Surat Untuk Teman
Sudah lama kita tak berjumpa. Apa kabarmu di sana? Berita buruk, kabarku tidak baik. Setiap hari aku terbangun dengan perasaan gelisah, terutama setelah menonton televisi atau membaca berita di koran. Aku tidak tahu denganmu, tapi sebagai orang Indonesia, aku sudah sampai di tahap dimana aku merasa sangat miris. Bukan pesimis, hanya sangat miris.
Ingat hari ini, 4 tahun yang lalu? Ratusan massa berpakaian putih-putih dengan atribut Front Pembela Islam menyerbu Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Tuntutan aksi damai di Monas kala itu sederhana: agar nilai Pancasila dilaksanakan di Indonesia. Ibu-ibu yang tergabung dalam aksi itu berhamburan, menjerit ketakutan, bahkan ada terluka. Ingatkah kamu? Mungkin beberapa dari kita sudah lupa. Namun hari-hari ini rasanya tidak terlalu penting apakah kita ingat atau tidak. Cukup dengan melihat keadaan Indonesia saat ini, kita jadi lebih berduka, karena banyak hal tidak kunjung berubah.
Kekerasan atas nama agama justru kian meningkat di negeri ini. Dari 135 kasus pada tahun 2007 menjadi 244 pada tahun 2011. Tahun 2012? Hm.. Beberapa dari kamu mungkin mendengar pernyataan Menteri Luar Negeri di Sidang UPR PBB 23 Mei lalu. Ia mengaku Indonesia sepenuhnya melindungi kelompok minoritas agama seperti Ahmadiyah. Pernyataan yang aneh. Karena nyatanya sudah ada 30 masjid Ahmadiyah dipaksa ditutup oleh pemerintah daerah. Belum lagi kasus GKI Taman Yasmin dan HKBP Filadelfia yang tak kunjung selesai.
Kenapa pemerintah kita senang memelihara ruang untuk syiar kebencian atas nama agama ya? Menurutmu, pemerintah yang tidak bisa menjalankan fungsinya secara optimal, apakah masih layak disebut pemerintah?
Lalu belakangan ini, aku juga mengamati reaksi masyarakat Indonesia. Aku ingin tahu, apa cuma aku yang merasa miris atau banyak juga yang peduli dan merasa sedih melihat Indonesia hari ini? Aku melihat teman-temanku banyak yang reaktif, terutama di media sosial seperti twitter dan facebook. Pada mulanya aku senang sekali, melihat reaksi teman-temanku sebagai wujud kepedulian mereka. Namun lama-lama aku menemukan sebuah pola, dimana aku turut terjebak di dalamnya, sebuah pola bernama collective amnesia. Hari ini terjadi sesuatu, hari ini kita bereaksi. Besok? Kembali lupa dan tidak peduli. Dan begitulah seterusnya.
Apa mungkin hal ini terjadi karena kita merasa tidak saling terhubung? Ketika saudara kita terluka, dilempar telur busuk, ditimpuk batu, kita tidak merasa terluka? Kalau begitu, apalah arti nasionalisme yang kita agung-agungkan ini? Kamu mungkin bisa bantu aku, teman.
Aku juga takut dengan hanyutnya kita di dalam pola ini. Sering aku melihat kita terjebak dalam empati dan simpati yang semu, dalam pseudo-empathy, pseudo-sympathy. Kita peduli karena kita tahu ada orang yang akan menilai kepedulian kita. Ada yang akan memberi pengakuan, karena kita dapat menunjukkan kepedulian di depan umum. Aku takut kita semakin jauh dengan rasa kepedulian yang tulus. Aku takut kalau semua ini hanya etalase kepedulian untuk memberi nilai tambah pada eksistensi siapapun yang dapat melontarkannya. Aku takut kalau rasa kepedulian kita hanya berhenti sampai di mulut. Bahkan malah jadi roda penggerak mewabahnya amnesia kolektif di kalangan pemuda seperti kita.
