banner ad
banner ad

Ayah dan Bulan Sabit

December 13, 2015

Oleh: F. Ilham Satrio

IBU JATUH CINTA sama Don Juan itu,” kata Lastri pada Danu akhirnya. Ia raba foto sephia kusam sementara bibirnya telaten mengulur kata mengeja masa lalu. Sore terasa begitu alot. Tersajinya album foto di hadapan mereka membuat obrolan yang semula ringan kini menjadi sarat. Lastri ingin bilang bahwa cinta ibunya yang seperti itu cuma cinta monyet belaka, sembari telunjuk lancipnya menuding-nuding sosok lelaki bercambang di dalam foto yang tengah dipeluk sang ibu. Tapi, Lastri sendiri belum paham mana yang monyet dan mana yang bukan. Tak mungkin Lastri peranakan monyet. Walau meyakini Darwin sampai botak pun, untuk ukuran jaman sekarang perilaku kawin dengan monyet adalah sesuatu yang tak lazim.

Entahlah. Yang jelas, Danu bukan monyet. Ia hanya seorang lelaki yang belakangan lekat bersama Lastri. “Ternyata cinta pertama tak seindah lagu-lagu pop, bukan begitu, Las?” tanya Danu, matanya menyelidik setiap lembar foto-foto kusam dalam album di pangkuannya. “Kau tak perlu mengubah tema lagu-lagu pop, lagi pula mereka terlampau klise,” balas Lastri. “Taylor Swift tidak klise,” sanggah Danu. “Hanya jelek,” timpal Lastri. “Kok sewot sama selera musikku, Las?” alis Danu menyatu. “Kok ngambek? Salah siapa seleramu jelek? Idih. Coba kamu suka Laura Marling, pasti kita sudah pacaran,” balas Lastri, bola matanya menyigi, melirik nakal dan jahil ke arah Danu. Lelaki di sisinya hanya mendengus. Air mukanya nelangsa.

Lastri memelihara ikan pada kolam kecil di pekarangan belakang rumah. Ia dan Danu duduk-duduk di atas dua bongkahan batu di sisi kolam, menanti malam dengan khidmat akibat album foto itu dan segudang cerita di baliknya. Senja telah mengasongkan sepotong sabit di langit seiring pantulannya beriak-riak dalam kolam. Cekungnya itu tampaklah seperti mata Lastri. Sudah Lastri tebak, Danu bakal menaksirnya demikian. Sang ibu memang mewariskan cekung itu. Lain dengan perangai dirinya yang keras, yang memang bisa jadi warisan sang ayah. Hanya saja, hal yang terakhir itu bukan buah yang jatuh dari pohon lalu tak berdaya apapun. Lastri tak segan menghardik lelaki brengsek. Hal seremeh ejekan dan guyonan saru yang ditujukan buat kawan-kawan perempuannya dari sembarang laki, bakal ia labrak. “Kepala bebal lelaki harus diberi tahu jika perempuan juga punya kekuatan,” begitu setelah menggampar seorang lelaki alim yang malah ketahuan main serong, padahal ia sudah menikah dengan salah satu sahabat Lastri.

Seiring waktu, hal demikian yang menjadikan Lastri tangguh. Ia diberkati kemampuan membedakan mana bajingan dan mana orang baik-baik. Jika disuruh mencarikan jodoh kawannya pun, ia hanya memberi satu kriteria: “Jangan pilih pendusta.” Kemudian mereka akan dengan senang hati dikuliahi: “Kau boleh menikah dengan seorang seniman flamboyan; seorang kolektor batu akik nan kaya, atau salah satu lelaki yang wajahnya terpampang di poster Top Collection pangkas rambut seberang. Tapi ingat, sist, jangan pernah menyodorkan hidupmu di haribaan sang pendusta. Bisa-bisa celaka.” Lastri tahu betul sebab ia lahir dari benih seorang pendusta. “Soalnya sederhana,” tukasnya, “don’t put your life in hands of a rock ‘n roll band who will throw it all away.”

