banner ad
banner ad

Hari Itu Hari Duka

February 10, 2012

 oleh Banyubening

Hari itu hari duka. Senja memudar biru, dengan tamu bertukar lara di rumah bercahaya jingga. Tak remang namun tak juga terang. Memaksakan aura sendu yang terjebak diantara yang semestinya dan iba yang tumpul. Seorang pria berbaring tak bergeming, tak menunjukkan kecewa, dan terbalut santai oleh kain putih di atas tempat beralaskan Batik Jawa. Enam orang anaknya silih berganti menyambut tamu-tamu dan rangkaian bunga berduka cita. Namun, tetap saja tak setimpal dengan jabatan yang pernah disandang di masa mudanya.

Ditengah kerumunan, seorang gadis berusia 21 tahun, berselendang abu-abu, berjalan memasuki teras rumah. Ia berkulit sawo matang dan berparas ayu. Wajahnya mirip dengan pria itu, namun berbeda dengan anak-anaknya. Perlahan ia mengikat rambutnya yang panjang terurai agar tak mengganggu selendang abu-abunya. Kedatangannya disambut ramai ganjil oleh anak-anak dari pria tersebut. Wajahnya tak menunjukkan apa-apa melainkan datar yang mengganjal. Ia datang bersama ibunya yang berjilbab serta dua saudaranya yang tambun yang senantiasa membawa digicam merah. Entah memotret apa, karena rumah itu bukan juga rumah keluarganya.

Nama gadis itu Putri. Putri adalah anak kandung dari pria tersebut. Pria yang diberi gelar pahlawan negara yang di masa hidupnya menerima enam bintang tanda jasa. Tetapi Putri tak pernah mengenal ayahnya. Sekitar tiga tahun yang lalu ia diperkenalkan oleh ibunya kepada ayah yang sebelumnya hanya dapat ia saksikan di televisi. ‘Aku senang banget bisa ketemu sekarang.. dulu aku cuma bisa liat di tv..’ ujarnya setiap kali ditanya perasaannya, tiga tahun yang lalu. Tetapi ayahnya berpikir lain, rindu yang berujung temu memang membawa suka, namun dengan fakta bahwa kasih sayang telah terbuang kurang lebih 18 tahun lamanya, ia tahu bahwa ia harus membayarnya. Maka, ia pun menyekolahkan Putri ke Eropa. Hingga akhirnya, kedatangannya kembali hari itu adalah pertemuan terakhirnya dengan jasad ayahnya. Memorinya untuk bernostalgia dengannya hanya sejumput dibandingkan enam saudara tirinya. Yang menyambut dengan segan, namun tak dapat mengubah fakta. Bahwa ayah mereka sanggup hidup dalam dualisme cinta.

‘Gimana perasaan kamu Putri? Aneh?.. Atau sedih?’ seorang cucu yang sebaya dengan Putri tertarik bercakap dengannya. ‘Masih ngerasa mimpi, aneh ya..’ lirihnya, sambil merangkai bunga perlahan. Namun tak kunjung selesai. Malam semakin menebar pilu hingga akhirnya siang dengan matahari yang seakan bersahabat menggiring waktu ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Jasad lelaki itu digiring oleh satu peleton tentara militer dan sejumlah orang yang serta dibelakangnya menggunakan bus dan kendaraan pribadi.

Sejumlah orang mulai berkomentar, mereka sudah menunggu lama di tempat penguburan sejak pukul 09.00 pagi. Tetapi upacara militer baru bisa dilaksanakan setelah Shalat Zuhur. Laras akhirnya terpasang. Dan moncong senjata serentak diarahkan ke langit biru tak berawan. Begitu peluru dilepaskan, jenazah lelaki itu mulai digiring perlahan menuju tempat persemayaman terakhirnya. Terlihat dari kejauhan orang-orang menunggu di tenda di belakang tempat penguburan. Tak cukup banyak jumlahnya, tak cukup banyak untuk seseorang yang tak awam. Namun, memang sejak tiga tahun terakhir, hidupnya sangat sepi dibandingkan hari-hari kejayaannya. Ia lebih memilih tinggal bersama istri tirinya, yang kemudian, setelah Putri pergi, ia ditinggalkan. Dan akhirnya memutuskan hidup bersama dua orang anak perempuannya yang menjanda.

Penghormatan terakhir terasa begitu cepat, tak banyak yang menangisi kepergian pria itu. Tangis perlahan maupun raut sedih lebih terasa dibuat-buat oleh enam orang anaknya.

Justru tangis nyata tak tertahankan keluar dari mata dari istri anak pria tersebut. Perempuan yang banyak berperan di hari kematiannya. Yang sangat mengetahui ironi tragis hari tua lelaki itu, ketika ternyata tak banyak pelayat datang yang ia pikir layak didapatkannya. Perempuan yang rumahnya dijadikan rumah duka pria itu, bukan rumah dari keenam anak kandungnya.

Di deretan terdepan terlihat Putri, ditemani ibunya. Menunggu tanah subur mengubur jenazah ayahnya. Laras kembali siap, menghadap langit, menunggu komando untuk melepaskan peluru terakhir. Ketika ditembakkan, air mata pun tak tertahankan mengalir cepat di wajah Putri, yang segera ia sapu dengan selendang abu-abu miliknya. Ibunya terlihat mencoba menenangkannya. Mencoba memegang bahu putrinya dan mengusapnya. Namun entah refleks entah disengaja, Dihempaskan cepat tangan ibunya. Seperti menolak untuk ditenangkan oleh duka palsu. Duka yang tak bisa dibandingkan dengan semua orang yang berada disana. Duka nyata. Dan ketika itu, hanya selendang abu-abu yang pantas bersanding dengan dukanya.


Bookmark and Share

Tags:

Category: Literature

Leave a Reply