banner ad
banner ad

Berjalanlah Lebih Jauh, Banda Neira

December 26, 2016
Gambar: Fransis / @tuhanzilla

Gambar: Fransis / @tuhanzilla / frnss.tumblr.com

Oleh: Bramantya Basuki

Jika anda hadir pada malam di bulan Februari 2012 itu, mungkin anda tidak bakal menyangka Banda Neira akan mendapat perhatian luas seperti saat ini. Kami biasa mengadakan gigs kecil-kecilan di sekitar kampus Universitas Parahyangan untuk merayakan kelulusan teman. Namun pada malam itu, pengunjung yang biasanya hadir puluhan orang menyusut menjadi belasan saja. Mungkin karena format Sorge Gigs malam itu akustikan sehingga tak banyak orang yang tertarik. Jadilah acara itu ajang request lagu, baca puisi, hingga penampilan musik eksperimental (salah satu penampil bahkan menyajikan musik dengan menempelkan mic ke knalpot motor).

Lalu munculah dua orang yang pernah berkenalan di organisasi pers mahasiswa; yang satu  jurnalis, yang satu lagi aktivis NGO. Mereka berdua membawakan beberapa cover dari Bon Iver, Feist, Sore dan lagu Stars berjudul Your Ex-lover is Dead. Tentu dalam debut mereka, berbagai kesalahan kunci, lirik lagu, maupun miskomunikasi terjadi. Pembawaan serba canggung, apa adanya, dan mau mentertawakan kesalahan diri sendiri itu ternyata masih terbawa hingga panggung-panggung terakhir mereka.

Banyak yang menuding hal itu sebagai laku tak profesional. Toh mereka berdua menanggapi enteng dengan menyebut musik mereka menjunjung amateurisme. Istilah amatir memang telah mengalami peyorasi makna, dianggap sebagai laku tak serius dan setengah-setengah dalam menjalani sesuatu. Namun tak banyak yang paham bahwa asal kata amatir/amateur sendiri berasal dari bahasa latin amatorem yang berarti mencintai. Jadi berbeda dengan seorang profesional yang mengerjakan sesuatu karena pekerjaannya dan dibayar, seorang amateur mengerjakan sesuatu karena mencintai hal tersebut.

Atas dasar kecintaan itu pula keinginan untuk merekam lagu-lagu yang sudah tercipta muncul. Beberapa dibuat di sebuah kamar kos kecil di Jakarta sehabis lelah digilas pekerjaan dan macet. Entah didorong kegundahan hati atau sekedar iseng, tiap-tiap lagu dipoles tiada henti di sela waktu senggang. Hal inilah yang menjadikan judul rilisan awal mereka bertajuk Di Paruh Waktu. Ternyata lagu-lagu yang direkam dan diunggah di internet tersebut mendapat sambutan cukup hangat.  Banyak yang heran dengan luasnya apresiasi tersebut, termasuk mereka berdua.

Seketika muncul gagasan untuk sekalian membuat album utuh. Hal ini tentu diikuti dengan keragu-raguan: Apakah benar banyak yang mau mendengarkan lagu-lagu itu? Siapa yang mau membeli albumnya? Siapa yang mau menanggung kerugian materialnya? Di sini, seorang yang paling senior di antara kami, Budiyoga Soebandi, menjadi motor pendorong terwujudnya album itu sambil mengulang omelan: “Anak muda kok takut ambil resiko”. Saat itu juga Koperasi Mahasiswa Universitas Parahyangan ambil peran dalam mendorong perilisan hasil rekaman itu. Fransiskus Adi Pramono yang waktu itu sedang bekerja di koperasi didapuk membuat cover album pertama. Hasilnya adalah lukisan cat air yang membungkus nuansa sederhana nan hangat dengan apik.

Pada album pertamanya, mereka menyatakan diri mengusung genre nelangsa pop (yang kemudian berubah menjadi nelangsa riang) melalui musiknya. Saat kemunculan Banda Neira sering dikaitkan dengan sedang naik daunnya musik folk, kalangan luas mengira penggunaan genre itu adalah untuk mengambil batas pembeda dari menjamurnya band-band serupa. Namun genre yang belum pernah ada itu toh muncul hanya dari sebuah celetukan kawan Mirza Fahmi saat mendengar musik mereka. Pada akhirnya mencoba mengklasifikasikan musik Banda Neira dalam sekat-sekat genre hanya membuktikan bahwa anda mungkin terlalu serius.

