banner ad
banner ad

Hey Ho Herbivora | Bagian 5: Pembalikan Nilai

September 25, 2015

Oleh: Abdullah Adnan*

Lalu lintas selalu padat pada hari senin. Hampir satu jam perjalanan waktu yang kubutuhkan agar sampai ke rumah Yfet. Rumah kelabu itu terasa luas dan dingin meski banyak barang yang berserakan di setiap ruangannya. Yfet terduduk santai di ruang kerjanya dibalut dengan kemeja abu-abu dan celana wol berwarna gelap.

“tembakau itu masih ada?”

“ya, ternyata Skandinavia tidak mengecewakan.” sambil merubah posisi duduknya, “bagaimana petualanganmu?”

“sulit dipercaya.”

“hem, begitu ya.”

“Aku berusaha menghubungimu kemarin, tapi teleponmu mati. Informan tengil itu, kau ingat? ia tewas. Lehernya patah. Lengkap dengan bangkai kambing yang terburai di sebelah jasadnya.”

Aku duduk di dekat meja berkasnya. Menunggu reaksi dan cerita yang akan ia bagi di ruangan berantakan ini. Penampilannya agak lesu, kukira ia mengalami hal yang sama denganku. Setidaknya satu bulan semenjak kasus ini dimulai, aku merasa ada perubahan pada Yfet. Dipertengahan, ada yang mengganjalnya. Semangatnya tinggi, tapi bisa kurasakan ia berusaha untuk tidak putus asa.

“itu lebih ajaib dari perjalananku kemarin.” wajahnya tidak menunjukkan rasa heran.

“kau dapatkan sesuatu?”

“Aku pergi ke peternakan di Utara perbatasan. Aku menemui Mariam. Dia adalah adik dari Turha, lelaki tua yang tewas di apartemen itu. Dia dan istri Turha itu bekas anggota Perempuan Mimpi generasi pertama. Tujuh generasi di atas Marni. Mereka memutuskan keluar karena sesuatu hal.”

“kupikir tadinya aku akan mengerti. Kau tahu, selama ini kita bekerja menyelesaikan teka-teki suatu perkara. Mempelajari modus-modus kejahatan atau tindakan menyimpang. Tapi sampai tahap ini aku taktahu lagi rasanya apa itu tindak kejahatan.”

“Ada suatu pokok pikiran di dalamnya, bahwa kemapanan suatu pemikiran mesti diruntuhkan dengan kemapanan lain. Organisasi penyukong Perempuan Mimpi ini mempercayai hal itu sejak zaman revolusi. Renungan itu akhirnya sampai pada titik pusaran yang serba kontradiktif. Lalu mereka memulai pembalikan nilai.”

“Aku tidak begitu yakin tentang apa yang kudapat setelah berbicara dengan Mariam. Namun bila pergerakan itu benar-benar ada, rasanya memang seperti hidup di dalam sastra. Itu yang kupikirkan belakangan ini.”

“Apa maksudmu dengan jika mereka benar-benar ada?”

Dia menatapku seolah ada beban yang sulit untuk dikatakan. Yfet menghembuskan nafas panjang, dia mengusap wajahnya seperti ingin membersihkan noda pada permukaannya.

“Organisasi yang kita incar ini, sudah terbentuk saat negara telah menghadapi perang. Saat itu kemiskinan merajalela, dan perang saudara pecah di ibukota sampai pelosok negeri. Mereka berawal dari para militan yang meneriakan revolusi. Sampai pada suatu titik sebuah arus merubah mereka menjadi terlalu ambisius. Mereka berubah dari kelompok pemberontak menjadi sebuah aliran pemikiran ekstrim yang memuja alam bawah sadar.”

“Aku tidak percaya persekutuan sihir atau apapun itu memang hal yang nyata, tapi kupikir ini hanya trik yang begitu cerdas untuk mengelabui siapapun demi mencapai tujuan mereka; mereka mempertemukan pokok pikirannya dengan realitas.”

