banner ad
banner ad

Hey Ho Herbivora | Bagian 4 : Shinobue

September 13, 2015

Oleh: Abdullah Adnan*

hey ho 3

Shirakawa, Prefektur Gifu. 1920.

Musim dingin telah berlalu. Pohon Plum bermekaran. Sungai Shokawa mengalir deras, ketinggiannya hampir sama dengan permukaan tanah. Salju sudah hampir tidak bersisa di atap-atap. Sawah menghijau berpetak. Segala jenis burung berterbangan dari hutan bertengger di cuaca sejuk musim semi. Bunyi seruling mengawang ke penjuru desa. Seorang peternak ulat sutera khidmat memintal kepompong sutra dengan suara.

Haruki, Pria paruh baya bermuka jenaka membungkus ulatnya dengan rapih dan seksama. Rumahnya yang menyendiri di jalan setapak menuju bukit dikelilingi perdu yang penuh dengan ulat. Di depan perapiannya, ia memainkan shinobue. Sementara di halaman belakangnya, di bawah payung perdu, ulat-ulat sutra membungkus diri mengikuti alunan musik Min’yó.

Suhu agak sedikit hangat meski matahari hampir tidak terlihat. Haruki yang hidup sendiri termenung memperhatikan ladang ulat sutra miliknya. Shinobuenya sudah digantungkan dekat perapian. Asap mengepul di gelas keramiknya yang berisi teh hitam. Haruki mengelus rambutnya yang tipis.

“cuacanya bagus. Para ulat sudah kenyang. Agak sedikit aneh memang, tapi mereka tidur selama musim dingin. Musim semi tiba agak terlambat, mungkin keanehannya ada pada waktu yang saling tumpang tindih.”

Musim semi datang pada petengahan Juli. Haruki menyambutnya dengan upacara Obon. Potongan timun hijau disimpan pada mangkuk baja di bawah setiap perdu yang digantungi ulat sutera. Membungkus kepompong sangat tepat bila dilakukan ketika para leluhur datang menunggangi bintang jatuh. Musim dingin yang panjang telah menutupi pertunjukan kawanan bintang jatuh, karena itu, waktu yang sistematis sedikit terguncang akibat dari upacara Obon yang tidak mengenai sasaran; dan kepompong banyak yang berlubang.

“hanya sedikit dari mereka yang memakan sesembahan. Timun akan busuk nanti. Banyak yang busuk. Dan dari kebusukan itu keluar ulat yang akan memakan kepompong yang tidak sempurna. Kesempurnaan tidak berbicara saat waktu tumpang tindih. Di luar tempat yang berlubang itu, kesempurnaan semacam ketidaktahuan. Hemm, karena itu kesempurnaan begitu aneh.”

Haruki adalah pria sebatangkara yang tidak memiliki keluarga dengan cara misterius. Tidak ada marga, tidak ada kerabat dekat, tidak ada identitas. Haruki menjalani hidupnya dengan kenangan yang berjalan tidak linier. Kenangannya acak. Selama limapuluh tahun, Haruki hidup dalam kebingungan. Namun ia telah terbiasa dengan dirinya. Bergerak secara otomatis mengikuti kebiasaan.

Ingatannya yang bertumpuk secara acak tidak jarang menenggelamkan kenangannya. Peristiwa Perang Dunia Pertama misalnya, tidak memupuk rasa nasionalisme dalam dirinya, bagaimana bisa? dia tidak mengingat sama sekali bahwa negaranya ikut berperang di Eropa. Haruki sama sekali tidak ingat betapa desanya juga dihimbau untuk cinta terhadap kaisar dan negara. Berternak ulat suteralah yang ia ketahui. Pekerjaan ini pula takdiingatnya dengan baik mengapa perlu untuk dikerjakan. Haruki tidak mengerti betul tentang konsep timbal-balik. Hidupnya tidak memiliki tujuan yang mapan. Ada semacam kekuatan yang takterkendalikan mendorong Haruki melakukan hal kesehariannya.

Langit semakin terang. Kepompong yang berlubang digerogoti oleh cacing-cacing yang lapar. Haruki memainkan shinobuenya, mengantarkan para kepompong ke dunia lain dengan iringan Komori uta.

“tidur yang nyenyak kau kepompong dunia. Jadilah anak sutera yang cantik, yang baik pekertinya. Kau dipisahkan dari mimpi yang indah. Kenyataan datang padamu, sebuah kepahitan yang takterhindarkan. Kau tidak mati sebagai pahlawan.”

Komori uta dilantunkan sebanyak delapan kali. Kini Haruki merasa lapar. Ini saat yang tepat menenun kepompong menjadi benang. Shinobue kembali pada tempatnya di dekat perapian. Haruki menuju kabin rumah yang berada tiga anak tangga ke bawah dekat dapur. Ruangannya hangat dan tertutup, dipenuhi dengan keranjang kayu berisi kepompong yang sudah matang di atas jerami. Dua lampu minyak tergantung di dua sudut ruangan.