Ayah Lastri adalah pendusta yang ulung. Hal itulah yang mau tak mau membentuk Lastri menjadi sekukuh dan bahkan sekeras kepala sekarang. Tak ada yang tahu apa yang dikerjakan sang ayah di luar rumah. Pria itu tak jelas betul juntrungannya. Pergi tak berjejak, tapi malah mewarisi perkara yang tak jelas berpihak pada siapa. Lagi pula, disebut orang tua pun tanggung, “Sebab lelaki itu cuma mampir minum. Padahal, kau tahu, makna pepatah ‘hidup sekedar mampir minum’ bukanlah seperti itu. Sialan. Memangnya dia ini siapa? Nabi?” bibir Lastri mengerucut jika nada suaranya meninggi seperti barusan. Danu memperhatikan kisah itu dengan seksama.

Kendati yang didengarnya hal-hal rudin, Lastri bagi Danu lebih dari sekedar teman, “Matamu adalah genangan oase,” kata Danu suatu kali. Lastri membalasnya dengan menjulurkan lidah. “Aku ingin berkubang di situ dan hidup di dalamnya,” balas Danu tak hirau akan ejekan Lastri. Tapi Lastri melotot, lalu menjulurkan lidah lagi sambil membetot kedua telinganya dengan jemari.

Kata Lastri: “Kau ingin membuatku bahagia? Nah, kau harus mau menjadi tisu kering dulu buat sekedar melicit ingusku.” Danu tertawa, namun ia segera mematung. Mata Lastri memang nampak selalu bersedih. Padahal, Lastri pernah mewanti-wanti Danu, “Jangan kau tumbuhkan rasa sayang dari rasa kasihan. Aku bukan orang yang tepat untuk itu.” Seketika muka Danu bagai kerbau bersedih akibat perasaannya sendiri yang terkesan polos.

“Lantas, kapan aku bisa menyeka seluruh kesedihan yang tersisa di matamu, Las?” bibir Danu ragu akan pertanyaannya.

“Ini bukan kutukan.”

“Aku cuma mau menguras nestapa, yang suka mengambang di mat—“

Bibir Lastri mendarat di pipi Danu. Satu kecupan. Sederhana. Singkat. Dengan cara itu Lastri berniat meredam kecemasan lelaki di hadapannya. Mungkin dengan itu pula, setiap keraguan yang keluar menyaru kata bisa menemui jalan keluar. Karena, bukankah kecupan juga sebuah bahasa? “Aku baik-baik saja. Kau tak perlu cemas.” Demikian Lastri berbisik. Hal itu juga yang sebenarnya mau Lastri katakan pada dirinya: semua akan baik-baik saja, Las.

  

MALAM turun setelah sore berangsur. Ia disusul oleh bulan sabit yang juga mulai meninggi. Doa-doa dipanjatkan orang-orang, suaranya mengalun sampai ke pekarangan mungil tempat Lastri dan Danu bercengkrama. Kini keduanya terduduk diliputi remang lampu kolam. Lamat, ingatan Lastri surut ke suatu sore selepas bersembahyang bersama sang ibu. Lalu perempuan itu berkata:  “Kau tahu, nak, Tuhan adalah tempat terakhir buat ibu mencurahkan perasaan. Ke mana lagi ibu harus bercerita? Orang-orang pun tahu dan itu sudah cukup. Ibu yakin semua doa ibu terjawab, dan syukurlah, Tuhan memberi anak yang pintar dan baik.” Lastri hanya mengusap banjir airmatanya dalam pelukan sang ibu.

Sembilan bulan perempuan itu mengandung Lastri, selama itu pula rumah-tangga semakin dirasa koyak. “Ia ingin cerai, tapi ia tak mau anak pertama dan, sayangnya yang terakhir, lahir tanpa kehadiran sang ayah, sebejat apa pun pria itu. Terkecuali kalau pria itu sudah betulan almarhum,” kata Lastri sebagaimana sang ibu pernah berkisah. Seseorang yang disebut suami tak memunculkan batang hidung ketika kali pertama terdengar jeritan Lastri ke dunia. Padahal, lelaki itu sendiri yang memberikan nama pada sang jabang bayi. Nama yang jauh hari pernah didamba-dambanya ketika dirinya masih tanak dalam kasmaran.