“setidaknya itu yang kudapat dari cerita Mariam. Ia masih agak terpukul dengan kematian kakaknya, jadi aku masih menyimpan spekulasinya dengan cara tidak mengambil semua ceritanya sebagai sebuah kebenaran.”

“jadi kau pikir bahwa Mariam bisa saja mengarang cerita? bahwa ada sebuah organisasi yang ingin membalikan nilai dengan cara mengeluarkan pikiran mereka pada kenyataan dalam arti yang harfiah?”

Dia terdiam sebentar,

“kau pasti berpikir, manusia mana yang mengarang hal semacam itu? Aku tidak bisa meyakini perkataannya sama sekali sampai kubaca koran pagi ini. Kau sudah baca? Ada di halaman paling depan.” Ia melempar korannya ke meja kecil di dekatku.

Aku membaca judulnya, HEWAN YANG MELEDAK DI PETERNAKAN. Menurut wartanya, Kejadian terjadi saat tengah malam (pernyataan kepolisian setempat) Tiga ekor kambing dan satu ekor sapi terburai seolah meledak dari dalam. M yang merupakan pemilik peternakan gantung diri di dapur rumahnya pada waktu yang sama atau berdekatan. Kasus ini sedang ditangani lebih lanjut oleh pihak yang berwenang.

“boleh aku melihat surat itu lagi?”

Yfet mengambilnya di laci berkasnya dan memberikannya padaku.

“kini aku yakin surat itu merupakan ultimatum.” katanya sambil memberikan surat itu padaku.

 

MANIFESTO SURREALIS

Gajah berterbangan. Kota penuh api.

Jangan kau lawan, hati-hati! manusia yang menyendiri.

Apa yang paling kau takuti ketika gelap?

Ketika musuhmu muncul pada tempat yang takbisa kau hindari.

Tempat pikiranmu punya kendali atas dirimu.

Orang-orang akan mati.

Kambing-kambing akan mati.

Dan apa yang kau pikirkan tentang kegilaan,

Adalah kematianmu sebagai jati diri yang mapan.

 

Surat ini ditemukan di saku mantel Marni, lebih tepatnya diselipkan pada saku mantelnya, dibuat sengaja agar orang yang menemukannya akan membacanya. Surat ini, adalah sebuah ancaman.

“jadi pembalikan nilai itu sedang dimulai?”

“sepertinya begitu. Bagaimana menurutmu, mistis kan? Kita berhadapan dengan praktek klenik.”

“kupikir kau tidak akan mempercayai itu?”

“tentu saja tidak. Kita tidak perlu. Mereka telah memberikan sinyal, kita harus menghentikannya. Bagaimanapun itu.” Kata-katanya mengawang seperti gumpalan awan.

Jeda terjadi antara kami. Jeda itu berubah menjadi gumpalam awan. Gumpalan itu membesar membuat perasaanku jadi tidak nyaman. Yfet menyalakan kembali pipanya. Tembakau Skandinavia yang wangi semerbak dalam ruangan.

“baiklah. Anggaplah kelompok itu benar-benar melakukan pembunuhan beruntun kemarin. Bagaimanapun caranya. Kau yakin kelompok ini ada? Maksudku, di mana keberadaannya, itu yang mesti kita cari bukan?”

Dia menatapku dalam-dalam. Matanya yang besar, lengkungan alisnya yang jenaka seolah menelanjangi kegelisahanku. Bibir bawahnya bergerak. Yfet memiliki sifat yang unik. Meski seorang jenius, dia agak sedikit labil tentang perasaannya. Itu membuatnya semakin aneh.

