banner ad
banner ad

Bisunya Korban dan Takut yang tak Kunjung Sembuh

December 7, 2016
The Birth of Venus: Your Body is a Battlefield (Gery Paulandhika / @dysimaginarium)

The Birth of Venus: Your Body is a Battlefield (Gery Paulandhika / @dysimaginarium)

Oleh:  Dyaning P

Ayah saya adalah apa yang anda sebut sebagai orang baik. Setiap beberapa bulan sekali, ia membelikan sepatu untuk satpam di kompleks perumahan saya. Beliau memang bukan orang yang religius, tapi ia selalu menyisihkan sebagian kecil dari gajinya untuk disumbangkan ke panti asuhan yang terletak di tempat tinggal saya. Menurut orang-orang yang bekerja dengannya, ia adalah kolega yang baik. Setiap saya bertemu dengan rekan kerjanya, semua orang berkata saya harus merasa bangga menjadi anaknya.

Pria baik itu, sayangnya, bukanlah sosok yang familiar untuk saya. Ketika suasana hatinya sedang buruk, tiba-tiba saya bukan putrinya lagi. Nada suaranya yang lembut berubah menjadi hardikan. Matanya tidak lagi memandang saya—mungkin karena tiba-tiba saya menjadi buruk di depannya. Pada hari-hari ini ia sering berkata: “Dosa apa sih saya punya anak seperti kamu?”; atau bahkan “Kamu cuma anak perempuan saya yang tidak bisa apa-apa. Saya lebih tahu dari kamu—dan saya akan menentukan pilihan hidup kamu selama kita masih tinggal di bawah satu atap.” Jika sedang apes, mungkin saya akan mendengar makian terlontar dari mulutnya.

Hal tersebut berlangsung selama 20 tahun. Selama 20 tahun, saya setuju dengan apa yang ia katakan. Meskipun dalam hati saya berharap ia salah, tapi saya selalu setuju dengan apa yang ia katakan. Hingga pada suatu hari, saya harus pergi ke psikolog karena mengalami anxiety attack yang cukup parah. Saya kaget saat psikolog tersebut mengatakan bahwa anxiety attack yang saya alami bersumber dari perlakuan yang saya terima dari ayah saya. Selama 20 tahun, saya hidup sebagai korban kekerasan psikis. Tapi saya sama sekali tidak menyadari hal tersebut.

Apa itu kekerasan psikis? Kekerasan psikis didefinisikan sebagai salah satu tindak kekerasan yang mengedepankan intimidasi mental terhadap korban. Kekerasan tipe ini dilakukan oleh pelaku guna mendapatkan kendali atas korban. Bukan hal yang aneh jika korban kekerasan psikis kemudian mengalami depresi mayor, gangguan kecemasan, atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Di Indonesia, Lembar Fakta Catatan Tahunan (Catahu) yang diterbitkan oleh Komnas Perempuan mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah 2.607 kasus kekerasan psikis yang dialami oleh perempuan dalam ranah personal pada tahun 2015.

Sulit bagi korban kekerasan psikis untuk dapat mengenali kekerasan yang mereka terima, apalagi melaporkan bentuk kekerasan tersebut. Pelaku kekerasan psikis umumnya menggunakan gaslighting, sebuah strategi psikologis dimana pelaku akan memanipulasi korban dengan menjejalkan informasi-informasi yang membuat korban meragukan dirinya sendiri. Dalam lingkungan patriarkis, tantangan yang diterima oleh perempuan yang menjadi korban kekerasan psikis menjadi lebih berat. Karena lingkungan sudah mengondisikan mereka untuk bersikap submisif terhadap kaum pria, otomatis para perempuan yang mendapatkan kekerasan psikis dari pria diminta untuk bersikap nrimo.

Lebih beratnya lagi, siapa saja bisa menjadi pelaku kekerasan psikis. Pelaku kekerasan psikis tidak bisa dikategorikan melalui stereotip tertentu. Seorang pelaku kekerasan psikis bisa saja mengambil wujud seorang pacar yang baik hati, seorang ayah yang rajin beribadah, bahkan sahabat anda sendiri yang berjanji akan menemani anda di kala suka ataupun duka. Seorang pelaku kekerasan psikis bisa saja memuji anda sebagai perempuan tercantik dalam dunianya, dan memandang anda seperti sampah pada menit berikutnya.

Saya muak sekali setiap kali teman saya menasihati saya untuk mengalah atas perlakuan ayah dengan dalih statusnya sebagai orangtua saya. Atau yang lebih buruk lagi, ketika teman saya yang lain menyuruh saya untuk melawan ayah saya. Saya harap saya bisa melawan ayah saya. Atau mengalah, agar hidup saya lebih gampang.

Andai persoalannya semudah itu barangkali sudah saya lakukan sejak dulu-dulu. Karena hidup sebagai korban kekerasan psikis itu tidak gampang. Saya harus hidup dengan perasaan takut setiap kali mendengar laki-laki menaikkan suaranya—terlepas apakah laki-laki itu sedang marah atau bercanda—hingga pada titik saya merasa kesulitan bernapas dan harus mencari lokasi yang sepi. Saya bahkan memiliki ketakutan irasional terhadap lagu-lagu dari grup musik Incognito, grup musik kesukaan ayah saya.

Tapi terlepas dari ketakutan-ketakutan saya, saya menolak untuk menjadi ‘rusak’. Saya tidak mau terus-menerus hidup dengan berpikir bahwa saya baru bisa mendapatkan harga diri saya ketika seorang pria mengatakan demikian.

Saya tidak sendirian. Ada banyak perempuan dengan cerita saya. Ada banyak perempuan yang harus diam, memendam rasa perih mereka karena seseorang menentukan apa-apa saja yang menjadikan mereka berharga. Hanya karena luka mereka tidak kasat mata, bukan menjadi alasan bagi anda untuk bersikap acuh tidak acuh terhadap rasa takut mereka. Seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan psikis tidak serta-merta harus dipandang sebagai manusia yang rusak. Butuh waktu lama agar kami bisa pulih kembali. Meski demikian, lama bukan berarti tidak mungkin sembuh. Belum terlambat bagi anda untuk berhenti barang sejenak dan mendengarkan cerita kami.

Bookmark and Share

Tags: , , ,

Category: 16HAKTP, Artikel

Leave a Reply