekerasan  seksual  2.995 kasus  (26%)  dan  kekerasan  ekonomi  mencapai 749 kasus (6 %).

Kekerasan terhadap perempuan sudah menjadi penyakit serius yang perlu penanganan cepat. Tanpa ada upaya memahami akar masalah, solusi yang diberikan mustahil akan menangani kekerasan ini. Dalam laporan tersebut sebagian besar kasus kekerasan terhadap perempuan dilakukan oleh laki-laki. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Partner for Prevention (P4P) menunjukan prevalensi angka kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki, baik terhadap pasangan maupun non – pasangan cukup tinggi. Sebagai contoh, dalam ranah kekerasan emosi, 46,8 % – 64,5% sementara ranah kekerasan seksual, 22,3% – 49,2% laki-laki mengaku pernah melakukannya.

Saya percaya kekerasan terhadap perempuan lahir dari ketidaktahuan laki-laki akan kesadaran gender. Dalam banyak hal saya tidak bisa menyalahkan 100% keengganan laki laki untuk belajar tentang masalah gender. Budaya patriarki yang membentuk sebagian besar pria di Indonesia menganggap bahwa relasi kesadaran gender adalah hal yang tabu. Perempuan dibentuk, dikonstruksi dan dicitrakan berdasarkan selera laki-laki, yang kemudian ketika kekerasan terjadi, dibenarkan sebagai bentuk pendidikan terhadap perempuan.

Hal lainnya adalah keengganan untuk mempelajari feminisme yang menjadi pengantar utama memahami masalah gender. Feminisme kerap dianggap sebagai paham buruk yang berusaha menjatuhkan derajat laki-laki. Kecurigaan konyol ini lahir karena kata feminisme itu sendiri. Beberapa kawan saya menganggap bahwa feminisme adalah paham yang membela perempuan dan ingin membuat laki-laki seperti perempuan. Kesalahpahaman ini semakin diperparah dengan kondisi tradisi dan dogma agama yang ada. Feminisme dianggap sebagai kajian tidak penting dan bertentangan dengan nilai-nilai moral yang berlaku.

Norma kebanyakan masyarakat di Indonesia menetapkan oposisi biner dalam pembentukan karakter gender. Misalnya, laki-laki tidak boleh menangis, perempuan harus bisa masak, lelaki harus jadi pemimpin, perempuan mesti nurut kepada suami, dan suami mesti menafkahi telah membentuk karakter gender sesuai dengan standar patriarkhis. Haram hukumnya laki-laki menunjukan perasannya atau bersikap melankolis. Seorang lelaki mesti kuat, mesti gagah dan mesti mengayomi perempuan. Pemahaman inilah yang kemudian melahirkan kebudayaan machoisme yang menempatkan perempuan sebagai benda bukan rekan setara.

Laki-laki dikonstruksi menjadi hebat dan keren jika bisa menundukan perempuan. Mereka dianggap jantan dan hebat jika memiliki pasangan perempuan lebih dari satu. Sementara jika sebaliknya terjadi, perempuan akan dicemooh. Perempuan yang kuat dan hebat dianggap tomboi dan menyalahi kodrat, sementara jika memiliki pasangan lebih dari satu dianggap nakal dan binal. Konstruksi ini dilegitimasi dengan banyak hal seperti agama, kesusilaan dan juga norma masyarakat.

Feminisme dan kesetaraan gender tidak berusaha untuk membuat perempuan jadi jagoan dan kuat atau memiliki banyak suami. Kecurigaan seperti ini dikekalkan oleh agamawan yang menganggap bahwa feminisme adalah ajaran barat dan kesetaraan gender melawan kodrat Tuhan. Perempuan terus menerus direpresi dan dibuat tunduk oleh berbagai aturan yang mereka sendiri tak pernah diajak serta menyusun. Kekerasan kultural ini yang kemudian menjadi sumbu dari kekerasan fisik dan represi yang dialami perempuan saat ini.

Tentu ada banyak hal yang mendasari terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Kemiskinan, gangguan kejiwaan pelaku,  tingkat pendidikan yang rendah, dan kebudayaan yang melanggengkan patriarki juga menjadi sumber terjadinya kekerasan. Namun melepaskan pemahaman gender dari kasus kekerasan terhadap perempuan dapat melahirkan bias penyelesaian masalah. Ia malah bisa menjadi sumber masalah baru, seperti framing penyalahan korban karena kekerasan yang terjadi pada dirinya.

Di Indonesia korban perkosaan kerap mengalami penyosokan negatif. Label label seperti perempuan nakal, gak punya adat, dan pantas diperkosa adalah kata-kata yang kerap digunakan untuk pembenaran pemerkosaan. Seolah-olah jika perempuan memakai rok mini, pakaian terbuka atau pulang malam dibenarkan untuk diperkosa. Penyosokan negatif ini tidak hanya dilakukan oleh orang asing, tapi juga orang-orang terdekat. Tidak sedikit korban perkosaan yang disalahkan keluarganya sendiri karena alasan-alasan tadi, berpakaian minim atau keluar malam tanpa penjagaan.

Di sini pemahaman akan masalah gender menjadi penting. Ia adalah panduan dan juga pedoman cara pikir untuk memahami bagaimana kekerasan terhadap perempuan semestinya ditangani. Cara pandang yang berbasis gender bisa menjadi kunci untuk mengakhiri lingkaran kekerasan terhadap perempuan. Itupun kalau kita mau.

 

Arman Dhani adalah editor The GeoTimes yang juga aktif menulis di berbagai media. Follow kicauannya di @arman_dhani dan simak blognya www.kandhani.net 

Bookmark and Share

Tags: , , ,

Category: 16HAKTP, Kampanye

Leave a Reply