Sebenarnya, pria itu sempat pulang beberapa kali, seringnya seminggu sekali hanya untuk berganti pakaian lalu menengok isi tudung saji, “Dan berkhotbah bahwa hidup harus dijalani dengan berani,” kata Lastri sambil meniru gaya ibunya bercerita. Tetapi, itu teramat lampau. Paras pria itu sendiri tak sama sekali menyiratkan antusias atau seminimal keresahan. Ia lempang dengan lakunya sendiri. Seoalah tak ada yang lebih benar dari sabdanya walau harus mengutip beberapa. “Sebab, jika itu keluar dari mulutnya, pastilah selalu benar,” ujar Lastri dengan deru nafas yang naik-turun.

Kata pria itu: “Bahwa segalanya sudah digariskan. Kita tinggal menjalaninya saja. Kau tak perlu cemas, anakmu bukan anakmu.” Kata-kata itu bisa menghibur baik untuk Lastri atau sang ibu, tapi tetap saja itu keluar dari mulut seorang pendusta. “Itu kata Gibran, sedangkan kau harus bertanggung jawab karena kau yang telah menanam benih padaku!” maki sang ibu sering kali terdengar oleh Lastri di waktu malam, di waktu Lastri ingin pergi ke kamar mandi, tapi ia urungkan karena takut menginjak pecahan beling. Orang tuanya rajin membeli piring dan gelas baru.

“Tak baik naik pitam. Semestinya kau rajin-rajin menanam pikiran positif, termasuk padaku, suamimu sendiri. Kebaikan akan datang dengan mudah jika seseorang telah jauh hari membuatnya baik sejak dari pikiran.”

Terasa sejuk seandainya kalimat itu meluncur dari suami dan ayah yang baik pula, bukan dari pendusta. “Kau tahu, kau terus-terusan menaruh curiga padaku, dan itu percuma oleh karena perbuatanku yang berseberangan dengan pikiran burukmu. Makanya, sampai kini hal-hal itu tak terbukti.”

Seandainya Lastri bisa, ia mau saja menangkis kalimat-kalimat yang meluncur dengan takzim dari mulut ayahnya itu. Ia mau saja bilang, “Memangnya ayah kemarin sedang apa?” tapi toh ia urungkan. Sehari sebelumnya, Lastri tak sengaja melihat sang ayah tengah menindih seorang perempuan di belukar belakang masjid komplek. Barangkali perempuan itu salah satu tetangganya, tapi tak jelas betul karena saat itu hari terlanjur gelap. Sementara nyamuk kebun merubungi kaki Lastri dan membuatnya gatal, lampu bohlam yang terpacak pada dinding cor-coran semen belakang masjid, mati tak berfungsi. Untuk apa Lastri ada di situ? Ah, ia ingat, ia dan teman-temannya mau menyalakan petasan dan kembang api.

Timbul keinginan Lastri kecil untuk menolong perempuan yang terdengar merintih di belukar, tapi ia bimbang sebab lengannya memeluk erat punggung ayahnya. Sedang teman-teman Lastri kecil asyik dengan petasan dan kembang api, mata Lastri samar menangkap keduanya tengah bergumul di dalam sarung. Lastri mendapatkan sarung itu di toko Haji Odang dekat pasar beberapa waktu yang lalu. Ia membungkusnya dengan kertas kado bergambar unta, kemudian di malam harinya ia berikan kepada sang ayah. Lastri hanya ingat setelah itu sang ayah memeluk tubuh Lastri kecil hangat sekali, lalu berucap terima kasih dengan kalimat-kalimat yang panjang.

Ia memang masih gadis kecil saat itu. Namun, hal itu tak menghalangi benaknya untuk bertanya-tanya, “Ayah sedang apa? Mau Lastri bantu, gak?” Lalu, ia jawab sendiri pertanyaan itu dengan kemungkinan: “O, ayah sedang membantu perempuan yang melahirkan. Ayah memang suka diundang untuk memimpin doa,” pikirnya. Malam itu juga Lastri kembali ke rumah. Sebulan lamanya ia tak membuka mulut pada siapapun. Sedangkan kini, Lastri merasa teramat jijik. Ia ingin mengganti kulitnya yang dahulu pernah dipeluk oleh ayahnya itu.

Tahun demi tahun berselang dan keributan di rumah antara sang ayah dan ibu semakin tak tertangguhkan. Puncaknya adalah ketika pria itu jarang sekali pulang. Hal seperti itulah yang kelak menjadikan pria tersebut cuma sekedar dongengan di ujung ingatan.

