banner ad
banner ad

Monokromatik

March 6, 2012

Oleh: Muhammad Iskandar Satriyo Utomo (Misu)

 

Buku itu berjudul ‘Monokromatik’.

Terpapar jelas pada sampulnya, lengkap dengan tampilan bernuansa hitam dan putih. Buku itu terlihat masih sangat baru, sepertinya belum pernah disentuh samasekali. Buku itu terasa sungguh menarik dan berhasil mengalihkan perhatianku dari benda – benda lain yang ada di dalam ruangan ini, seakan menuntun pergelangan tanganku serta menggelitik jari jemariku untuk membuka halaman demi halamannya. Entah milik siapa buku ini, aku tidak peduli. Tanpa pikir panjang, aku langsung meraih buku hitam putih itu dari atas meja dan segera mencari tempat duduk yang cukup nyaman untuk mulai membacanya.

‘Monokromatik’.

Tanpa nama pengarang. Sedikitpun tidak ada identitas yang tertulis di halaman pertamanya. “Buku yang aneh” Pikirku. Hal itu jelas membuat rasa penasaranku semakin besar.

Aku sudah tidak sabar lagi untuk membaca isi buku itu. Dengan semangat, aku mulai membuka halaman kedua, ketiga, keempat, kelima dan seterusnya.

Bagian awal buku itu mengisahkan tentang seorang pria yang sedang tersesat. Bukan di tengah hutan, bukan juga di tengah padang pasir, melainkan di tengah kebingungannya sendiri.

Ia tersesat di dalam pikiran!

Entah apa yang telah terjadi padanya, bahkan ia sendiri tidak mengerti sedikitpun mengenai situasi yang sedang ia alami saat itu. Benar – benar antah berantah. Pria di dalam cerita itu tersadar bahwa ia sedang berada di dalam sebuah ruang bernuansa serba hitam dan putih. Dimulai dari lantai yang berpola seperti papan catur, dinding yang menyerupai kulit zebra, hingga ke langit – langit yang juga dipenuhi garis – garis berirama hitam dan putih. Bahkan semua perabotan yang ada di dalam ruangan tersebut seolah tidak mau kalah dengan si lantai, dinding dan langit – langit yang juga berwarna hitam putih.

Dalam sekejap, timbul segudang pertanyaan – pertanyaan absurd yang seketika menyusup masuk ke dalam pikirannya. Diawali dengan sebuah pertanyaan sederhana yang segera menyadarkannya bahwa ada sesuatu yang amat sangat salah sedang terjadi disana.

“Siapakah aku?”

Pertanyaan itu segera diikuti oleh sederet pertanyaan – pertanyaan lainnya yang semakin membuatnya pusing tujuh keliling. Dan takut tentunya. Sangat takut. Ia dihujani dengan berjuta – juta tanda tanya yang sekarang sudah menginvasi isi kepalanya. Pikirannya penuh sesak. Ia dikuasai oleh kebingungan.

“Dimana aku?”

“Mengapa aku ada disini?”

“Bagaimana aku bisa sampai di tempat ini?”

“Ini hari apa? Tanggal berapa? Jam…?!”

“Oh, apa yang sebenarnya sedang terjadi??”

“Ada apa denganku?!?”

Terlintaslah sebuah pertanyaan yang membuat sekujur tubuhnya gemetar tidak karuan:

“Aku ini apa?”

Ia memutuskan untuk sedikit lebih tenang dan memulai berpikir. Setidaknya ia berusaha untuk berpikir. Berpikir logis. Rasional. Mencoba untuk kembali menguasai seluruh inderanya. Ia mengurai pemikirannya dengan perlahan dan mencoba menjawab semua pertanyaan itu satu per satu. Namun ia tidak berdaya, seolah ia memang baru terlahir disana pada saat itu juga, tanpa awalan dan permulaan apa – apa. Hampa.

Ia pun panik. Sangat panik.

Ditengah kepanikan dan kebingungan yang melanda, sayup – sayup ia mendengar suara – suara aneh dari kejauhan. Suara yang seketika memecah keheningan di dalam ruangan yang sedari tadi sunyi senyap. Perhatiannya sedikit teralihkan akibat bunyi – bunyian yang semakin lama terdengar semakin jelas itu. Ia mencoba memusatkan indera pendengarannya pada suara itu dan berusaha mencari dari mana asalnya. Hal itu cukup membuatnya sedikit merasa tidak nyaman. Terdengar seperti suara kertas – kertas yang saling bergesekan satu sama lain. Persis seperti suara seseorang yang sedang asik membolak – balikan halaman – halaman koran. Namun sekeras apapun ia mencari, ia tetap tidak berhasil menemukan sumber dari suara tersebut.