Dan petualangan itu pun dimulai. Dua orang yang kemudian terpisah jarak antara Jakarta dan Bali ini tetap melanjutkan proyek mereka. Perjalanan itu mendewasakan. Baik bagi Banda Neira maupun Sorge yang membantu di belakang layar. Manajemen band tentu adalah barang baru bagi kami semua. Apalagi bagi Sorge Records ini merupakan produk rekaman pertama, jadi jangan harap langsung mulus dalam hal sirkulasi dan penjualan album. Namun toh lambat laun kami belajar banyak dari proses ini, baik dari Manajer Bimo Wicaksono, pengawal keuangan yang tangguh Wagiman, Koordinator Records Eky Alkautsar, maupun mereka yang sudah berperan besar yang tak bisa disebut satu per satu.

Yang tentu juga ikut bertumbuh adalah para pemusik itu sendiri. Di tengah segala kesibukan pekerjaan, mereka menekuni pembuatan lagu, berlatih kemampuan musik, hingga tampil di panggung-panggung. Bahkan khusus untuk Nanda, memetik gitar sebelum dan sesudah tidur dalam nuansa kegalauan rutin dilakukannya tiap hari demi bisa meresapi dan menciptakan lagu-lagu. Seolah melakukan itu tidak berimplikasi pada mood sehari-harinya. Perlahan pula, penampilan panggung Banda Neira seperti yang kita kenal sekarang ini terbentuk. Ia bukan sesuatu yang muncul dari talenta istimewa, melainkan dari kerja yang tak kenal lelah. Perkembangan itu bisa diikuti dari gambar bergerak videografer kami, Adhito Harinugroho yang merekam penampilan band ini sejak awal.

Salah satu momen yang cukup menyenangkan adalah saat Banda Neira berkesempatan untuk berkolaborasi dengan pemusik lain seperti Gardika Gigih, Layur, Jeremia Kimosabe, dan Suta Soma. Diawali dengan konser Suara Awan, ada keinginan untuk melaksanakan pertunjukan bersama dengan konsep dan aransemen yang lebih matang. Maka digagaslah pentas musik Kita Sama-Sama Suka Hujan di Jakarta dan Bandung pada tahun 2015. Meski sempat tertatih-tatih di awal, dengan bantuan kru Media Parahyangan beserta kawan-kawan baik lainnya acara ini dapat terselenggara baik. Bahkan antusiasme tinggi pemesanan membuat tim ticketing Egi Primayogha dan Biondi Nasution mesti bekerja siang malam tak kenal henti. Terdengar banyak aransemen dalam album live konser tersebut mempengaruhi musik yang ditampilkan Banda Neira di album kedua.

Terus terang penulis telah salah mengira konsep album kedua ini saat mendengar materi-materi rekaman awal. Saya menyangka album kedua ini akan menjadi super kelam, mungkin sebagai representasi dari apa yang mereka alami selama kurun waktu pembuatannya. Namun toh, jalan yang dipilih bukanlah kegelapan serba putus asa, namun harapan, terbersit dari judul Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti. Tentu banyak yang berubah dari album pertama, kematangan bermusik maupun kedewasaan dalam menghadapi kenyataan lebih terlihat. Meski itu juga berarti menghadapi saatnya untuk mengakiri proyek bersama itu dan kembali menjalani hidup masing-masing. C’est la vie.

Tak bisa ditolak, musik Banda Neira merupakan refleksi dari hidup yang mereka jalani. Entah itu gejolak perasaan, harapan hidup, maupun sekedar pengalaman keseharian. Tak hanya berhenti di sana, mereka juga menyuarakan suara korban ketidakadilan. Lagu Rindu, Mawar, atau Tini dan Yanti bukanlah sekedar ornamen untuk menambah kesan kepedulian sosial pada album mereka. Kesadaran ini sudah lama tumbuh sejak mereka di bangku kuliah. Mereka datang sendiri menemui para penyintas demi bisa mengalami dan berempati. Hal ini  terasa dalam lagu Mewangi, betapa kuatnya ketabahan dan kegetiran seorang ibu (atau ayah) saat melepas anaknya pergi: Kemana kau menuju, anakku?/Kalah atau menang kita kan jadi, arang dan abu.

