1 Mei di Tneedville
Mungkin sebagian dari kita ikut terjebak dalam situasi itu: Jakarta di hari Jumat, ribuan orang bergegas menghambur pulang, jalanan padat mengular panjang. Hari itu langit kelabu seperti biasa, namun kemacetan benar-benar menguji kewarasan warga kota yang sehari-hari biasa ditempa stress. Konon sejak dari gerbang tol Cikarang, tak ada satu kendaraan pun yang bisa bergerak.
Dengan jarak Jakarta-Cikarang sekitar 30 Km, antrian kendaraan memang bisa disebut luar biasa. Bahkan dampak kemacetan hingga terasa di jalan-jalan protokol kota. Tak ayal. di tanggal 27 Januari 2012 itu, banyak dari kita tak puas-puasnya mengumpat di sosial media.
Umpatan itu ditujukan kepada 5.000 buruh jauh di gerbang tol Cikarang sana. Mereka menutup akses tol sejak siang hari. Tujuannya? Menuntut kenaikan upah mereka 200 ribu dari yang diterima setiap bulan. Pantaskah mereka melakukan aksi protes itu? Dengan mengabaikan kepentingan pemakai jalan (terutama mobil), dan memperjuangkan kepentingan mereka? Yang saya tahu, kemacetan itu, umpatan itu dan tuntutan itu berhasil menggemakan suara mereka, meskipun sekejap: “Hey, kami ada!”
Lalu salahkah mereka? Mari kita sejenak jalan-jalan ke Tneedville, kota imajinasi Dr. Seuss yang jenius. Alkisah di kota itu, orang sudah sama sekali melupakan keberadaan pohon. Di jalan-jalan dipasang pohon buatan yang bisa menyala warna-warni sebagai penghias belaka. Untuk mendapatkan udara segar, mereka harus membeli tiap galon dari perusahaan yang khusus menjual udara bersih. Meskipun mereka harus terus tergantung pada pasar jual-beli udara, semua orang tampak bahagia. Selama udara masih tersedia dan dijual di pasaran, tak ada yang perlu dikawatirkan.
Di kota Tneedville, orang memang sudah terlalu lupa, bahwa dahulu udara bersih itu gratis untuk siapa saja. Dengan menanam pohon tak perlulah kita mengeluarkan uang untuk bergalon-galon udara bersih, Kelupaan itu muncul bukan karena semua orang tiba-tiba terantuk batu dan terkena amnesia. Seolah secara tidak sadar mereka semua dibuat lupa.
Cerita tentang Tneedville itu ada dalam buku Dr. Seuss berjudul The Lorax. Tahun ini buku itu dibuat versi filmnya yang juga sangat menarik. Dikisahkan semua pepohonan hilang ketika ada pemuda bernama Once-ler yang menebang seluruh hutan untuk memenuhi bahan baku pabrik yang dibuatnya. Demi keuntungan yang dibuat, tak perduli lagi ia akan peran penting pohon untuk menjaga udara bersih. Di tengah keruhnya udara kota, ada orang lain yang melihat peluang bisnis baru untuk menjual udara. Perlahan-lahan semua orang lupa akan keberadaan pohon. Perlahan-lahan mereka percaya bahwa membeli udara bersih itu lumrah adanya. Segala kelupaan itu bermula ketika yang privat berhasil menaklukan yang publik dan yang komun.
Cerita tentang Tneedville memang sepertinya tak terasa asing betul bagi kita. Membeli bergalon-galon air bersih untuk diminum memang bukan hal yang istimewa di zaman modern ini. Atau di kota besar, untuk mendapatkan udara bersih kita harus punya uang untuk membeli vila mewah di pegunungan sana. Mungkin nenek moyang kita akan mengernyitkan dahi melihat kita membeli sesuatu yang sempat gratis dan bisa diambil kapanpun. Tapi nenek moyang kita memang pantas bingung, bahkan kalau perlu mentertawakan juga. Selamat datang di zaman ketika banyak gagasan baik sengaja (dibuat) terlupakan.
Kelupaan yang sama terjadi, ketika dengan seluruh kenyamanan sosial media, kita mengeluhkan kemacetan akibat demo buruh. Para pekerja itu, dan apa yang mereka lakukan dengan segala kerja dan protes mereka, seolah-olah ada di luar diri kita. Kita merasa tidak ada urusannnya antara tuntutan buruh itu dan kepentingan kita sehari-hari. Mungkin kita juga merasa bahwa sepatu yang kita pakai, baju yang kita kenakan, makanan yang kita makan atau mobil yang kita tumpangi muncul begitu saja secara ajaib di toko. Yang kita butuhkan hanya uang untuk membelinya.
Jauh-jauh hari Marx sempat menyebut fenomena ini sebagai pemujaan komoditas (fetishism of commodities). Kita sering melihat sehelai baju misalnya, tak lebih dari kumpulan benang yang dipintal lalu dijahit dan siap kita pakai. Yang terlupakan adalah ada interaksi sosial yang diperlukan (kerja seorang buruh) dibalik pengerjaannya. Nilai kerja inilah yang membuat kita tak perlu susah-susah belajar menjahit untuk membuat baju kita sendiri atau menggotong kompor kemanapun untuk menyediakan makan siang kita. Nilai kerja ini juga yang membuat kita tidak bisa hidup bersendirian.
Atas nama nilai kerja itu pula, pada tiap tanggal 1 Mei ribuan pekerja akan berbaris memenuhi jalanan. Mereka, yang selama ini bekerja bak para peri-rumah dalam kisah Harry Potter (kita hanya tahu barang jadi, namun tak tahu siapa atau apa pentingnya mereka), ingin memperlihatkan eksistensi mereka. Tanggal 1 Mei memang hanya satu hari diantara 365 hari lainnya dalam satu tahun. Gerakan dalam satu hari ini tidak akan secara otomatis menjadi gerakan masif perebutan alat produksi seperti impian kaum Marxist. Namun dalam satu hari ini, para pekerja berhak mendapatkan apa yang disebut Ernesto Laclau sebagai pengakuan (recognition) selain redistribusi (berhubungan dengan kesejahteraan) yang tak kalah pentingnya. Dan gerakan untuk mendapatkan pengakuan semacam teriakan “Hey, kami ada!” ini penting untuk melawan kelupaan ala Tneedville: lupa bahwa tiap pekerja membutuhkan pengakuan, gaji yang layak, tunjangan yang memadahi, perlakuan yang manusiawi. Bahkan lupa bahwa diri kita sendiri juga seorang pekerja atau calon pekerja yang membutuhkan hal-hal tersebut.
Dengan tulisan ini saya bukannya ingin menghimbau saudara sekalian untuk tidak mengeluh pada tanggal 1 Mei. Justru sila dengan sangat jika anda pikir itu bisa membawa sedikit manfaat. Mengeluh dengan seluruh tenaga yang anda miliki kalau perlu. Namun percayalah, usaha keluhan sosial media anda akan sia-sia. Karena bagaimanapun anda tak akan pernah bisa kabur dari relasi sosial yang membuat kita membutuhkan para pekerja. Seperti halnya Tneedville yang membutuhkan pohon-pohon.
Bandung, 1 Mei 2012
Bramantya Basuki

















Hey, Kami Ada!
bagus sekali mas bram
*main iphone, buka path* <– lupa yg bikin iphone siapa, jgn-jgn buruh anak