Penyimpanan Kerosin, 24 April 1911
oleh Shifra Annisa Setiawan Kasoem
24 April 1911
Bosan aku mendengar lengkinganmu yang biadab. Merobek-robek gendang telinga ini, layaknya kudengar ringkikan kuda Troya tepat di sebelah telingaku. Mungkin kau pikir aku ini sepertimu, yang tahan akan suara sangkakala sekalipun. Kalau tidak kutahan tanganku untuk membakar barel-barel minyak sampai aku terbakar, kau akan kecewa, aku tahu. Aku ini kesakitan karenamu, tapi aku tidak bisa menyumpahimu sebagai setan, bukan begitu? Aku tidak akan lupa saat di mana kamu mengikatku dalam kursi itu. Kursi yang mirip dengan kursi yang biasa kulihat di ruang tabib gigi ibuku. Aku tidak menyangka kau punya selera yang sadomasokis. Rantai sedingin es, siraman air kimiawi yang membakar setiap nadiku secara absurd, suhu ruang fluktuatif, semua yang kau kreasikan dalam tiap sentuhan artistikmu.
Tak perlu sebenarnya, tak perlu kau begitu, untuk memaksaku menceritakan ulang apa yang sudah aku lakukan selama empat puluh satu tahun ini.
“Aku menenggelamkan sepupuku sendiri di danau belakang rumah paman, sebelumnya, aku memukulnya hingga dua buah giginya tanggal!”
Kau harusnya masih bisa memberikan aku toleransi, kau tahu. Dia tidak tewas, dia hanya menderita trauma air. Hidrophobia mungkin namanya. Demi Marvia, dia memang brengsek, kau juga tahu itu. Istriku yang kucintai dia goda tiap mereka bertemu. Dia pikir dia hebat, dia kuasai dunia, karena dia bisa tiap minggu pergi ke salah satu anggota Skulls and Bones dan memintai uang mereka, dasar penjilat murahan sok intelek berwajah buruk rupa, ya, dia, sepupuku itu.
“Aku mematikan rokok. Di tangan istriku. Oke, tidak. Di sudut matanya.”
“Ya, dia buta.”
Betul, aku malu untuk mengakuinya. Aku membutakan mata kirinya. Siapa suruh ia lirik sana-sini saat berpapasan dengan tiap laki-laki? Apa bedanya ia dengan pelacur, melirik seduktif tiap waktu, padahal aku sangat mencintainya. Kau bilang hubungan cintaku tidak sehat? Ah, apa yang kau tahu selain itu? Kau tidak pernah merasakan mencintai maupun dicintai. Kau bukan aku. Kau tidak akan pernah rasakan, apalagi tahu. Cintaku ini takkan pernah bisa didefinisikan, dengan kau komparasikan norma-norma yang berlaku, kau akan jadi semakin tolol di mataku.
“Aku menipu semua klienku. Tak luput satu pun aku tipu.”
Tapi aku bersumpah aku ini akademisi yang intelek! Aku menipu karena aku cerdas dan aku memang lahir untuk menipu, aku pikir begitu. Lagipula aku ini dedesain untuk menipu. Apa masalahmu, ingin membuatku mengakui hal ini? Bukankah semua klienku tidak pernah ada satupun yang merasa tertipu? Apa masalahmu? Mengapa kau sensitif sekali terhadapku? Apa karena kau tidak merasa senang melihat ada makhluk Tuhan yang seperti aku–penipu licin, kaya, sedikit gila, atau apa? Aku masih kurang paham padamu, sampai detik ini aku menulis.
Pertemuan kita yang terakhir itu membuatku mual, tapi aku merasa bahwa kau rekan, yang terakhir ingin menemaniku. Tak hanya itu. Kau begitu setia. Maafkan aku yang selama berpuluh tahun lamanya tidak menyadari adanya dirimu yang selalu mengawasi tiap langkahku, dan kau selalu membicarakanku dengan teman-temanmu yang tidak mungkin aku kenal.
Kau pasti akan menemukan surat ini di tanganku. Sengaja kusimpan dalam kotak besi yang akan kupegang erat nanti. Aku memang menahan-nahan tanganku untuk membakar diri. Tapi aku tidak bisa menahan mulutku untuk menyuruh Marvia yang kini membenciku, untuk memainkan pecahan kaca di sekitar leherku. Indah dan puas pastinya, begitu kata Marvia padaku. Aku menyerah karena aku tidak tahan akan semua interogasi torturalmu.
Selamat tinggal Izrail, kau adalah rekanku yang paling setia dan berkesan. Terima kasih. Kuharap kau bisa tahan jeritan bombastismu, sampai hari akhir.
Category: Literature
















