banner ad
banner ad

Fakta dan Angka: Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan

November 24, 2015

1151125-16HAKTP-Banner600-01

Beberapa bentuk kekerasan terhadap perempuan

  • Diperkirakan 35% perempuan dari seluruh dunia pernah mengalami kekerasan baik secara fisik maupun seksual oleh pasangan maupun bukan pasangan dalam hidup mereka. Meski demikian, beberapa penelitian nasional menunjukkan bahwa hingga 70% perempuan pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan oleh pasangan mereka sendiri.[1]
  • Perempuan yang menjadi korban kekerasan fisik dan kekerasan seksual oleh pasangan mereka sendiri memiliki kecenderungan dua kali lebih tinggi untuk melakukan aborsi, hampir dua kali lebih rawan mengalami depresi, dan di beberapa wilayah, satu setengah kali lebih berisiko terjangkit penyakit HIV dibanding perempuan yang mengalami kekerasan oleh bukan pasangan.[2]
  • Walaupun masih sedikit data yang tersedia—dan tingginya keberagaman dalam kekerasan psikologis yang diukur dalam lintas negara dan budaya—bukti yang ada menunjukkan tingginya rasio penyebaran. Sebanyak 43% perempuan dari 28 negara Uni Eropa pernah mengalami kekerasan psikologis yang dilakukan oleh pasangan sendiri dalam hidup mereka.[3]
  • Diperkirakan dari semua wanita korban pembunuhan di dunia pada 2012, hampir setengahnya dibunuh oleh pasangan mereka atau anggota keluarganya sendiri, dibandingkan dengan kurang dari 6% laki-laki yang terbunuh pada tahun yang sama.[4]
  • Pada tahun 2012, sebuah penelitian yang dilakukan di New Delhi menemukan bahwa 92% perempuan melaporkan telah mengalami beberapa bentuk kekerasan seksual dalam lingkup publik dalam hidupnya, dan 88% perempuan melaporkan telah mengalami pelecehan atau kekerasan verbal (termasuk komentar tidak menyenangkan terkait hal seksual, siulan, lirikan, ataupun perilaku cabul) dalam hidupnya.[5]
  • Secara global, lebih dari 700 juta perempuan yang hidup saat ini melakukan pernikahan anak (usia dibawah 18 tahun). Dari perempuan-perempuan tersebut, setiap satu dari tiga—atau sekitar 250 juta—menikah dibawah usia 15 tahun. Pengantin anak seringkali tidak dapat bernegosiasi secara efektif perihal seks yang aman—membuat mereka rentan terhadap kehamilan dini dan penularan infeksi secara seksual, termasuk HIV. [6]
  • Sekitar 120 juta anak perempuan di dunia (setiap satu dari sepuluh anak) telah mengalami pemaksaan persetubuhan atau pemaksaan perilaku seksual yang lain dalam hidupnya. Sejauh ini, pelaku terbanyak kekerasan terhadap anak perempuan adalah suami, mantan suami, atau pasangan. [7]
  • Diperkirakan 133 juta anak perempuan dan perempuan dewasa telah mengalami beberapa bentuk mutilasi genital di 29 negara Afrika dan Timur Tengah, di mana tindakan berbahaya tersebut berisiko tinggi menyebabkan pendarahan berkelanjutan, infeksi (termasuk HIV), dan komplikasi ketika melahirkan, ketidaksuburan, serta kematian.[8]
  • Perempuan dewasa terhitung hampir setengah dari seluruh perdagangan manusia yang dideteksi secara global. Perempuan dewasa dan anak-anak terhitung hingga sekitar 70%, dengan anak-anak perempuan mewakili dua dari setiap tiga anak korban perdagangan anak. [9]
  • Satu dari sepuluh perempuan di Uni Erope melaporkan telah mengalami kekerasan di dunia maya sejak usia 15 tahun (termasuk menerima pesan elektronik atau pesan singkat tak diinginkan, menyinggung persoalan seksual secara eksplisit, atau perlakuan tidak menyenangkan dalam situs jejaring sosial). Risiko tertinggi ada pada perempuan antara usia 18 hingga 29 tahun.[10]
  • Diperkirakan 246 juta anak perempuan dan laki-laki mengalami kekerasan di sekolah setiap tahunnya dan satu dari empat anak perempuan mengatakan mereka tidak pernah merasa nyaman menggunakan toilet sekolah, menurut sebuah survey pada pemuda yang dilakukan di empat wilayah. Tingkat dan bentuk kekerasan di sekolah yang dialami anak perempuan dan laki-laki berbeda, namun bukti menunjukkan bahwa anak perempuan berisiko lebih tinggi terhadap kekerasan seksual, pelecehan, dan eksploitasi. Selain kerugian psikologis, seksual, dan reproduksi, kekerasan berbasis gender di sekolah adalah tantangan terbesar bagi lembaga pendidikan pada umumnya, khususnya dalam memberikan hak edukasi untuk anak-anak perempuan.[11]

