Media Sosial Bukan Cuma Buat Curhat
Oleh: Lalola Easter Kaban
Hari Sabtu, 14 April 2012 lalu, saya bersama beberapa kawan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti acara Festival Jurnalisme Warga: Kencangkan Suaramu yang diselenggarakan oleh Tempo Institute. Bertempat di Museum Nasional di Jalan Merdeka, acara ini diselenggarakan untuk mewadahi komunitas-komunitas berbasis kesamaan minat. Inti dari acara ini adalah untuk memaksimalisasi media sosial seperti blog, twitter, dan facebook, bahkan instagram sebagai media penyampaian inspirasi, terutama yang berkenaan dengan ruang publik.
Acara ini cukup menarik, mengingat media sosial sudah jamak dipergunakan oleh banyak orang untuk memudahkan interaksi dan penyebaran informasi, terutama melalui dunia maya. Pembicara seperti Burhan Sholihin (Redaktur Pelaksana Koran Tempo), Wicaksono (pemilik akun @ndorokakung, dan Redaktur Pelaksana Majalah Tempo), Ignatius Haryanto (Direktur Eksekutif LSPP (Lembaga Studi Pers dan Pembangunan), serta beberapa fotografer profesional seperti Gunawan Wicaksono, Amston, dan Bekti (Ketiganya fotografer jurnalistik Tempo) turut mengisi acara workshop tentang jurnalisme warga ini. Kritik utama dari para pemateri acara ini adalah, betapa media sosial lebih sering menjadi ajang curhat teu puguh, dibandingkan menjadi media penyampaian aspirasi dan penggalang kesadaran masyarakat. Selain itu, jurnalisme warga juga menjadi backbone dari jurnalisme mainstream dalam menopang isu lokal yang kerap luput dari media mainstream.
Perihal jurnalisme itu sendiri dibahas secara mendalam. Meski basis dari jurnalisme warga adalah warga itu sendiri, tapi standar-standar praktik jurnalisme pun harus tetap diterapkan. Bukan dalam bentuk yang sulit, karena Wicaksono sendiri menegaskan bahwa yang terpenting adalah para pelaku jurnalisme warga melakukan verifikasi terhadap yang bersangkutan, dan mencari sumber yang kredibel untuk dimintakan pendapat. Untuk ini, pada pameran festival, ditampilkan rangkaian komik-komik unik karya Eko S. Bimantara, ilustrator dari Serrum Art Community yang secara kocak menjabarkan tips dan trik sederhana untuk menjadi jurnalis warga yang handal.
Para pembicara menekankan bahwa jurnalisme warga memiliki masa depan untuk menggalang kesadaran masyarakat dan membantu memberikan aspirasi dalam pengambilan keputusan publik. Koin untuk Prita Mulyasari dan Koin untuk Bilqis menjadi contoh-contoh keberhasilan media sosial dan jurnalisme warga dalam menggalang kesadaran dan memengaruhi kebijakan publik.
Selain para komunitas yang turut berpartisipasi seperti Sorge Magz (Bandung), Jatiwangi Art Factory (Cirebon), Forum Lenteng (Lenteng Agung), Komunitas Jibreug Cisitu (Bandung), dan beberapa komunitas lain, acara ini turut dimeriahkan oleh Kunokini, Paroeh Waktoe, Efek Rumah Kaca, dan Tika and The Dissidents. Acara ini berlangsung selama dua hari, kecuali konsumsi yang kurang memuaskan (ea..), saya pribadi merasa tujuan acara ini tercapai, karena saya belajar untuk tidak sekadar curhat galau teu puguh lagi di akun twitter dan facebook (sekarang curhat saya sebisa mungkin ada reportasenya). Karena kontribusi sekecil apapun, bisa ciptakan perubahan besar di masa datang.
Lalola Easter Kaban dapat dikontak di @lolakaban (twitter) atau lalolakaban@rocketmail.com. Selain berkecimpung di bidang jurnalistik, sekarang ia disibukkan dengan urusan pindah-pindah kost karena ingin memelihara anjing.
Foto oleh Rara Sekar, fotografer yang kini giat di Kontras, dan di proyek akustik nelangsa-pop Banda Neira.





















