banner ad
banner ad

Kontribusi Pornografi dalam Budaya Perkosaan

November 28, 2015

Oleh: Kartika Jahja

Adegan dibuka dengan seorang perempuan membuka pintu. Di luar berdiri laki-laki kekar berkemeja flanel, menenteng kotak perkakas. “Anda yang menghubungi saya?” tanya laki-laki itu sambil mengunyah permen karet. “Ya, mesin cuci saya rusak,” jawab si perempuan dengan akting yang sangat buruk. “Bisakah anda memperbaikinya?” Ia mempersilakan laki-laki itu masuk. Perempuan ini lalu membungkuk di depan mesin cucinya. Bokongnya yang dibalut rok mini ketat dan celana dalam renda warna hitam memenuhi layar. Si laki-laki menatap sambil menelan ludah. Perempuan itu semakin menjadi, meliuk-liukkan pinggulnya, meraba-raba tubuhnya, menjilat bibirnya.

Detik berikutnya laki-laki itu menyergap si perempuan dari belakang. “Hey, what are you doing?” protes si perempuan. Ia mendorong si pria kekar dengan tangan mungilnya, tapi si kekar tak bergeming. Terus menciuminya. Lama kelamaan si perempuan mulai membalas ciuman si laki-laki. Dan singkat cerita mereka bercinta dengan hebat seperti dua binatang liar.

Masuk akalkah? Tak perlu masuk akal. Ini bukan realita. Ini film porno.

Perempuan menggoda. Laki-laki tergoda. Perempuan jual mahal. Laki-laki terus merangsang. Dan akhirnya perempuan terbakar birahinya sampai memohon-mohon “fuck me, fuck me…” Premis seperti ini begitu sering dipakai dalam film porno, terutama pornografi heteroseksual mainstream. Dengan berbagai variasi tentunya. Ada yang antara ibu rumah tangga dan tukang ledeng. Ada yang antara bos dan sekretarisnya. Atau dokter dengan pasien. Tapi templatenya kurang lebih sama. Pesan yang disampaikan juga sama; yaitu perempuan yang menolak berhubungan seks sebenarnya hanya pura-pura tidak mau dan harus terus dipaksa sampai mau. Benarkah demikian?

Pornografi adalah rekayasa, sama seperti sinetron dan reality show. Posisi-posisi seksual yang kita lihat dalam film porno misalnya, lebih tepat disebut akrobatik dibanding erotik. Sungguh, apabila anda selalu bercinta dengan posisi-posisi ala bokep, maka anda hanya menuai pegal linu dan bukan kenikmatan. Begitu juga dengan alur cerita yang umum kita lihat dalam film porno. Premis di atas misalnya, adalah fantasi seorang penulis naskah bokep yang kemudian didaur ulang lagi dan lagi oleh penerus-penerusnya.

Pornografi adalah hiburan. Ia bukan representasi seksualitas manusia. Kita tahu ini. Tapi sialnya, banyak laki-laki dan juga perempuan belajar mengenai seks dan seksualitas dari film porno (karena katanya pendidikan seksual di sekolah melanggar nilai-nilai budaya dan agama). Juga tak bisa dipungkiri bahwa pornografi adalah sebuah produk massal yang sangat mudah didapatkan.

Suka tidak suka ia menyusup ke pola pikir kita dan membentuk persepsi kita soal seksualitas dan peran gender laki-laki dan perempuan. Misalnya, peran laki-laki yang umumnya menjadi agresor dalam hubungan seks. Dalam hubungan seks ala bokep, laki-lakilah yang bertugas mengkomando perempuan untuk melakukan aksi-aksi dan posisi-posisi seksual. Sementara perempuan dalam pornografi ditempatkan tidak lebih dari objek seks.  Refrain umum yang dilekatkan pada aktor perempuan dalam industri pornografi adalah “saya seorang pelacur, pakailah saya”.

Dalam dunia pornografi, laki-laki mempunyai seksualitas sementara perempuan adalah seks itu sendiri. Secara visual perempuan dalam pornografi mainstream disajikan sebagai potongan-potongan tubuh yang diseksualisasi; payudara, bokong, anus dan vagina. Posisi aktor dan kamerapun diatur untuk menampilkan bagian-bagian tubuh ini secara maksimal. Sementara tubuh (dan kadang identitas) aktor laki-laki pada umumnya tak terlalu terekspos.

Apa kaitan pornografi dengan rape culture? Tentunya tidak senaif mengatakan bahwa menonton bokep membuat orang menjadi ingin memperkosa. Tujuan tulisan ini bukan menceramahi anda untuk berhenti mengkonsumsi pornografi, tapi untuk merefleksikan bagaimana sebagian besar pornografi membangun konstruksi kultural seks yang memperkuat rape culture.