Hingga saban minggu, Lastri menemukan berita ayahnya terpampang di portal berita online. Sayang itu berita yang kurang sedap. Sang ayah dipenjara di luar kota gara-gara menipu beberapa pengikutnya dengan mengaku sebagai nabi. “Jadi, ia memang benar-benar bertapa sekarang, di balik jeruji besi,” kenang Lastri, “maka, bertapalah sampai mampus.”

 

LASTRI tak pernah membutuhkan pria yang seharusnya bisa disebut ‘Ayah’, atau nabi, atau apa pun. Baik kali pertama Lastri brojol ke dunia, hingga sekarang pria itu semestinya bertanggung jawab penuh terhadap segala macam kebutuhan Lastri. Tapi tentu saja, itu bukan perkara mudah.

“Terkadang, aku ingin membunuhnya saja,” gumam Lastri. Kali ini lidahnya yang terdengar ragu.

“Aku kurang setuju. Bagaimana pun juga, dia itu ayahmu,” timpal Danu, masih tabah ia duduk bersisian.

“Aku tak merasa punya ayah.”

“Lalu, bagaimana dengan perasaan ibumu jika kau berhasil membunuh ayahmu?”

“Aku tak tahu. Ayah bagiku adalah hutang yang harus kulunasi.”

“Itu dendam namanya, bukan hutang.”

“Lantas, apa yang harus kulakukan? Mencekiknya sampai semaput?”

Danu hanya menghela nafas panjang. Jemarinya mengetuk-ketuk sampul album foto yang kini tertutup.

“Apakah kau pernah berfikir untuk memaafkan masa lalu?” tanya Danu.

“Aku hanya berusaha untuk melupakannya; aku tak mau memaafkannya.”

“Barangkali, segala sesuatunya harus berubah dari caramu melihat masa lalu itu.”

“Kau mulai terdengar seperti bekas ayahku.”

“Maafkan aku. Tapi, kau tak perlu bersusah payah untuk melupakannya. Kau hanya perlu memaafkannya; menerimanya bahwa segalanya sudah terjadi diluar kuasa dan kehendakmu.”

“Kau tahu apa?”

Sorry. Aku mulai berkhotbah.”

“Ya. Dan itu menyebalkan.”

“Lalu, apa yang mau kau lakukan sekarang, Las? Mendatangi kota tempat ayahmu ditahan?”

“Tak sudi. Biar dia modar di sana.”

“Rupanya kau bersungguh-sungguh.”

“Danu, sejak kapan aku jadi pribadi humoris?”

Angin malam mulai merambati tengkuk mereka. Sementara nyamuk saling sergap dan berdenging sesekali di telinga. Danu masih memangku foto album, air mukanya kini tampak seperti orang yang tengah mengikuti ujian nasional. Apa yang ia dengar dari Lastri, luapan emosi yang begitu sarat di tiap kata-katanya, hidupnya yang berbeda dengan dirinya, mungkin agak mengguncangnya. Lastri bisa dengan enteng merutuki sang ayah, sedang alis lelaki di hadapannya itu kerap dibuatnya menyatu.

“Danu, sudah kukisahkan padamu masa laluku, dan bagaimana aku ingin menguburnya lalu menari-nari girang di atas tanah yang menggunduk itu.”

“Ya. Terima kasih, Las. Maaf jika saranku kurang berhasil.”

“Segala sesuatunya memang perlu dicoba.”

“Maksudmu?”

“Jangan biarkan aku membuat kuburan baru.”

“Maaf?”

Belum sempat merubah posisi duduknya, Lastri mencondongkan tubuhnya di dada Danu, merebahkannya di situ. Ia melingkarkan lengannya di bahu lelaki itu, memeluknya. Danu balas mendekapnya, sesekali ia mengusap punggung Lastri perlahan. Kini malam terasa hangat, walau sepi, bahkan teramat sepi. Hanya jantung mereka yang silih berdetak, hingga disusul bisikan yang hampir susut terbawa angin, “Jangan biarkan aku menguburmu, seperti aku mengubur ayahku.”

 

 

F. Ilham Satrio memburuh di Tangerang. Kadang-kadang menulis tentang musik di blognya, stereofolk.blogspot.com. Kontak: f.ilham.satrio@gmail.com

Bookmark and Share

Tags:

Category: Literatur

Leave a Reply