Upaya penindakan kekerasan

  • Pada mayoritas negara dengan data tersedia, kurang dari 40% perempuan yang mengalami kekerasan mencari berbagai macam pertolongan. Di antara perempuan-perempuan tersebut, kebanyakan mencari bantuan dari keluarga atau teman, dan sangat sedikit yang pergi ke lembaga formal, seperti polisi atau pelayanan kesehatan. Kurang dari 10% dari perempuan korban kekerasan tersebut mencari pertolongan dengan cara melaporkan ke kepolisian.[12]
  • Setidaknya 119 negara telah memberlakukan peraturan untuk kekerasan seksual, 125 negara memiliki peraturan untuk pelecehan seksual, dan 52 negara memiliki peraturan untuk pemerkosaan dalam perkawinan. Bagaimanapun juga, walau peraturan telah diadakan, bukan berarti semuanya berjalan sesuai ketentuan dan rekomendasi internasional or diimplementasikan dengan baik. [13]
  • Tersedianya data kekerasan terhadap perempuan telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 1995, lebih dari 100 negara telah melaksanakan setidaknya satu survei dalam penindakan masalah tersebut. Sebanyak 44 negara yang melakukan survei dalam periode 1995-2014, dan 89 negara pada periode 2005-2014, menunjukkan tingginya kepedulian terhadap isu tersebut. Lebih dari 40 negara menyelenggarakan setidaknya dua survei pada periode 1995 hingga 2014 yang berarti terjadinya perubahan seiring berjalannnya waktu dapat dianalisis. [14]

Kekerasan terhadap kelompok rentan

  • Bukti menunjukkan bahwa ciri tertentu pada perempuan, seperti orientasi seksual, status disabilitas, atau etnisitas, serta beberapa faktor kontekstual seperti krisis kemanusiaan, termasuk situasi konflik dan pasca konflik, dapat meningkatkan kerentanan perempuan terhadap kekerasan.[15]
  • Pada 2014, 23% dari perempuan non-heteroseksual (mereka yang mengidentifikasi orientasi seksualnya sebagai lesbian, biseksual, atau lainnya) diteliti di Uni Eropa mengindikasikan telah mengalami kekerasan fisik dan seksual oleh pelaku laki-laki dan perempuan bukan pasangan, dibangdinkan dengan 5% perempuan heteroseksual.
  • Ditambah lagi, 34% perempuan dengan masalah kesehatan atau disabilitas melaporkan mengalami kekerasan fisik atau seksual oleh pasangan sendiri, dibanding 19% perempuan tanpa masalah kesehatan atau disabilitas, yang juga masih berdasarkan data dari Uni Eropa.

 http://www.unwomen.org/en/what-we-do/ending-violence-against-women/facts-and-figures

Diterjemahkan Oleh: Ayunda Nurvitasari

 

  • [1] World Health Organization, Department of Reproductive Health and Research, London School of Hygiene and Tropical Medicine, South African Medical Research Council (2013). Global and regional estimates of violence against women: prevalence and health effects of intimate partner violence and non-partner sexual violence, p.2. For individual country information, see The World’s Women 2015, Trends and Statistics, Chapter 6, Violence against Women, United Nations Department of Economic and Social Affairs, 2015.
  • [2]
  • [3] European Union Agency for Fundamental Rights (2014). Violence against women: an EU-wide survey, p. 71
  • [4] United Nations Office on Drugs and Crime (2014). Global Study on Homicide 2013, p. 14.
  • [5] UN Women (2013). Safe Cities Global Initiative Brief
  • [6] UNICEF (2014). Ending Child Marriage: Progress and Prospects, p. 2, 4.
  • [7] UNICEF (2014). Hidden in Plain Sight: A Statistical Analysis of Violence against Children, p. 167
  • [8] UNICEF, (2014). Female Genital Mutilation/Cutting: What might the future hold?, p. 2-3.
  • [9] UNODC (2014). Global Report on Trafficking in Persons, p. 5, 11.
  • [10] See European Union Agency for Fundamental Rights (2014). Violence against women: an EU-wide survey, p. 104.
  • [11] Data taken from (i) Education for All Global Monitoring Report (EFA GMR), UNESCO, United Nations Girls’ Education Initiative (UNGEI) (2015). School-related gender-based violence is preventing the achievement of quality education for all, Policy Paper 17, and (ii) UNGEI (2014). End School-related gender-based violence (SRGBVB) infographic.
  • [12] United Nations Economic and Social Affairs (2015). The World’s Women 2015, Trends and Statistics, p. 159.
  • [13] Ibid, p. 160.
  • [14] Ibid, p. 140
  • [15] See European Union Agency for Fundamental Rights (2014). Violence against women: an EU-wide survey, Annex 3, p. 184-188
Bookmark and Share

Category: 16HAKTP, Kampanye

Leave a Reply