Dari sisi positifnya, dekade terakhir ini industri pornografi mulai menunjukkan keragaman. Ada misalnya genre ‘feminist porn’ atau film porno yang dibuat dengan sudut pandang feminis. Ada film porno yang dibuat dengan target market perempuan. Tapi itupun masih segelintir. Selama berpuluh-puluh tahun sebelumnya dan sampai sekarang, industri pornografi adalah taman bermain laki-laki. Meskipun nama-nama  yang terkenal adalah aktor-aktor perempuannya, mereka tak lebih dari boneka yang didagangkan. Pornografi dibuat oleh laki-laki, dijual oleh laki-laki, untuk dikonsumsi laki-laki.

Dan dari sudut pandang selangkangan (bukan otak) para pelaku industri ini, dari buku Getting Off, seperti inilah gambaran umum perempuan dalam pornografi:

  • Setiap perempuan ingin disetubuhi semua laki-laki setiap waktu. Perempuan selalu horny dan selalu siap mengangkang untuk laki-laki manapun yang sedang horny.
  • Perempuan menikmati aksi seksual apapun yang dilakukan laki-laki. Mulai dari posisi yang akrobatik hingga menjambak rambut, deep throat, spanking, dan lain-lain. Bahkan bila ia berteriak kesakitan, sebenarnya ia menikmatinya
  • Perempuan yang tidak masuk ke dalam kedua kategori di atas akan menjadi seperti itu apabila dipaksa atau dimanipulasi dengan tepat.

Tema yang pertama memberi pandangan bahwa perempuan adalah seks. Bahwa tidak ada yang disebut perkosaan, sebab semua perempuan haus akan seks, bahkan bila mereka tidak mau mengakuinya atau menolak, atau melawan. Tema kedua mengajari pria bahwa yang terpenting dalam hubungan seks adalah memenuhi kepuasannya sendiri, bukan kepuasan dirinya dan pasangannya. Gabungan dari kedua tema ini memberi pandangan bahwa perempuan bersedia (atau harus bersedia) untuk berhubungan seks dalam bentuk apapun, kapanpun dan dengan siapapun. Dan sudut pandang ini adalah resep untuk perkosaan. Tema ketiga adalah puncaknya; perempuan yang memegang kendali atas hasratnya sendiri , yang tidak masuk ke dalam dua tema sebelumnya, dapat ‘dikendalikan’ dengan cara kekerasan. Dalam penggambaran ini, dominasi laki-laki dianggap sudah semestinya. Maka dalam konteks pornografi, seks = pria menerima kenikmatan fisik dari perempuan.

Tapi posisi kuasa yang diberikan oleh pornografi kepada laki-laki tak selamanya menguntungkan laki-laki. Michael Betzold menuliskan “Meskipun pornografi mewujudkan fantasi laki-laki tentang posisi kuasanya dalam masyarakat, namun dampaknya justru melumpuhkan laki-laki dengan semakin menjauhkan mereka dari kebutuhan emosionalnya. Selain menumbuhkan fantasi yang destruktif bagi perempuan, pornografi juga mendorong perilaku yang destruktif bagi pria. Dengan memberikan substitusi untuk kepuasan, pornografi membuat pria sulit untuk membangun relasi dengan perempuan sebagai manusia. Pornografi menyebabkan pria berekspektasi bahwa perempuan akan berpenampilan dan berperilaku seperti sex dolls, dan seks bisa didapatkan dengan cepat, mudah, tanpa komitmen dan bahkan tanpa perasaan.”

Pornografi menawarkan seks sebagai sesuatu yang erotis, bombastis, panas, dan liar. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan saya sendiri dari waktu ke waktu menginginkan seks yang ‘menggelegar’ macam ini. Tapi bagi saya pribadi, ketertarikan, chemistry, koneksi, dan keintiman dalam seks adalah hal yang jauh lebih penting dari sekedar bergulat di ranjang.

Sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud untuk menjadi anti pornografi ataupun menghakimi para penikmat pornografi. Hanya sekedar menebalkan garis batas antara seksualitas yang anda lihat dalam film porno dengan seksualitas nyata antar manusia di dunia nyata.

 

Kartika Jahja adalah seorang vokalis dan penulis lagu di grup Tika & The Dissidents. Penggiat di One Billion Rising Indonesia, Aliansi Laki-laki Baru , dan lain-lain. Saat ini sedang membangun inisiatif Bersama Project.

Bookmark and Share

Tags: , , ,

Category: 16HAKTP, Kampanye

Leave a Reply