Selain itu mereka juga membahasakan pelbagai literatur yang mereka baca ke dalam bahasa musik. Sebut saja Soebagio Sastrowardoyo, Chairil Anwar, Wiji Thukul, Boris Pasternak, Albert Camus, hingga Antoine de Saint-Exupéry dengan judul lagu yang sama dengan buku favorit mereka, Pangeran Kecil. Bahkan nama Banda Neira sendiri, tidak bisa dipungkiri muncul dari imajinasi tentang sebuah pulau di timur sana yang digambarkan Sutan Syahrir sebagai surga. Di pulau itu, bersama dengan Mohamad Hatta dan para aktivis kemerdekaan lainnya, perdana menteri pertama Indonesia itu dibuang oleh pemerintah kolonial. Bagaimana mungkin sebuah hukuman menjadi surga bagi yang diasingkan? Mungkin karena Syahrir menemukan kesenangan dan kebebasan: anak-anak kecil, pantai jelita, dan jalinan pulau serta gunung api itu. Tentu kita tak tahu benar apakah Syahrir hanya mencoba menghibur diri atau benar-benar merasa bebas di Banda Neira. Yang pasti Nanda atau pun Rara mengimajinasikan surga itu hanya dari sebuah literasi dan belum mengalaminya secara langsung. Kami sempat berencana untuk pergi sendiri ke pulau Banda Neira,  sayangnya rencana itu tak juga terlaksana hingga mereka membubarkan diri.

Saat keputusan pembubaran disampaikan pada tanggal 23 Desember 2016, banyak sekali tanggapan yang muncul. Banyak yang menyayangkan, mengungkapkan kesedihan, bahkan tak sedikit yang menyampaikan spekulasi tentang alasan pembubaran. Namun kami sangat senang ketika muncul tagar #terimakasihBandaNeira mengiringi berakhirnya perjalanan musik mereka. Nampak bahwa lewat musik Banda Neira banyak yang merasa terbuai dengan Hujan di Mimpi, merasa terwakili dengan Rindu, merasa termotivasi dengan Utarakan, merasa hangat dengan Matahari Pagi, merasa terdorong dengan Tini dan Yanti,  dan mendapatkan harapan lewat Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti.

Toh pada akhirnya Banda Neira bukan lagi sekedar cerita Ananda Badudu dan Rara Sekar. Lebih dari itu, ada cerita tentang proses tumbuh bersama, baik bagi mereka berdua maupun semua yang ada di sekelilingnya. Ada cerita tentang mereka yang merasa tergerak setelah mendengar lagu-lagu itu.  Ada pula hal-hal yang tak bisa disampaikan ke telinga para penikmat musik mereka. Yang juga tak bisa dipungkiri, kesemua ini merupakan bagian besar cerita perjalanan hidup mereka berdua, meski kini sudah diputuskan untuk dijalani masing-masing. Berjalanlah lebih jauh.

A luta continua.

Bookmark and Share

Tags: , , , , ,

Category: Artikel, Musik, Sorge Records

Comments (2)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. Elug says:

    Kami protes. Mohon Sorge mengutamakan akurasi.

    Sejak tahun 2010 kami telah pensiun menggunakan knalpot motor. Keputusan itu utamanya disebabkan kesadaran kami bahwasanya penggunaan asap knalpot hanya berujung negatif bagi lingkungan hidup.

    Februari 2012 justru menjadi titik balik kami. Kami tampil dengan membuat jus buah segar yang dicampur susu ultramilk. Tidak ada alasan lain selain ingin mempromosikan kepedulian anak-anak Indonesia terhadap lingkungan dan ketahanan pangan.

    Jadi, tidak ada knalpot motor pada Februari 2012, hanya klakson saja yang dibunyikan. Rara bahkan mencicipi juice apel segar yang kami buat saat itu juga.

    Jika tidak percaya, silakan tengok video nya di youtube.

    Salam,
    Elug Gnibmag
    Nge-band untuk perdamaian

  2. Aidil says:

    I LOVE U BANDA NEIRA

Leave a Reply