Live Review: Mogwai
Hujan membasahi pakaian saya ketika tiba di Dago Tea House. Cuaca dingin menghinggapi, hanya ejekan dari seorang teman terhadap Sweater Rajut bermodelkan Turtle Neck yang saya pakai membuat suasana sedikit hangat. Yang lain pun merasakan dingin yang sama, sabar menunggu untuk menyaksikan Mogwai, band Post-rock asal Skotlandia.
4 Desember 2011, Bandung menjadi kota terakhir jelajahan mereka dalam rangka Asian Tour. Antusiasme penonton terlihat dengan habisnya tiket ini dan calo yang terus menanyakan ada tiket lebih atau tidak. Tetapi sejujurnya saya pribadi tidak terlalu bersemangat untuk menonton Band yang sudah malang melintang sejak tahun 1995 ini. Ada sedikit kekhawatiran mereka akan tampil mengecewakan seperti The Radio Dept yang sempat mampir ke Bandung tahun 2008.
Memang mereka mengusung hal yang sedikit banyak berbeda, tetapi rasa takut tetap ada. Apalagi saya mesti merogoh kocek sampai 200 ribu rupiah. Tapi, mari kita buktikan semuanya setelah menonton.
Masuk ke dalam venue yang sudah sangat lama tidak saya kunjungi (karena tidak menyaksikan Polyester Embassy beberapa waktu sebelumnya), tempat masih sepi dan saya hanya melirik-lirik gadis manis -yang siapa tahu sedang sendirian-. Menunggu sekitar 30 menit, L’ Alphaalpha band post-rock asal Jakarta tampil sebagai pembuka. Cukup menghibur dan membuat suasana kembali hangat.
Tak lama setelah alat-alat dipersiapkan para punggawa Mogwai muncul, Stuart Braithwaite menyapa dengan aksen Skotlandia yang kental. Mereka yang lelah menunggu dan duduk-duduk di venue sembari mengotak-ngatik Blackberry kembali bersemangat.
Lagu yang dijadikan pembuka pun tak tanggung-tanggung: White Noise. Cukup memunculkan tepuk tangan membahana. Semangat kembali muncul ketika lagu-lagu lainnya seperti I’m Jim Morrisson, I’m Dead, Rano Pano, San Pedro, Mexican Grand Prix, dan How to be a Werewolf dibawakan.
Visualisasi yang ditampilkan pun tak kalah menarik, membuat gadis di sebelah saya berteriak histeris tanpa henti. Ditutup dengan Mogwai Fear Satan dilanjut We’re No Here dan efek cahaya yang waw.
Akhir acara, setelah lagu-lagu bonus tuntutan penonton selesai, saya yang sebelumnya lemah lesu datang ke venue tak lagi begitu. Apa yang saya khawatirkan tidak terjadi. Penampilan, visualisasi, efek cahaya, dan suara yang klop lengkap untuk memuaskan penonton yang ada.
Satu yang saya sesalkan: lupa membawa Ear Plug. Sound begitu dahsyat. Walhasil hingga esok pagi suara “Ngiiiiiiiiiiing” terus terdengar dalam telinga saya.
(Egi Primayogha)

















Wah mantep reviewnya , lengkap bgt
Hehehe
Kmaren pgn nnton tp msh baru jga suka post rock
Tkutnya cma duduk2 nnton aj
Hehehe
Btw itu penonton bnyak yg nnton ?
Sold semua tiketnya ya ?
Thumbup
Thanks reviewnya