banner ad
banner ad

Antara PSK dan WTS di Gardujati

February 17, 2012

Oleh Lalola Easter Kaban

Kalian ke Gardujati? Liat Wanita tuna Susila, ndak?

Kata-kata itu terlontar dari mulut seorang kawan ketika saya dan beberapa kawan dan alumni Media Parahyangan pergi ke daerah Gardujati, Bandung, untuk melihat perayaan Imlek di beberapa vihara di daerah itu. Untuk diketahui, Gardujati memang sempat menjadi daerah prostistusi yang populer di daerah Gang Saritem. Tempat prostitusi ini sebenarnya sudah diklaim ditutup oleh Pemerintah Kota Bandung, namun praktik prostitusi di Saritem tidak serta merta berhenti, terbukti seorang kawan yang berhasil menemui seorang germo, meskipun tidak berhasil mewawancarai mereka.

Kali ini saya tidak akan menyoroti prostitusi di Saritem, tapi saya akan membahas pernyataan teman saya mengenai Wanita Tuna Susila (WTS). Saya sempat berdebat dengannya mengenai penggunaan kata WTS. Saya lebih setuju dipergunakannya kata Pekerja Seks Komersial (PSK). Saya bisa berikan alasan-alasan yang rasional, mengapa saya lebih memilih menggunakan PSK dan bukannya WTS bagi perempuan-perempuan itu. WTS itu sebutan munafik bagi para moralis bejat yang patriarkis.

Oke, saya akan jabarkan alasannya. Saya hanya akan menjabarkan alasan saya dalam dua poin, mengapa WTS itu seksis, dan mengapa PSK itu representatif.

Pertama, penggunaan kata Wanita Tuna Susila itu, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, adalah munafik. Pengertian Wanita Tuna Susila jika ingin dijabarkan secara harfiah adalah bahwa mereka tidak memiliki susila, karena mereka memamerkan seksualitasnya di ruang publik. Sama seperti KUHP yang seksis, di mana pemerkosaan dianggap sebagai kejahatan susila dan bukannya kejahatan berbasis jender (gender based violence), penyebutan pelacur sebagai WTS dilakukan semata-mata untuk menyudutkan perempuan sebagai si pembawa petaka, sebagai yang tidak punya susila karena mereka menjadikan tubuh dan bahkan genital mereka sebagai komoditas. Dan mungkin, karena tindakan mereka yang tuna susila, si pengguna jasa tertular jadi tuna susila pula. Kurang koruptif apa logika ini?

Yang harus dipahami di sini adalah, kecuali si perempuan memang seorang nymphomaniac, atau hypersex, menjadi pelacur bukanlah pilihan para perempuan yang akhirnya tetap menjadi pelacur. Seorang sahabat yang pernah dekat dengan dunia prostitusi dan menjadi pelanggan, pernah menjadi tempat curhat si pelacur (lebih mengagetkannya lagi, ia mengaku beberapa pelacur yang ia bayar bahkan pernah tidak ia mintakan servisnya, karena ia ternyata lebih tergugah untuk mengetahui cerita mereka. Meskipun ia tidak urung, tetap berhubungan seks dengan si pelacur juga, walau di waktu berbeda).

Para perempuan itu mengaku tidak pernah mau menjadi pelacur, umumnya mereka ditipu, dipaksa bahkan oleh pacar ataupun suami mereka, terjepit tuntutan ekonomi karena telah terlanjur merantau dan harus menghidupi keluarga yang ditinggalkan di kampung, atau karena terlanjur telah kehilangan keperawanan sebelum menikah. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ketika mereka menjadi pelacur, mereka telah melakukan konsensus (entah tertulis entah tidak, entah dengan germonya, atau dengan dirinya sendiri) untuk melepaskan haknya atas tubuhnya. Atas payudaranya, atas pinggangnya, atas pinggulnya, atas perutnya, atas bibirnya, dan atas vaginanya.

Inilah yang menjadi alasan kedua saya, mengapa saya lebih memilih menggunakan kata PSK: Tubuh para perempuan itu dikomersialisasikan. Jadi, mereka bekerja dengan menjadikan seksualitas mereka, sebagai komoditas yang dikomersialisasikan. Artinya, ketika mereka menjadi pelacur, ia tidak sedang menghilangkan kesusilaannya, tapi mengomersialisasikan seksualitasnya. Lihat bedanya? Mereka bukannya tidak punya susila, tapi mereka dipaksa (atau tidak dalam kasus nymphomaniac dan hypersex) mengomersialisasikan seksualitas mereka.

Demikianlah, bahwa bagi saya WTS itu hanyalah term menyesatkan yang dibuat oleh para moralis yang patriarkis, yang merasa lidahnya akan ternoda karena menyebutkan kata “seks”, dan merasa terhina jika para pelanggan yang umumnya laki-laki (termasuk sahabat saya) dinyatakan sebagai yang lebih dulu menjadi tuna susila karena membeli jasa para pelacur dan menganggap dirinya bisa melakukan segala hal kepada si pelacur, hanya karena ia telah membeli jasanya.

Mungkin sudah waktunya slutwalk dilakukan di Indonesia, karena yang porno itu otakmu, bukan vaginaku, jadi jangan salahkan belahan dadaku (yang sayangnya tidak pernah terlihat karena terlalu kecil) jika kontolmu tiba tiba ngaceng.

 

(P.S. ketahuilah, kontol itu adalah bahasa indonesia yang resmi, jadi berhenti mengira bahwa saya suka omong jorok hanya karena saya menulis kontol) lihat disini:  http://kon.tl/9348

(P.S.S. sahabat laki-laki saya ini ngakunya sudah tobat, karena sudah punya pacar)

Lalola Easter Kaban dapat dikontak di @lolakaban (twitter) atau lalolakaban@rocketmail.com. Selain berkecimpung di bidang jurnalistik, sekarang ia disibukkan dengan urusan pindah-pindah kost karena ingin memelihara anjing.

 

Bookmark and Share

Tags: , ,

Category: Articles

Comments (1)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. Celestinus Hendra says:

    Kalo “NGACENG” aku search di link kamu yg kontol tidak ditemukan kakaaaa….
    jadi apa artinyaaa???? hahaahhahaha….
    Good point of view anyway…

Leave a Reply