“kulihat belakangan ini kau penuh dengan keraguan. Ada yang menganggumu? Aku tahu kasus ini telah banyak merepotkan kita secara psikologis. Kurasa kau pun bisa menilai bahwa aku agak sedikit tertekan. Jujur saja, ini memang menekanku. Tapi kurasa ini hanya proses pendewasaan kita dalam menuntaskan sebuah kasus. Jadi bagaimanapun melelahkannya ini, semua mesti berjalan seperti biasa. Selalu begitu.”

Mendengar perkataannya, aku teringat kejadian di bar kemarin, dan suara-suara yang kudengar saat kebakaran. Hal itu memang sangat menganggu. Aku merasa tidak enak. Entahlah, mungkin hanya perasaan takut. Tapi bukannya perasaan itu wajar? Aku mengalami banyak keanehan semenjak kasus ini dimulai. Sesuatu teror. Tapi bukannya itu yang kutakuti. Justru ada rasa ketidakmampuanku sendiri dalam menghadapi suatu kasus yang membayangiku. Kurasa hal buruk memang sedang terjadi.

“entahlah, kurasa kita hanya sedikit bingung. Setidaknya itu yang kurasa belakangan ini.”

Hujan turun di luar sana. Lagi, dengan cara yang tiba-tiba. Langit terang namun hujan turun deras. Kami terduduk dalam diam. Masing-masing di antara kami berpikir soal kejadian yang telah kami lewati. Ada apa?

Tiba-tiba suara teriakan terdengar dari luar. Aku tertegun. Yfet mengambil mantelnya lalu keluar dari ruangan. Aku mengikutinya keluar. Teriakan itu menjadi suara kerumunan yang panik. Kami berdua ke luar rumah dan mendapati ribuan ulat jatuh dari langit. Orang-orang berhamburan menghindari hujan yang bercampur dengan ulat gemuk berwarna hijau.

“apa ini?” Yfet tertegun.

Aku takberkutik sedikitpun. Yfet menarikku ke dalam rumah. Ulat-ulat itu menempel di segala tempat. Jalanan dipenuhi dengan makhluk kecil lonjong berwarna hijau dan bertubuh kenyal. Taklama hujan berhenti. Orang-orang melihat langit dengan pertanyaan dan rasa heran di wajahnya.

“itu ulat?” Yfet memastikan.

“kurasa iya. Bagaimana mungkin?” Aku sangat terkejut. Kejadian aneh seperti mengantri di depanku untuk menunjukkan wajah mereka masing-masing.

“ini fenomana alam yang aneh.” Yfet terlihat memikirkan sesuatu, “tapi kurasa manusia perlu sedikit hiburan di tengah aktifitas yang membosankan kan?” Lalu ia tertawa kecil.

“kurasa begitu.”

“ayo, kutunjukan sesuatu.”

Yfet kembali masuk ke ruangannya. Aku masih melihat ke luar. Orang-orang memastikan apa yang tadi menjatuhi mereka. Ulat-ulat tersebar di sepanjang jalan, menumpuk, menggeliat di segala tempat.

Apa ini sebenarnya? Perasaanku makin gelisah. Ketakutan itu sampai celah tenggorokanku. Ketika aku berbalik menuju ruangan, terdengar suara musik tiup di kejauhan.

 

(Bersambung)

 

Simak cerita sebelumnya:

Bagian 1 : Minggu Kambing

Bagian 2 : Memoar dan Feminisme

Bagian 3 : Minggu Kambing II

Bagian 4: Sinobue

***

*Penulis adalah seorang cerpenis sekaligus ilustrator lepas. Karya-karyanya dapat dinikmati di blog pribadinya nya datangdanmain.wordpress.com. Sempat menjadi mahasiswa Seni Rupa di STISI Bandung, kini ia sedang sibuk menggarap proyek ambisius audio book dengan nama ‘Revolusi dan Bangkit Lagi’.

Penulis dapat dihubungi melalui alamat email datangdanmain@gmail.com.  

 

Bookmark and Share

Tags: , , , , ,

Category: Literatur

Leave a Reply