Haruki duduk di depan meja setinggi pinggang yang menopang keranjang kayu dari pinus. Ia mulai memilah kepompong yang lebih dewasa dengan sumpit. Warnanya agak kecokelatan, dan beberapa benjolan kecil di tubuhnya. Haruki mulai memakan kepompong perlahan. Dia mengunyahnya pelan seolah tidak ingin merusaknya sebelum menelan kepompong habis ke tenggorokan.

Delapan kepompong telah habis dimakannya dengan hati-hati. Haruki mengepal tangannya mengucap syukur. Hari telah siang, angin berhembus dari perbukitan menyapu desa. Suasananya tenang. Hanya ada beberapa orang dengan gerobak pengangkut ranting melewati rumah Haruki. Ia sedang membersihkan terasnya dari gundukan salju. Sesedikit Haruki tersenyum pada orang yang lewat.

Halamannya kini telah bersih dari salju. Siang menjelang, matahari terlihat anggun di selatan. Haruki masuk kamar mandi untuk mengambil benang yang akan keluar lewat proses pencernaan. Kamar mandinya sederhana, dengan lubang selokan besar, ember kayu dan sumur di pojokan. Haruki memisahkan benang sutra yang kusut dengan sisa-sisa kotoran dari ususnya

“Sungguh terpuji usus dan zat yang membantunya. Kupuja wahai usus dan kamar mandi yang nyaman. Sutra yang keemasan, berkilau di mataku, maka kupuja mata. Kupuja usus.

Begitulah Haruki membuat benangnya dari kepompong. Setiap Musim semi dibuka dengan upacara Obon, ditutup dengan pujian terhadap kondisinya yang sederhana. Pria sederhana dengan dunia yang kecil mulai memintal kebiasaannya.

“andai aku mengerti hidup dengan cara yang berbeda. Seperti benang-benang ini, bila mereka bukanlah benang, apa aku akan mengerti kesenangan ini? hemm…hemmm..” Haruki mengangguk.

Mata-mata berkedip di langit Shirakawa. Mengawasi ritual yang dilakukan Haruki. Dimensi tumpang tindih saat Haruki memintal potongan benang sutra menjadi kesatuan yang utuh. Semakin panjang benang yang dipintal, langit siang dan sore bertumpuk di belakang Mata-mata Yang Berkedip.

Lalu hujan turun.

Lalu Mata-mata Yang Berkedip itu semakin jelas. Langit menjadi cokelat seperti sapuan cat pada kanvas. Basah karena hujan. Suara musik tiup membuka gerbang waktu. Perasaan heran seorang anak manusia adalah tema sebuah drama.

Haruki menggantungkan benang sutra yang sudah setinggi manusia dewasa di kamar tidurnya. Warnanya agak keemasan. Ia merapihkannya dengan seksama. Sedangkan ingatannya sedang memainkan sebuah peristiwa di kota pelabuhan saat musim panas.

Kala itu senja. Burung camar terbang menuju matahari yang tenggelam. Haruki belia seorang diri duduk di atas peti kemas. Saat sebuah suara di kepalanya terdengar “klik” dunia sudah begitu lain. Masa kanak-kanaknya direnggut tanpa disadari. Mata-mata Yang Berkedip muncul setelah itu; di langit, di laut, di pori-pori kulitnya.

“hemmm…kenapa manusia mengingat hidupnya? Bahkan ia tidak mau meninggalkan traumanya. Ingatan memang aneh. Seperti kesempurnaan. Mengherankan.”

Di luar hujan masih turun dengan deras. Haruki memandang keluar. Desanya tenang dan sepi. Seolah dunia sudah redup di masa depan; dan inilah masa depan. Tempat yang tenang karena hujan, karena langit yang berwarna cokelat.

Pada suatu titik dalam dirinya, Haruki mulai berpikir. Hidup adalah cara misterius untuk saling berbicara dengan yang lain. Gema yang memantul dari makna sebuah kehidupan adalah sebuah ingatan yang turun bagai hujan dan meracuni danau di bawahnya, yang sepertinya, merupakan air ingatan yang sama. Namun hal itu tidak selalu benar, dan Haruki merasa dirinya hanya sebagai daun lotus yang mengangguk-angguk karena hujan.

(Bersambung)

 

Simak cerita sebelumnya:

Bagian 1 : Minggu Kambing

Bagian 2 : Memoar dan Feminisme

Bagian 3 : Minggu Kambing II

***

*Penulis adalah seorang cerpenis sekaligus ilustrator lepas. Karya-karyanya dapat dinikmati di blog pribadinya nya datangdanmain.wordpress.com. Sempat menjadi mahasiswa Seni Rupa di STISI Bandung, kini ia sedang sibuk menggarap proyek ambisius audio book dengan nama ‘Revolusi dan Bangkit Lagi’.

Penulis dapat dihubungi melalui alamat email datangdanmain@gmail.com.  

 

 

Bookmark and Share

Tags: , , , , ,

Category: Literatur

Leave a Reply