Lalu aku berpikir, adakah jalan keluar untuk kekacauan ini? Di tingkat pemerintah, jelas dibutuhkan kepatuhan serta penegakkan hukum. Pemerintah tidak bisa lagi memberikan toleransi terhadap perbuatan melawan hukum. Apalagi dengan cara-cara kekerasan dan mengancam keselamatan, termasuk atas nama agama.
Menurutku pendidikan juga sangat berperan dalam meningkatkan kesadaran bertoleransi antar sesama. Toleransi tidak bisa terwujud dengan hati yang ingin membalas benci dengan benci. Toleransi hanya mungkin, ketika kita berhenti mempersoalkan atribut keagamaan, kepercayaan, ras, dan budaya lalu melihatnya sebagai seorang manusia. Seorang manusia yang setara, sehingga kita akan memperlakukan mereka layaknya kita ingin diperlakukan.
Tapi aku ragu kalau pendidikan di Indonesia mengajarkan nilai toleransi dengan baik. Aku ingat ketika kelas 5 SD, mungkin ada kamu duduk di sebelahku pada kelas agama. Pak guru sedang menjelaskan tentang surga dan neraka. Waktu itu ia berujar di depan kelas, “Siapapun yang bukan Islam agamanya, pasti masuk neraka.” Lalu kuberanikan bertanya kepada pak guru, “Pak, Ibu saya Katolik. Ibuku juga akan masuk neraka?” Lalu pak guru menjawab dengan tegas, “Iyalah!” Aku masih ingat temanku memegang tanganku dan mencegah aku keluar dari kelas lalu kabur dari sekolah. Dan seperti di ruang kelas itu, hatiku sekarang masih terluka. Bukan lagi karena ucapan pak guru, tapi melihat pendidikan yang mematikan kemanusiaan masih terus dilanjutkan.
Aku juga sedih, melihat sekolah malah menjadi pabrik penghasil manusia yang hanya menguasai baca-tulis-hitung. Manusia mekanistis yang menganggap hidup hanyalah sebuah kompetisi, siap menghantam siapapun yang dianggap sebagai musuh. Mereka tak sadar pikiran mereka hanya digunakan negara sebagai objek ekonomi, lalu dipamerkan lewat angka GDP di komunitas internasional.
Menurutmu, apa yang akan terjadi bila kita terus diam melihat pembiaran negara atas tindak kekerasan? Setiap hari yang terlewati dengan diam, bagiku seperti penghinaan atas Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Aku rasa setiap detik dari ketidakpedulian kita seperti mengubur perjuangan para founding parents. Perasaanmu seperti ini jugakah?
Jujur, aku ingin melakukan sesuatu. Dan aku percaya kamu juga. Saat ini, aku memang belum bisa berjanji kepadamu apa-apa. Namun kepedulianku itu akan aku wujudkan dalam kerja dan hidupku. Aku ingin hidup merasakan perbedaan, dan mencoba mencari pemahaman atas kemanusiaan yang melampaui perbedaan. Tanpa benci, tanpa caci maki, namun dengan kekuatan rasio dan empati (belum tahu persis bagaimana tapi aku harap aku sedang berjalan ke arah sana, haha..). Aku ingin bekerja menyuarakan kebenaran. Tak henti menuntut negara menegakkan HAM, melawan kekerasan. Lalu suatu hari membangun sekolah yang mendidik manusia yang saling memanusiakan. Dan alasanku menuliskan ini kepadamu, agar suatu hari ketika aku lupa, entah disengaja atau tidak, kamu bisa mengingatkanku.
Teman, aku sangat menunggu balasanmu. Jangan khawatir, kalau kamu juga takut lupa, kelak aku bisa mengingatkanmu jika kamu membalas tulisan ini. Lagipula, apalah artinya ketika kita meminta negara untuk melawan lupa, tapi kita sendiri sering lupa untuk peduli. Ya?
Jakarta, 1 Juni 2012
Salam dari temanmu,
Rara Sekar Larasati
Tulisan ini juga dimuat di buletin #2 “Lawan Tirani Mayoritas” siap unduh di http://www.sorgemagz.com/?p=1499
Category: Columns

