“Aneh..” Gumamnya.

Dan seketika itu juga, keadaan berubah menjadi sunyi senyap. Hening. Kembali seperti semula. Kemudian terdengarlah suara dentuman yang sangat keras. Amat keras sampai seluruh ruangan terasa bergetar. Dentuman itu terdengar seperti suara buku kamus super tebal yang dijatuhkan ke atas lantai.

Sejenak ia melupakan kebingungan terhadap pertanyaan – pertanyaannya yang masih belum sempat ia jawab. Perhatiannya segera teralihkan pada sebuah buku yang tergeletak di atas meja, tidak jauh dari tempatnya berdiri saat itu. Entah mengapa buku itu terlihat amat sangat menarik baginya.

Buku itu berjudul ‘Monokromatik’.

Terpapar jelas pada sampul buku itu, lengkap dengan tampilan bernuansa hitam dan putih. Buku itu terlihat masih sangat baru, sepertinya belum pernah disentuh samasekali. Buku itu terasa sungguh menarik dan berhasil mengalihkan perhatiannya dari benda – benda lain yang ada di dalam ruangan itu, seakan menuntun pergelangan tangannya serta menggelitik jari jemarinya untuk membuka halaman demi halaman. Entah milik siapa buku ini, ia tidak peduli. Tanpa pikir panjang, ia langsung meraih buku hitam putih itu dari atas meja dan segera mencari tempat duduk yang cukup nyaman untuk mulai membacanya.

‘Monokromatik’.

Tanpa nama pengarang. Sedikitpun tidak ada identitas yang tertulis di halaman pertamanya. “Buku yang aneh” Pikirnya. Hal itu jelas membuat rasa penasarannya semakin besar.

Ia sudah tidak sabar lagi untuk membaca isi buku itu. Dengan semangat, pria itu mulai membuka halaman kedua, ketiga, keempat, kelima dan seterusnya.

Bagian awal buku itu mengisahkan tentang seorang pria yang sedang tersesat. Bukan di tengah hutan, bukan juga di tengah padang pasir, melainkan di tengah kebingungannya sendiri.

Ia tersesat di dalam pikiran!

“Hei! Ada apa ini?!” Aku segera tersadar bahwa ada sesuatu yang aneh dengan cerita di dalam buku itu. Bagaimana mungkin buku itu bisa menceritakan hal yang persis sama dengan yang sedang kulakukan sekarang?

Namun kemudian terlintaslah sebuah pemikiran yang tidak kalah anehnya dengan buku itu. Aku berusaha mengingat apa yang sebenarnya sedang kulakukan disini. Hmm.. Tunggu dulu;

“Dimana aku?”

“Mengapa aku ada disini?”

“Bagaimana aku bisa sampai di tempat ini?”

“Ini hari apa? Tanggal berapa? Jam…?!”

“Oh, apa yang sebenarnya sedang terjadi??”

“Ada apa denganku?!?”

Dan sampaiah pada pertanyaan yang kemudian memuncakkan gejolak emosiku;

“Siapakah aku?!?”

“Aku ini apa??”

Saat itu juga aku menangis. Gemetar hebat. Entah mengapa, aku menangis begitu saja. Terlintas di benakku bahwa aku hanyalah sekedar tokoh dalam sebuah cerita yang diciptakan oleh seseorang yang samasekali tidak kukenal. Sepertinya Sang Penulis cerita lupa memberiku identitas dan bahkan tidak menyadari bahwa aku benar – benar membutuhkannya. Aku rasa saat ini ada seseorang yang sedang membaca dan membolak – balik halaman kisahku. Aku hanya bisa diam dan menerimanya dengan hati yang lapang. Aku tidak berdaya. Aku tidak punya kuasa apa – apa.

Aku tak tahu hidupku. Kuhidup-pun aku tak tahu. Mungkin aku tidak sedang hidup. Bahkan mungkin aku memang tidak pernah hidup. Akulah hidup, dan maka hiduplah aku.

Bookmark and Share

Tags: , ,

Category: Literature

Leave a Reply